Para ahli Taiwan khawatir bahwa Tiongkok dapat memutus koneksi internet pulau tersebut dengan menghancurkan kabel bawah laut.

Lembaga Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional, Institute for National Defense and Security Research, sebuah lembaga think tank yang didanai oleh pemerintah Taiwan, menerbitkan penelitian terkait keamanan siber dalam buletin bulanan terbarunya tentang masalah pertahanan.

Tzeng Yi-suo, penjabat direktur Institute of Cyber Warfare and Information Security di dalam think tank tersebut, mengatakan bahwa Tiongkok dapat meluncurkan serangan siber di Taiwan melalui dua cara. Salah satunya adalah menyabot langsung kabel bawah laut yang menghubungkan internet Taiwan dengan seluruh dunia. Kabel-kabel ini, diletakkan di dasar laut dengan kedalaman kurang dari 300 meter, memiliki empat stasiun pendaratan di Taiwan, menurut penelitian yang dipublikasikan pada 10 Januari.

Rezim Tiongkok menganggap Taiwan bagian dari wilayahnya dan tidak pernah meninggalkan penggunaan kekuatan militer untuk menyatukan Taiwan dengan daratan, terlepas dari kenyataan bahwa Taiwan adalah negara yang merdeka secara de facto, dengan pemerintah, militer, dan mata uang yang dipilih secara demokratis.

“Kemungkinan Republik Rakyat Tiongkok merusak kabel bawah laut dan infrastruktur terkait yang menghubungkan Taiwan dengan dunia luar tidak boleh diremehkan atau diabaikan oleh komunitas internasional,” kata Tzeng dalam laporan bulanan.

Selain itu, Tiongkok dapat menekan Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN), sebuah organisasi nirlaba yang mengawasi domain internet di seluruh dunia, untuk mengubah domain root Taiwan .tw (dot tw) menjadi .cn (dot cn) milik Tiongkok.

Perubahan domain root tidak hanya secara langsung mempengaruhi nama domain Taiwan di komunitas jaringan internasional, tetapi yang lebih penting, Tiongkok akan dapat membajak “Border Gateway Protocol,” sehingga semua data yang masuk dan keluar meninggalkan Taiwan dapat dikumpulkan dan dipantau, kata Tzeng.

Dalam laporan 27 Januari oleh majalah Jepang, Nikkei Asia Review, Tzeng juga berbicara tentang kemampuan Tiongkok untuk ikut campur dalam pemilihan melalui internet, sebagaimana dicontohkan oleh subversi Beijing pada 24 November 2018, pemilihan di Taiwan.

Tiongkok menggunakan Taiwan seperti laboratorium untuk menguji dan menyempurnakan taktik-taktik perang siber dan propagandanya, kata Tzeng.

Saat ini, Tzeng mengatakan kemampuan Tiongkok untuk memengaruhi politik AS tidak sebagus Rusia. Akan tetapi, “ketika mereka mengumpulkan pengetahuan dan menguji algoritme mereka, saya pikir dalam dua tahun, kita mungkin akan melihat Tiongkok memiliki kemampuan untuk menggunakan alat siber untuk melakukan intervensi dalam pemilihan AS,” kata Tzeng, pada waktunya untuk pemilihan presiden 2020.

Jessica Drun, seorang analis senior di SOS International, sebuah think tank yang berbasis di Washington, juga sampai pada kesimpulan yang sama dalam laporan November. Dia menyebutkan bahwa Tiongkok telah menunjukkan kemampuannya dengan cara mempengaruhi media sosial Taiwan. Ada gelombang berita palsu dan rumor-rumor internet selama pemilihan lokal di Taiwan, yang bertujuan untuk mempengaruhi hasil pemilu demi kandidat-kandidat politik yang pro-Beijing.

“Kampanye disinformasi Tiongkok melawan Taiwan dapat digunakan sebagai cetak biru melawan negara-negara demokrasi lainnya, khususnya dalam menebarkan perselisihan yang lebih besar antar segmen populasi,” kata Drun kepada Nikkei. (ran)

Video pilihan:

Kecewa Satu Negara Dua Sistem Tiongkok, Warga Hongkong Ramai ramai Migrasi

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds