Erabaru.net. Mungkin karma itu memang benar-benar ada di dunia. Tidak perlu membalas, tapi akan datang saat tiba waktunya.

Sepuluh tahun yang lalu, aku yang baru berusia 13 tahun ketika itu, tidak punya sandaran apa pun. Berjalan sendirian di jalan yang dingin.

Masih hangat dalam benakku, pada malam pertama itu, aku tidur di bawah jembatan. Sebenarnya bukan tidur, aku hanya berjongkok semalaman di sana. Aku sangat takut, aku merasa dunia mencampakkan aku.

Usiaku baru 8 tahun pada 15 tahun silam. Ibu menikah lagi sambil membawaku. Ketika itu, ayahku telah meninggal, Kakek dan nenekku juga sudah tiada.

Demi bertahan hidup, ibu menikah dengan seorang duda. Duda ini 5 tahun lebih tua dari ibu, dan memiliki seorang anak perempuan yang 2 tahun lebih tua dariku. Benar-benar tidak nyaman punya keluarga seperti itu.

Hubunganku dengan kakak tiri ini tidak terlalu baik, begitu juga dengan sikap ayah tiriku. Satu tahun kemudian, ibu melahirkan seorang anak laki-laki. Ayah tiri sangat senang, tapi sikapnya menjadi tidak baik pada ibu dan aku.

Meskipun tidak baik pada kami, tapi setidaknya ada tempat untuk bernaung. Sejak saat itu, aku berkata pada diriku harus bekerja keras jika tak mau direndahkan orang lain.

Tapi tak disangka, ibu jatuh sakit dan meninggal saat aku berusia 13 tahun. Saat itu, adikku baru berusia 3 tahun. Ayah tiriku mengatakan bahwa ia tidak mampu memberi makan tiga orang anak.

Aku tahu, ayah tiriku pasti tidak akan mencampakkan adikku, sementara putrinya, dia akan mengurus sekadarnya, sedangkan aku adalah anak perempuan yang tidak ada hubunan darah dengan mereka.

Setelah memakamkan ibu, ayah tiriku langsung mengusirku keluar dari rumah. Tapi ternyata ia masih punya sedikit nurani, ia memberi bekal uang 100 ribu ribu.

Malam itu, aku menghabiskan semalaman di kolong jembatan. Tak lama kemudian terlintas dalam pikiranku masih punya seorang paman di kampung.

Dia adalah adik sepupu mendiang ayahku, bisa dikata ia adalah kerabat terakhir dari seluruh keluargaku. Aku tahu semua ini dari cerita ibuku semasa hidup.

Denga penuh harap, aku ke kampung mencari paman. Sesampainya di rumahnya, paman merasa kasihan dan sedih ketika melihat keadaanku.

Paman memiliki seorang anak perempuan seusiaku. Sementara itu, istri paman sepertinya tidak begitu menyukaiku, tapi paman bersikeras memintaku tinggal di rumahnya.

Namun, paman bilang hanya menanggung makan sehari-hari dan aku harus kerja, lainnya tidak ditanggung.

Aku sangat bersyukur, setidaknya ada tempat untuk bernaung.

Di rumah paman, aku sangat rajin. Meskipun istri paman atau sehari-hari aku panggil tante itu tidak begitu suka denganku, tapi karena aku sangat rajin dan tahu diri, apalagi ada paman yang membelaku, jadi dia tidak berani bersikap keterlaluan padaku.

Karena anak perempuan paman 2 bulan lebih tua dariku, jadi aku memanggilnya kakak.

Hubungan kami cukup baik. Setiap malam, dia akan meluangkan waktu memberitahu tentang semua yang dia pelajari di sekolah.

Begitulah aku mengahabiskan lima tahun waktuku di rumah paman. Pada usiaku yang ke -18 tahun, kakak berhasil diterima di perguruan tinggi.

Aku tahu kondisi ekonomi paman yang serba sulit, kemudian aku bilang pada paman akan ke kota untuk bekerja, meringankan beban paman dan membantu biaya kuliah kakak.

Paman sangat bersyukur punya keponakan seperti aku, begitu juga dengan kakak perempuanku yang sangat berterima kasih padaku, dia juga berepesan agar aku banyak membaca buku saat senggang.

Singkat cerita, selama bertahun-tahun kerja di kota, aku mengirimkan uang untuk biaya kuliah kakak hingga lulus, selain itu juga mengirimkan sejumlah uang untuk paman yang telah menampungku selama ini. Sementara aku sendiri berusaha menghemat uang untuk masa depanku.

Seperti yang selau disarakan kakak, aku mendaftar di sekolah malam, meskipun tidak pernah sekolah secara formal selama bertahun-tahun, namun, berkat bimbingan belajar kakak sewaktu di sekolah menengah, jadi aku sudah punya dasar.

Saat kakak lulus kuliah ketika itu, aku pun akhirnya mendapatkan ijazah diploma. Satu tahun kemudian, usiaku sudah 23 tahun.

Sekarang adalah tahun ke-10 ketika aku diusir dari rumah oleh ayah tiriku. Dan selama 10 tahun terakhir ini, aku tidak tahu sama sekali bagaimana kondisi mereka. Sebenarnya aku sangat merindukan adikku, lagipula dia adalah darah daging mendiang ibu.

Belakangan, aku mendapat kabar tentang mereka. Anak perempuan ayah tiri sekarang dikurung di pusat rehabilitasi narkoba karena kecanduan narkoba. Sementara kondisi ayah tiri juga cukup memprihatinkan. Kesehatannya sekarang memburuk, membutuhkan orang untuk mengurusnya. Sedangkan adikku meninggal saat baru berusia 5 tahun kala itu.

Hatiku benar-benar sedih mendengar semua itu, tapi aku bukan sedih karena ayah tiri, aku sedih tentang adikku yang malang.

Mungkin itulah karma yang harus diterima. Aku tidak mau terlalu memusingkan hal itu, aku hanya ingin menjalani hidupku sekarang. Dan kini sudah sepantasnya aku membalas budi baik paman selama ini.

Mungkin memang begitulah roda hidup di dunia, baik dan jahat pasti akan menerima balasnya, baik atau buruknya suatu hari nanti.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular