Erabaru.net. Aku dibesarkan oleh orangtua tunggal setelah ibuku meninggalkan ayahku karena terpikat pria lain. Meskipun ayahku melakukan yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ada banyak pasang surut.

Aku dirawat oleh kakek dan nenek ketika ayah pergi bekerja, dan ketika dia pergi aku harus mengerjakan daftar pekerjaan rumah yang panjang. Aku tidak pernah mengeluh karena aku mengerti bahwa kakek nenek sudah tua dan lemah tetapi dengan ini dikatakan, itu tidak mudah.

Aku mengalami kesulitan hidup sejak usia yang sangat muda dan meskipun keluargaku miskin, aku tidak pernah berani membandingkan apa yang saya miliki dengan mereka yang lebih baik daripada aku. Keluargaku hanya memiliki rumah untuk tempat berteduh dan cukup makanan untuk dimakan.

Ilustrasi.

Aku bertemu dengan suamiku ketika aku tumbuh dewasa dan pindah ke rumahnya bersama keluarganya. Saat itulah aku bertemu ibu mertuaku dan aku baru tahu bagaimana rasanya mengalami cinta seorang ibu yang nyata yang berada di luar jangkauanku sampai sekarang.

Karena aku sangat rajin, ibu mertuaku sangat sayang padaku sehingga putri kandungnya merasakan sedikit kecemburuan. Suami iparku telah meninggal sehingga dia pindah kembali ke rumah ibunya dan tinggal bersama kami.

Ilustrasi.

Semuanya baik-baik saja sampai kesehatan ibu mertua mulai memburuk dan dengan kesehatannya yang menurun, dia memutuskan untuk membuat surat wasiat sebelum hal yang tak terelakkan terjadi.

Dan benar, tak lama setelah surat wasiat itu dibuatnya, ibu mertuaku meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Surat wasiat yang ditulisnya menyatakan bahwa harta dan keuangannya akan dibagi menjadi 3 bagian dan diberikan secara merata kepada anak-anaknya sementara ia mempercayakan sebuah guci tanah liat kepadaku.

Aku memang tidak peduli dengan uang atau propertinya, tetapi yang mengherankanku mengapa ibu memberikan guci tanah liat ini.

5 tahun sudah kami ditinggal ibu mertua dan ketika aku sedang membersihkan rumah, aku tidak sengaja memecahkan guci pemberian mendiang ibu mertuaku. Yang mengejutkan aku adalah, di dalamnya tersembunyi sebuah buku tabungan atas namaku dan sebuah catatan yang mengatakan “aku telah menyisihkan uang ini untuk kamu, mungkin tidak banyak tapi mudah-mudahan ini akan membantumu” dan ditandatangani oleh mendiang ibu mertuaku. Di buku itu tertera uang dengan jumah Rp 300 juta.

Ilustrasi.

Aku pun menanggis karena aku tidak tahu mengapa ibu mertua begitu baik padaku sampai seperti ini. Dia tidak ingin anak-anaknya yang lain cemburu, jadi dia menghindari masalah dengan diam-diam menyisihkan sejumlah uang untuk aku!(yant)

Sumber: GoodTimes

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds