Erabaru.net. Setiap orang yang menjajakan dagangannya sambil berteriak di depan stasiun MRT pasti punya kepiluan yang terpendam dalam hidupnya.

Jika bisa memilih, siapa yang mau dengan susah payah menjajakan dagangannya sambil berteriak di jalanan di tengah cuaca yang panas atau hujan ? Terlebih lagi bagi seorang lansia, mereka bekerja keras untuk menafkahi diri sendiri.

Kakek Lu yang berusia 73 tahun ini adalah salah satu lansia yang menjajakan dagangannya setiap hari di stasiun MRT, Taiwan.

(Foto: video screenshot)

Setiap hari jam 1 siang, kakek Lu akan membawa satu keranjang berisi tisu wajah, biskuit, permen karet dan barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Kakek Lu naik dari Taipei metro dengan kursi roda listrik ke Stasiun MRT Zhongshan, kemudian naik lagi sampai di persimpangan Nanjing East Road dan Zhongshan North Road, lalu menjajakan dagangannya sambil berteriak dan baru pulang pada jam 7 atau 8 malam.

Setelah seharian berjualan, kakek Lu hanya mendapatkan 200 – 300 NTD sehari.

Melansir laman “Apple Daily”, kakek Lu ini berasal dari Kaohsiung, Selatan Taiwan. Lebih dari 30 tahun silam dia telah bercerai dengan istrinya, dan sendirian membesarkan 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.

Demi menghidupi keluarga, kakek Lu pernah bekerja di konstruksi, usaha toko kelontong, dan supir taksi. Suatu ketika, kakek dirampok, mereka menodongkan pisau ke lehernya dan memintanya menyerahkan semua uangnyam bahkan merampas taksinya.

Kakek Lu memang telah mengalami pahitnya hidup demi membesarkan anak-anaknya, Kakek Lu dulu tinggal di apartemen bersama dengan anak-anaknya, tetapi karena hubungan yang tidak harmonis, sehingga terjalin komunikasi yang baik di antara mereka.

Putri sulungnya sudah pacaran pada usia 18 tahun, dan putri keduanya menikah dengan pengusaha, namun, suaminya bangkrut. Sementara putra bungsu kabur dari rumah karena jengkel dengan kakeLu yang tidak memberinya uang untuk biaya menikah.

(Foto: video screenshot)

Belakangan putra bungsunya menikah tanpa memberi tahu ayahnya (kakek Lu), sehingga hubungan antara ayah dan anak pun jatuh ke titik beku.

Agar tidak menjadi beban bagi anak-anaknya, kakek Lu pindah dari rumah dan tinggal sendirian di Taipei. Dia menyewa sebuah kamar kecil dengan ukuran kurang dari 5 meter persegi di sebuah rumah kecil yang terdiri dari 16 kamar.

Karena tinggal di tempat kontrakan, jadi segalanya harus antri, baik saat memasak atau mandi. Namun, menurutnya hidupnya lumayan nyaman, setidaknya sejak pindah ke Taipei, dan selalu sibuk menjajakan dagangannya setiap hari.

Kakek Lu yang sudah lanjut usia, tidak selincah dan seenergik dulu lagi, jalannya agak tertatih, setiap hari lalu lalang di antara kerumunan orang-orang dengan kursi rodanya sambil menjajakan dagangannya di sepanjang jalan.

Sebagian besar pejalan kaki yang berlalu lalang dengan tergesa-gesa, jarang ada yang berhenti sejenak untuk membeli barang dagangannya, bahkan beberapa di antaranya menolak membeli barangnya dengan sikap dingin. Namun, kakek Lu tetap tersenyum dan terus menawarkan barang dagangannya.

“Saya hanyalah beban bagi mereka. Putra saya harus menafkahi keluarganya, belum lagi uang kontrak rumah. Selagi mampu, saya dapat menghidupi diri saya sendiri,” kata kakek Lu tampak semangat mencoba menutupi getirnya hidup.

Selain itu, kakek Lu juga memuji cucunya yang sangat berbakti, selalu tak lupa memberinya angpao setiap tahun, dan memintanya ke rumah untuk makan bersama keluarga di malam Tahun Baru.

Jika Anda kebetulan ke Taipei, Taiwan dan melewati Stasiun Zhongshan, cobalah mampir sejenak dan beri dukungan pada kakek Lu, agar ia punya cukup penghasilan untuk menopang hidupnya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular