Erabaru.net. Aku dan suami saling kenal semasa sekolah, dan selama lebih dari enam tahun kami selalu bersama. Orangtuaku mengelola sebuah perusahaan keluarga, sementara ayah-ibu mertua adalah pengusaha barang-barang kerajinan tangan tradisional yang cukup terkenal di daerah setempat. Bisa dikata kedua keluarga kami lumayan makmur secara ekonomi.

Setelah menikah, aku dan suami membeli rumah baru, walaupun bisa tinggal di rumah ibu mertua, tapi aku merasa agak canggung tinggal satu atap bersama mertua.

Tempat tingal kami tidak jauh dari keluarga suamiku, sekitar lima atau enam kilometer perjalanan, untuk menghindari keteransingan hubungan keluarga, aku dan suami biasanya berkunjung ke rumah mertua setiap pekan untuk sekadar makan bersama.

Aku dan ibu mertua tidak suka banyak bicara, dan tidak suka menghabiskan waktu terlalu lama dengan ibu mertua. karena beberapa klien yang sering berhubungan bisnis denganya adalah orang-orang yang manis di bibir dan itu menjengkelkan menurutku.

Karena itulah ibu mertua terbiasa dengan karakter seperti itu. Tutur kata dan nada bicaranya selalu terdengar angkuh, jadi aku merasa sangat tidak nyaman bersamanya.

Beberapa waktu yang lalu adalah peringatan pertama pernikahan ku, sehari sebelumnya, ibu mertua meminta aku dan suami untuk makan bersama di rumahnya.

Tiga hari sebelumnya aku telah mendiskusikan dengan suami untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang romantis. Dan aku telah menelepon ibu mertua bahwa kami tidak bisa ke rumahnya pada hari itu, namun, ibu mertua tidak senang.

“Untuk apa mengikuti gaya orang asing dengan hal-hal seperti itu”?, katanya dengan nada seperti memberi kuliah. “Kalau kalian tidak datang, lain kali juga gak usah datang lagi!”

Aku sendiri agak emosi pada saat itu, dan bertengkar dengannya.

“Memangnya berapa usiamu sekarang, masa membandingkannya dengan kami. Anda tahu apa itu romantisme? Apalagi tempatnya juga sudah kami pesan, jadi kami tidak akan datang,” kataku dan ibu mertuanya langsung menutup telepon tanpa bicara lagi.

Belakangan, suami berdiskusi denganku, dan memutuskan pergi ke rumah ibu mertua, agar tidak semakin runyam di kemudian hari. Suami ku berulang kali berpesan agar aku tidak membuat marah ibunya nanti saat dirumahnya.

Sebenarnya, aku juga agak menyesal setelah mengatakan hal itu, aku merasa nada bicaraku sepertinya agak keterlaluan, dan aku pun setuju dengan saran suamiku.

Sebelum ke sana, aku secara khusus memilih beberapa hadiah yang mahal dan indah untuk ibu mertua. Aku akan bersikap manis setibanya di rumah mertua sambil memberikan hadiah yang sudah kusiapkan untuknya. Dengan begitu, ibu mertua juga tidak akan bersikap ketus meski mungkin masih kesal dengan ucapanku tempo hari.

Kebetulan saat ke rumah ibu mertua bertepatan dengan waktu makan malam. Ibu mertua tampaknya senang ketika melihat kami datang, hanya saja aku merasa sedikit agak aneh ketika dia melirikku sekilas.

Seusai makan, ibu mertua tidak menyinggung prihal telepon waktu itu. Ia berbicara kepadaku ketika aku membantunya membereskan meja makan,

“Xiao Yen, aku membelikan sebuah tas untukmu, tunggu sebentar ya ibu ambil, mudah-mudahan kamu suka,” katanya lembut.

Ibu mertua bukan saja tidak menyalahkan atas ucapkanku di telepon tempo hari, sebaliknya dia malah memberiku hadiah. Perasaanku tiba-tiba terasa hangat dan menjadi lega, dan kalau bukan karena aku masih merasa serba salah, mungkin aku akan langsung memeluknya.

Tas itu dibungkus dalam sebuah kotak kardus. Aku tidak enak langsung membukanya di hadapan ibu mertuaku, dia juga tidak memintaku membukanya. Tak lama kemudian, kami mohon pamit dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku pun tidak sabar lagi untuk membuka kotak itu.

Tas di dalam kotak itu membuat ku kecewa, karena model tas itu cocok untuk orang seusia ibu mertua. Hati ku seketika menjadi tidak senang, apa ada sesuatu dibalik maksud baik ibu mertua ? . Pasti dia masih marah perihal telepon waktu itu, gumamku sambil merenung. Jadi aku lempar tas yang usang itu ke dalam lemari pakaian.

Kira-kira satu minggu kemudian, kakak sepupuku bertamu ke rumah. saat sedang mengobrol santai dengannya, tiba-tiba aku teringat tas dari ibu mertuaku, karena aku sendiri tidak suka, jadi aku memberikan tas itu kepadanya, dan tak disangka, ternyata dia sangat suka, aku benar-benar tidak tahu seleranya seperti itu.

Malamnya saat tiba di rumah, dia mengirim beberapa pesan pendek, “Dasar ceroboh kamu, hadiah dari ibu mertua untuk ultah pernikahanmu lupakamu ambil ya?”

Lalu kakak sepupuku mengirim beberapa gambar kalung yang indah dan sebuah gelang giok hijau, jelas itu adalah barang mahal.

“Aku tidak tahu kalau ada barang di dalamnya.” Aku buru-buru membalas pesan pendeknya.

“Oh, besok aku akan antar ke rumahmu, kamu bisa melihatnya sendiri.” Balas pesan kakak sepupu.

Keesokan paginya, dia mengembalikan tas itu kepadaku. Saat kubuka tampak sebuah kartu ucapan di samping kalung dan gelang giok.

“Selamat ulang tahun pernikahan pertama! Nada bicara ibu waktu itu memang agak keterlaluan. Hadiah ini sudah ibu siapkan sebelumnya. Saat pernikahan kalian, ibu tidak membelikan apa-apa untukmu. Ibu harap kamu akan suka dengan hadiah ini.” Tulis ibu mertuanya dalam kartu ucapan.

Setelah membaca kartu ucapan ibu mertua, aku terpaku sesaat, dan gejolak perasaanku tak menentu, antara senang, bahagia sekaligus merasa bersalah, aku benar-benar sangat malu saat membayangkan hal itu.

Saat itu juga aku segera telepon ibu mertuaku. “Bu, aku minta maaf!” kataku lirih sambil menahan isak tangis.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds