Erabaru.net. Empat tahun lalu, ibuku tiba-tiba pergi untuk selamanya, karena begitu mendadak aku bahkan tidak siap mental.

Ketika kakakku memberi tahu kabar itu di telepon dengan setenang mungkin, aku terhenyak di tempat, karena beberapa jam yang lalu, aku baru berbicara dengan ibu di telepon.

Ilustrasi.

Saat itu ibu juga mengatakan akan menunggu aku pulang akhir pekan besok, menungguku membawakan makanan enak untuknya. Tetapi, ah.. bagaimana mungkin…?

Meskipun diliputi kesedihan dalam perjalanan pulang ke kampung, aku bahkan tidak bisa menggambarkan perasaan takutku, tapi aku berusaha menghibur diri dan berusaha tersenyum : Ibu pasti bohong, dia pasti masih menungguku pulang.

Aku melihat ibu tamak tertidur pulas saat aku berjalan perlahan masuk ke rumah, pikiranku hampa seketika. Ibu terlihat tersenyum lembut, raut wajahnya tampak damai, yang membuat aku percaya ibu hanya pura-pura, ia hanya ingin menakut-nakuti aku.

Ilustrasi.

Aku selalu berpikir ibu pasti bisa mendengar suara panggilanku, selalu berpikir kepiluan hatiku ini akan membangunkan ibu, tetapi semuanya sia-sia. Meski berurai air mata, dan bagaimana pun aku berteriak memanggilnya, ibu tetap saja tak bergeming dan tidak pernah merespon teriakan histerisku! Tiba-tiba duniaku hancur.

Jarak terjauh di dunia bukanlah di ujung Bumi, melainkan aku dan ibu yang saling berhadapan tapi tidak bisa merasakan kehangatan.

Aku berlutut di sisi ibu, sangat dekat, tetapi tersekak di dua alam yang berbeda. Melihat ibu yang tertidur pulas dengan wajah yang teduh, dan tidak akan pernah tersiksa lagi oleh momok penyakit, aku baru sadar masih begitu banyak hal yang belum sempat aku utarakan pada ibu.

Tetapi sekarang, bagaimana aku harus membicarakannya? Dan kepada siapa aku harus berbicara? Aku pernah berpikir ibu adalah keabadian-ku, jadi aku selalu semaunya atas cinta dan kasih sayang ibu kepadaku, membiarkan aku sekehendak hati. Tapi detik ini dan selamanya, kemana aku harus mencurahkan sekehendak hatiku ?

Aku hanya bisa meneteskan air mata.

Di tengah linangan air mata, aku terbayang kebersamaan dengan ibu selama kurang lebih 40 tahun yang cukup panjang juga singkat, aku hanya menikmati curahan cinta dan kasih sayang ibu terhadapku, tetapi jarang sekali aku membalas budi kasihnya. Dan selama empat puluh tahun yang tak terasa ini, hanya menyisakan kepedihan dan penyesalan yang tak terucap.

Masih hangat dalam benakku saat lulus kuliah, dan mulai terjun ke masyarakat, bekerja, menikah, punya anak dan serangkaian perubahan dalam kehidupan sehari-hari, kebersamaa dengan ibu semakin lama semakin berkurang.

Setiap kali ibu mengulangi pertanyaan “Kapan aku bisa pulang”, di ujung telepon, aku selalu mengarang berbagai alasan : Sibuk, anak masih kecil, banyak pekerjaan rumah tangga dan sebagainya. Aku bisa mendengar dengan jelas mendengar desahan ibu yang kecewa, namun, aku selalu merasa waktu kebersamaan dengan ibu masih cukup panjang.

Waktu berlalu dengan cepat dalam kebohonganku yang selalu menghibur diri, selalu berpikir bahwa masih ada banyak waktu bagiku untuk dihambur-hamburkan, namun, ketika aku menyadari kesehatan ibu semakin hari semakin mrmburuk, tiba-tiba aku menemukan bahwa ada beberapa hal dalam hidup itu benar-benar tidak bisa ditunda.

Ibu yang tak pernah dirawat inap di rumah sakit akhirnya menjalani perawatan di rumah sakit selama sebulan lamanya.

Ketika ibu dalam keadaan sehat, aku tidak mencermati raut wajahnya secara seksama. Selama ini, aku selalu berpikir naif bahwa ibu tidak akan menjadi tua. Dalam ingatanku aku hanya tahu dengan gerakan ibu yang lincah, raut wajah yang teduh serta gigi yang putih bersih. Tetapi ketika melihat ibu yang terbaring lemah di ranjang pasien, seketika aku menjadi takut. Wajahnya yang keriput jelas tampak sangat lelah, dan mata yang tampak sayu itu sedikit pun tidak bercahaya.

Sebelum melihat dengan jelas raut wajah ibu yang pucat pasi, dan sebelum sempat menemaninya lebih jauh, tiba-tiba saja aku kehilangan sosok ibuku yang welas asih.

Dalam sekejab mata, ibu telah pergi selama empat tahun. Selama empat tahun terakhir ini, aku selalu takut orang-orang membicarakan topik tentang ibu. Aku takut melihat tante yang seusia ibu di jalan. Aku juga takut dengan tibanya tahun baru. Namun, aku paling takut bila teringat ibu, karena begitu terbayang wajah ibu, hatiku seketika terasa nyeri dan pilu.

Ilustrasi.

Ibu, dalam hidup ini, aku tidak punya keinginan apa pun, aku hanya berharap ibu masih mengingatku saat kita bertemu lagi suatu hari nanti Karena, pada kehidupan selanjutnya aku masih ingin menjadi putri kecilmu, ibu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular