Lebih dari 12.000 botol plasma darah yang tujuannya untuk memberikan perawatan kesehatan yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Tiongkok setelah dites positif mengandung antibodi HIV, menyebabkan kegemparan di kalangan masyarakat Tiongkok.

Batch (jumlah yang dihasilkan sekaligus) imunoglobulin untuk penggunaan intravena tersebut diproduksi oleh Shanghai Xinxing Medicine Co.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengungkapkan penemuan itu ketika mengeluarkan pemberitahuan pada 5 Februari, menuntut semua rumah sakit segera menangguhkan penggunaan imunoglobulin yang terkena dampak tersebut. Ia juga menginstruksikan para profesional medis untuk memantau semua pasien yang telah dirawat dengan menggunakan batch yang terkena dampak.

Perawatan imunoglobulin intravena dapat membantu pasien yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau penyakit lain untuk melawan infeksi.

Menurut pemberitahuannya, pusat pengendalian penyakit di Provinsi Jiangxi pertama kali mendeteksi antibodi HIV dari batch produk plasma tersebut dan telah melaporkannya ke Komisi Kesehatan Nasional. Ia tidak memberikan penjelasan tentang bagaimana kemungkinan plasma terkontaminasi.

Pihak berwenang juga mengklaim bahwa tidak ada pasien yang dilaporkan terinfeksi HIV sejauh ini.

Namun media Tiongkok Economic Observer melaporkan 6 Februari bahwa seorang pasien bayi di Provinsi Jiangxi ditemukan positif HIV. Dokter, dalam upaya melacak sumber infeksi HIV, menemukan hal itu terjadi sejak menerima suntikan imunoglobulin yang diproduksi oleh Shanghai Xinxing.

Menurut China Business Journal, ada total 12.226 botol dalam batch tersebut, masing-masing botol berisi 50 mililiter plasma, dengan tanggal kedaluwarsa 8 Juni 2021. Batch-batch tersebut sebelumnya diperiksa dan disetujui oleh BPOM Kota Shanghai, yang belum membuat pernyataan publik.

Wang Yuedan, wakil direktur Departemen Imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Peking, mengatakan kepada China Business Journal bahwa keberadaan antibodi HIV umumnya dianggap sebagai tanda infeksi HIV. Wang curiga kontaminasi itu berasal dari para pendonor plasma darah.

Menurut situs web Shanghai Xinxing, perusahaan ini didirikan pada Agustus 2000 oleh perusahaan induknya, Grup Xinxing yang dikelola negara, yang secara langsung di bawah pengawasan Dewan Negara Tiongkok, otoritas seperti kabinet. Pada tahun 2009, Grup Xinxing direorganisasi untuk menjadi bagian dari China General Technology Group Co.

China General Technology Group juga secara langsung dimiliki oleh Dewan Negara. Ia memiliki portofolio bisnis yang mencakup pembuatan peralatan, kontraktor teknik internasional, produksi farmasi, konsultasi teknis, dan real estat.

Situs web Shanghai Xinxing mencatat bahwa ia berasal dari dua pos donor darah apheresis, satu di Kota Huaihua di Provinsi Hunan, dan satu lagi di Kabupaten Yugan, Provinsi Jiangxi. Apheresis adalah jenis donor darah khusus yang memungkinkan pendonor untuk memberikan komponen darah tertentu, seperti trombosit atau plasma. Kedua pos donor darah tersebut memiliki kapasitas mengumpulkan 70 ton plasma setiap tahun.

Epidemi AIDS Tiongkok tahun 1990-an dipicu oleh sejumlah petani miskin yang terjangkit penyakit ini setelah menggunakan jarum yang terkontaminasi untuk menjual plasma darah mereka. (ran)

Video pilihan:

Kasus HIV AIDS Baru Melonjak di Tiongkok

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds