Moskow — Pengadilan regional di Rusia barat pada 6 Februari 2019 menjatuhkan hukuman enam tahun penjara bagi seorang tokoh komunitas Jehovah’s Witnesses atau Saksi Yehowa Kristen keturunan Denmark. Ini merupakan tindakan keras paling keras terhadap kebebasan beragama di Rusia dalam beberapa tahun terakhir.

Pengadilan di Oryol memvonis Dennis Christensen bersalah atas kasus ekstremisme. Insiden hukum ini menjadikannya sebagai Saksi Yehowa pertama di Rusia yang ‘dikirim’ ke penjara. Christensen ditangkap dan ditahan dalam penggerebekan polisi pada pertemuan doa setempat yang dipimpinnya pada Mei 2017.

“Saya tidak setuju dengan penilaian ini, ini adalah kesalahan besar,” kata Christensen kepada wartawan setelah vonis pengadilan di kota Oryol.

Istrinya, Irina Christensen menambahkan, “Saya sangat sedih bahwa hal seperti itu terjadi di Rusia, sangat menyedihkan. Hal yang sama bisa terjadi pada kita semua.”

Putusan itu disambut dengan kekhawatiran di seluruh dunia termasuk dari Kedutaan Besar AS, yang menyatakan keprihatinannya dan mendesak Rusia untuk menghormati kebebasan beragama individu.

Rusia dalam beberapa tahun terakhir telah menggunakan undang-undang ekstremisme yang bias, untuk mengejar pembangkang, aktivis oposisi dan yang paling baru adalah komunitas minoritas agama. Rusia secara resmi melarang Saksi Yehowa pada 2017 dan menyatakan kelompok agama sebagai organisasi ekstrimis.

Hampir 100 anggota komunitas itu menghadapi dakwaan di Rusia, dan lebih dari 20 orang diantaranya tengah berada di penjara sambil menunggu proses persidangan. Sebelum pelarangan, kantor pusat internasional Saksi Yehowa mengklaim ada sekitar 170.000 penganut mereka di Rusia.

Paul Gillies, juru bicara Saksi Yehowa, mengatakan dalam pernyataan via email mengatakan bahwa Christensen tidak melakukan kejahatan apa pun. Dia dihukum hanya karena mempraktikkan iman Kristen.

“Putusan ini mengungkapkan betapa rapuhnya kebebasan beragama di Rusia,” kata Gillies.

Kelompok agama itu mendapat secercah harapan pada Desember 2018, ketika Presiden Vladimir Putin secara terbuka berjanji untuk memeriksa penganiayaan yang dilaporkan terhadap penganut Saksi Yehowa. Putin menyebut tuduhan ekstremisme terhadap penganut agama itu adalah omong kosong.

Tetapi juru bicara Putin, Dmitry Peskov, ketika ditanya tentang kasus tersebut setelah putusan, mengaku tidak dapat mengatakan apakah Putin telah menyelidiki masalah ini. Dia juga mengatakan tidak dapat berkomentar mengenai putusan 6 Februari tersebut.

Juru bicara Kedutaan Besar AS, Andrea Kalan menyatakan keprihatinannya.

“Sangat prihatin dengan hukuman enam tahun yang dijatuhkan pada penganut Saksi Yehowa, Dennis Christensen,” tweetnya. “Kami setuju dengan Presiden Putin bahwa menganiaya orang-orang yang percaya, pada ajaran yang damai adalah omong kosong, dan menyerukan kepada Rusia untuk menghormati kebebasan beragama.”

Amnesty International mengatakan bahwa mereka menganggap Christensen dan penganut Saksi Yehowa lainnya yang diadili sebagai tahanan, adalah tidak bersalah.

Pengacara Christensen, Anton Bogdanov mengatakan bahwa Dia kemungkinan akan mengajukan banding dalam waktu 10 hari setelah membahas masalah tersebut dengan kliennya.

“Pria itu dijatuhi hukuman enam tahun di balik jeruji besi, karena dia, bersama dengan orang-orang lain yang memiliki kepercayaan agama yang sama, membaca Alkitab dan menyebarkan pandangan agama mereka,” kata Bogdanov. (THE ASSOCIATED PRESS/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds