Erabaru.net. Eksploitasi minyak, gas dan batu bara secara besar-besaran yang dimiliki oleh Indonesia menjadi malapetaka besar.  Kebutuhan energi Indonesia semakin defisit hingga habis di masa mendatang. Oleh karena itu, pemerintahan masa mendatang ditantang untuk menyikapi dengan serius atas kondisi sumber daya alam Indonesia saat ini.

“Yang kita inginkan jawaban adalah bagaimana capres ini menyikapi dan tawarannya cadangan minyak dan gas bumi Indonesia yang turun drastis,” kata Ekonom Faisal Basri dalam konferensi pers dengan tema  Pemanasan Debat Capres Kedua: Tawaran INDEF untuk Agenda Strategis Pembangunan SDA dan Infrastruktur di ITS Tower, Jakarta Selatan Kamis (14/2/2019).

Jika dibandingkan dengan cadangan minyak sebelumnya, cadangan minyak  pada 1980 masih  berjumlah 11,6 miliar barel. Akan tetapi, kini jumlahnya hanya menyisakan sebesar 3,2 miliar barel.

Atas dasar data-data ini bagi Ekonom dari Universitas Indonesia menunjukkan sebagai bukti bahwa  Indonesia terlalu menggasak minyak lebih cepat daripada usaha memperoleh reserve (cadangan) minyak baru.

“Ini kita perkosa terus ladang minyak kita. Kita malas mencari dan serta mengeksplorasi,” ujarnya.

Lebih miris lagi, kata Faisal, jika ternyata tidak ada penemuan baru serta gagal diversifikasi energi non-fosil dan tingkat produksi yang dimiliki Indonesia rasionya 9,2 persen, maka tahun 2026 mendatang pada akhirnya cadangan minyak Indonesia akan habis.

Menurut Faisal, sejumlah kesalahan terjadi atas pengelolaan sumber daya alam termasuk minyak di bumi Indonesia. Jika dibandingkan dengan Vietnam, Australia, Malaysia dan India, penurunan yang dialami negara-negara tersebut tak separah Indonesia.

Selain minyak, cadangan gas Indonesia hanya berjumlah 1,4 persen dari cadangan gas dunia. Serupa dengan minyak, terus mengalami ekspolitasi  hingga diprediksi akan habis dalam waktu 35 tahun mendatang.

Sama halnya dengan minya dan gas, batubara kondisinya di Indonesia sudah defisit 703 ribu barel walaupun pernah mengalami surplus 1,4 juta barel. “Defisit makin mengangga seperti mulut buaya dan akan menangkap kita,” papar Faisal.

Faisal menjelaskan, cadangan SDA berarti tak harus semuanya diambil. Sebagaimana contohnya, Amerika Serikat yang memiliki reserve batubara 24,2 persen dari produksi dunia tapi sharenya hanya 9,9 persen. Bahkan, ketika sudah diproduksi AS tidak mengobral ke luar negeri. Tak hanya itu, AS hanya mengekspor sebesar 8,9 persen.

Apa yang dipetik dari kondisi pengelolaan SDA di AS? hal ini menunjukan semakin lama semakin turun, artinya prioritas SDA tidak perlu dieksploitasi membabibuta. Sejatinya, eksploitasi SDA pun untuk kebutuhan di dalam negeri bukan ke luar negeri.

Serupa dengan AS, India yang memiliki reserve batubara sebesar 9,4 persen lebih kecil produksi dan lebihnya kecil lagi ketika diekspor ke luar negeri. Namun lebih miris ketika Indonesia yang hanya memiliki reserve 2,2 persen tapi produksinya 7,2 persen.

“Jadi ini dieksploitasi sekali, ekspornya pun nomor dua di dunia, kita tak  boleh begini kalau bernegara, SDA diberlakukan sebagai komoditi, sumber penerimaan negara dan pemburuan rente, SDA semestinya harus dijadikan ujung tombak pembangunan nasional serta menggerakkan seluruh sektor ekonomi,” harap Faisal. (asr)

Share

Video Popular