Erabaru.net. Kita telah melihat terlalu banyak tragedi dari kecil hingga dewasa, tetapi saya pikir tragedi terbesar mungkin saat kita sebagai anak tak sempat lagi melihat orangtua kita untuk terakhir kalinya di dunia.

Antara orangtua dan anak-anak, tidak peduli seberapa besar kesalahpahaman, saya pikir hal itu tidak seharusnya menjadi musuh. Dihimbau pada mereka selaku anak-anak dari kedua orangtuanya, jangan sampai meninggalkan penyesalan pada diri sendiri, berbaktilah pada kedua orangtuamu selagi mereka masih sehat dan ada di dunia.

Ayahku sudah meninggal karena kecelakaan kerja saat aku baru berusia 5 tahun. Ibuku sangat keras terhadapku, sejak kecil aku ingat anak-anak sebayaku pergi bermain dengan ceria, sementara aku selalu tinggal di rumah, kalau bukan mengerjakan PR pasti membantu ibu membereskan pekerjaan rumah tangga.

Para tetangga juga kerap menasehati ibuku, agar memberi kesempatan padaku menikmati masa kecilnya, membiarkan aku pergi bermain dan lebih banyak menjalin persahabatan dengan anak-anak lain.

Namun, sikap keras ibuku yang kolot sama sekali tak menggubrisnya, sebaliknya justru semakin keras (mendidik) lagi padaku, walaupun aku sangat kesal, tapi entah mengapa, pada waktu itu, aku sedikit bisa memahami dengan sikap ibu padaku.

Perlahan-lahan aku naik ke sekolah menengah pertama, dan itu adalah masa akil balik seorang remaja. Aku seakan melampiaskan semua tekanan yang terpendam dalam hati selama lebih dari satu dekade dulu.

Aku selalu melawan atau membangkang perintah ibu. Ibu menyuruhku mengerjakan PR di rumah, tapi aku justru sengaja melawannya, tanpa menoleh lagi langsung berlari keluar bermain dengan teman-teman.

Aku juga selalu berpura-pura tidak mendengar ketika ibu menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Lagipula, aku juga sudah besar, ibu tidak kuat melawanku. jadi ibuku juga tidak berdaya terhadapku.

Menghadapi aku yang keras kepala, ibu mengambil langkah ekstrim, yakni aku tidak diberi uang saku. Tapi aku yang pembrontak tidak menyerah begitu saja.

Aku langsung berhenti sekolah dan bekerja. Ibuku langsung telepon saat tahu hal itu, tapi nadanya masih dingin. Ibuku berkata di ujung telepon, : “Kalau sudah merasa hebat jangan pulang lagi.”.

Diancam seperti itu, Aku justru semakin keras, Aku membalasnya dengan jawaban dingin “Aku juga tidak akan pernah pulang lagi.”

Setelah bekerja selama beberapa tahun, dan merasakan dingin maupun hangatnya sikap masyarakat, saya benar-benar bisa memahami kerasnya didikan ibu terhadapku, dan aku sangat bersyukur atas kekerasan didikan ibu terhadapku semasa kecil.

Aku mulai mencoba menelepon ibu dan mengirim uang untuknya setiap bulan, tentu saja, nada suara ibu masih dingin seperti dulu, tetapi di telingaku justru terdengar hangat

Sampai 3 tahun kemudian, saat aku pulang menjenguk ibu di kampung, aku terpaku seketika saat memasuki rumah, rumah itu kosong dan tidak ada tanda kehidupan sedikit pun.

Tetangga sebelah memberitahuku, :“Dia sudah tiada.”

Ternyata ibu sudah meninggal karena penyakit parah setahun yang lalu. Karena takut aku mencemaskannya, dia meminta tetangga untuk mengangkat teleponku dan menyimpan semua uang yang aku kirim untuknya.

Aku seketika merasa kehilangan sososok orang yang paling welas asih di dunia ini, aku berlutut dan menangis.

Jika aku diberi kesempatan sekali lagi, aku pasti akan mendengar kata-kata ibu, tidak akan putus sekolah, dan pasti akan cepat pulang untuk menjenguk ibu. Harga diriku yang memalukan itulah yang membuatku bahkan tidak sempat lagi melihat ibu untuk terakhir kalinya.

Saat ingin berbakti pada orangtua, sayangnya sudah terlambat, sosok orang yang welas asih itu sudah tiada. Semoga teman-teman yang membaca kisah ini tidak mengalami hal yang sama dengan yang aku alami.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds