Erabaru.net. Wulan sekarang telah berusia 60 tahun. Semasa mudanya, ia dan suaminya bekerja keras membesarkan putra mereka dan telah merasakan pahit getirnya hidup.

Kini, putranya telah tumbuh dewasa dan berkarier di kota. Setiap bulan, Wu Ming putranya selalu mengirim uang untuknya, dan sering meneleponnya untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Suatu hari, Dia perlu uang yang sangat mendesak, dia berencana meminjam uang pada putranya.

Ilustrasi.

Wu Ming, putranya membuka sebuah bengkel mobil. Ada empat orang di bengkelnya, anak dan istrinya berikut dua karyawan bengkel.

Wulan tiba di kota dan tinggal di rumah putranya. Tapi dia tidak bicara mengenai maksud kedatangannya untuk meminjam uang.

Selama bertahun-tahun, ini adalah kali pertamanya Wulan mencari anaknya untuk meminjam uang. Ia tidak membicarakan prihal itu, di satu sisi dia memiliki kepribadian yang kuat, tidak mau terlihat lemah di depan siapa pun. Di sisi lain, dia takut kondisi keuangan putranya tidak memungkinkannya untuk meminjam uang. Jadi dia berencana ke bengkel putranya, mencoba mengamati kondisi (keuangan) putranya.

Siang hari itu, Wulan dan menantu perempuannya menyiapkan makan siang di rumah, kemudian pergi ke bengkel sambil membawa rantang makan siang untuk Wu Ming.

Mencium aroma masakan yang harum, Wu Ming yang lapar segera memakannya dengan lahap. Wulan mengamati bengkel putranya, dia tidak melihat satu mobil pun, baik di dalam atau di luar bengkel. Itu berarti tidak ada uang masuk ke kantong putranya hari ini.

Ilustrasi.

Wulan mencoba mencari tahu keuangan putranya dengan bertanya kepadanya: “Gimana dengan usahamu baru-baru ini? Ibu lihat tidak ada satu mobil pun yang datang?”

Putranya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya dan berkata: “Ah, beberapa hari ini sepi, apalagi usaha ini juga memang selalu sepi dari dulu. Ditambah lagi jalan yang buruk di wilayah ini, aku berencana mencari tempat yang lebih strategis.”

“Mencari tempat yang baru, bukankah akan menghabiskan banyak uang?” Tanya ibunya

“Yah, ganti tempat, oper kontrak dan memang butuh biaya yang cukup banyak …” sahut putranya sambil menghela napas.

Setelah mendengar jawaban putranya, Wulan yang hampir mengutarakan maksudnya akhirnya tertahan di bibirnya. Dia terus mengobrol dengan putranya sebentar, lalu pulang.

Istri Wu Ming yang berada di sampingnya sepertinya bisa menduga ada sesuatu dalam percakapan antara ibu mertua dan suaminya, tetapi dia juga tahu dengan karakter ibu mertuanya, jadi tidak mau banyak bicara. Sementara itu, Wulan yang sudah beberapa hari di kota berencana pulang keesokan paginya.

Sebelum pulang, menantu perempuannya membelikan beberapa buah dan oleh-oleh untuk ibu mertuanya.

Ketika akan berangkat, menantu perempuannya menyelipkan sebuah bungkusan untuk ibu mertuanya lewat jendela mobil, dan sambil tersenyum dia berkata: “Bu, sekarang musim dingin, aku membelikan sepasang sepatu katun untuk ibu, nanti saat sampai di rumah jangan lupa diperiksa lagi baik-baik ya bu.”

Ilustrasi.

Wulan merasa kata-kata menantunya agak aneh, hanya sepatu kok sampai segitu detailnya, yang penting ukurannya pas dan nyaman di kaki, ngapain juga diperiksa lagi, gumamnya bingung.

Setibanya di rumah, Wulan membuka bungkusan itu dan melihat sepasang sepatu katun, dan dia baru tahu ada sesuatu di dalam sepatu itu.

Di dalam sepatu sebelah kiri, terdapat selembar kartu ATM, dan sepucuk surat pada sepatu sebelah kanan. Wulan membuka surat itu dan tampak sederet tulisan menantunya:

“Bu, jujur saja, kami belum pernah melihat ibu menjenguk kami sejak kami menikah. Saat di bengkel, aku mendengar pembicaraan ibu dengan Wu Ming dan aku bisa menduga besar kemungkinan ibu sedang membutuhkan uang, tapi ibu takut kondisi keuangan kami mungkin tidak memungkinkan ibu untuk meminjam, jadi ibu mencoba mencari tahu dengan mengamati kondisi bengkel kami waktu itu.”

“Terus terang saja, keuangan kami memang lagi ketat, biaya kontrak, gaji karyawan dan sebagainya semuanya membutuhkan uang yang tidak sedikit. Tapi, ibu jangan khawatir, uang bakti untuk ibu pasti akan selalu kami siapkan.

“Sebenarnya aku berencana memberikan uang pada ibu malam itu, tapi aku tahu watak ibu yang keras, sangat mungkin tidak akan menerimanya. Jadi, aku menggunkaan cara ini, memasukkan uang ke dalam sepatu, dengan cara ini, ibu pasti tidak sempat menolak lagi. Bu, ada Rp 50 juta dalam kartu ATM itu, pin-nya ulang tahun Wu Ming. Coba ibu gunakan dulu, cukup tidak? Jika tidak cukup, ibu telepon saja, kami akan terus membantu ibu.”

Ilustrasi.

Mata Wulan berkaca-kaca dan tak mampu menahan tangis harunya saat membaca isi surat menantunya.

Orang-orang bilang bahwa lebih baik punya menantu yang pengertian daripada anak yang baik.

Ku rasa hidupku sudah cukup bahagia dan bersyukur punya seorang menantu yang baik dan pengertian, gumam Wulan sambil menatap surat itu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular