Erabaru.net. Ibunya membelikan sebuah rumah baru untuk Chen Wei Wei sebagai hadiah pernikahannya. Saat menerima kunci rumah, saat itu juga Wei Wei dengan gembira mengendarai Audi merahnya dan mengajak ibunya untuk melihat rumah baru itu.

Begitu membuka pintu, sayup-sayup tercium aroma tak sedap dari dalam rumah. ibu dan anak itu mencari sumber aroma tak sedap itu, mereka ke balkon dan terkejut melihat pemandangan di depannya ! Mereka melihat seorang pengemis tua berbaring di balkon dan tertidur pulas sambil mendengkur.

Ilustrasi.

Wei Wei memegang erat tangan ibunya dan mencoba membangunkan pengemis tua itu. “Hei, siapa kamu? Kenapa tidur di rumah kami ? Aku panggil polisi nih!” kata Wei Wei berkali-kali.

Pengemis tua itu seketika bangun dari tidurnya ketika ada yang membangunkannya. “Aduuh non, tolong jangan panggil polisi, saya bukan orang jahat,” kata pengemis itu buru-buru menjelaskan.

Ternyata beberapa hari yang lalu, hujan salju turun dengan lebatnya, dan udara sangat dingin, pengemis tua itu tak tahan lalu mencari tempat berlindung, dia berjalan sambil menggigil dan tanpa terasa sampai di kompleks hunian baru.

Kebetulan, rumah baru WeiWei berada di bagian ujung jalan, dan balkonnya tidak ditutup. Pengemis tua itu lalu merayap ke balkon, lalu meletakkan beberapa potong pakaian lusuhnya di lantai, dan dia pun istirahat sejenak di sana dan tertidur.

Wei Wei mengerutkan kening, sambil berkata “Saya tidak peduli, ini rumah saya, sebaiknya kau segera pergi dari sini!”.

Pengemis tua itu segera membereskan barangnya, dan bersiap untuk pergi. Sementara itu, ibu Wei Wei terus memandang pengemis tua itu sambil berpikir, di luar udara sangat dingin, dan salju turun dengan lebat, akan kemana pengemis itu berlindung kalau mereka mengusirnya.

Ilustrasi.

Karena tak tega, ibu Wei Wei dengan lembut berkata pada pengemis itu,: “Kek, rumah ini untuk sementara tidak dihuni, kalau kakek mau bisa tinggal dulu di sini, nanti baru pergi setelah punya tempat.”

Mata pengemis tua itu terbelalak seakan tak percaya ketika mendengarnya, dan dia membungkukkan badan memberi hormat pada ibu Wei Wei sambil berkata : “Orang baik, orang baik…!”

Dua tahun kemudian, boleh dikata selama masa itu rumah baru itu telah “dikuasai” oleh pengemis tua itu. Selama masa itu juga , ibu Wei-Wei sering ke rumah itu, membawakan sejumlah makanan dan beberapa potong pakaian bekas untuk pengemis tua itu.

Ilustrasi.

Pengemis tua itu sangat bersyukur dan terus mengucapkan terima kasih kepada ibu Wei Wei, dan menatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan orang yang baik hati.

Pengemis tua itu memang bukan orang jahat seperti yang mereka duga, dia memiliki hati yang tahu berterima kasih. Dia langsung menghapal mobil Audi merah milik Wei Wei.

Saat sedang mengemis di luar, dia selalu mengamati dengan seksama setiap saat melihat mobil Audi merah itu, ia menatap dengan seksama apakah ada empat lingkaran dan plat nomor yang dikenalnya.

Suatu hari, pengemis tua itu melihat mobil Wei Wei beberapa kali memutari supermarket, dan akhirnya berhenti di tempat yang agak sepi. Pengemis itu tahu Wei Wei tidak menemukan tempat parkir.

Dia juga tahu bahwa parkir di tempat yang sepi tidak aman, karena kerap ada pencuri yang mencuri mobil dan mencuri barang-barang di dalam mobil. Karena itu, ketika dia melihat Wei Wei memarkirkan mobilnya di sana, dia pun menjaga mobilnya. Tentu saja, semua itu tidak diketahui Wei Wei.

Ilustrasi.

Benar saja, tak lama kemudian, tampak dua pemuda mengamati dan mendekati mobil Wei Wei, kemudian mulai mencongkel pintu mobil. Pengemis tua itu segera berlari ke arah mobil itu sambil berteriak,: “Hei apa yang kalian lakukan?”. Kedua anak muda itu menghardik si pengemis tua untuk tidak mencampuri urusan mereka.

Pengemis tua itu mencoba semampunya menggagalkan aksi mereka, namun, dia dipukul dan ditendang. Tepat pada saat ini, sebuah mobil patroli polisi lewat, kedua pencuri itu terkejut seketika lalu melarikan diri.

Pengemis tua itu terus menjaga mobil Wei Wei dari kejauhan, dan baru meninggalkan tempat itu setelah Wei Wei kembali dan pergi dengan mobilnya.

Suatu hari, ibu Wei Wei kembali ke rumah barunya itu, tetapi dia tidak melihat pengemis itu, semuanya tampak kosong dan sunyi. Balkon sudah dibersihkan dan hanya terlihat sekarung goni yang lusuh di sudut ruangan.

Dia membukanya dan tercengang seketika, karung goni itu penuh dengan uang logam. Dan ibu Wei Wei juga mengerutkan kening bingung dari mana pengemis tua itu mendapatkan sepotong kapur tulis.

Ilustrasi.

Di atas lantai balkon tertulis beberapa kalimat yang terpotong-potong. Ibu Wei Wei membacanya dengan seksama dan baru menyadari apa sebenarnya yang terjadi.

Ternyata dua hari lalu, pengemis tua itu merasa badannya tidak nyaman, dan dia menduga mungkin sudah tiba waktunya. Namun, mumpung masih bisa berjalan, dia ingin pulang ke kampung halamannya.

Dia ingin menetap di tanah kelahirannya. Uang dalam karung goni yang lusuh itu adalah tabungan dari hasil mengemisnya selama bertahun-tahun. Pengemis tua itu meninggalkan karung itu untuk diberikan kepada ibu Wei Wei atas kebaikannya selama 2 tahun dia tinggal dirumahnya. Ibu Xiao wei menghitungnya, dan total lebih dari Rp 100 juta.

Sejak itu, ibu Wei Wei selalu memberikan sejumlah uang pada pengemis, tidak peduli apakah pengemis yang menyamar atau pengemis sesungguhnya. Dan setiap saat seperti ini, ibu Wei Wei selalu tanpa sadar akan terbayang dengan karung dari pengemis tua dengan mata berkaca-kaca.(jhn/yant)

Sumber: Epoch Times

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular