Erabaru.net. Kakek Liu memiliki empat anak, tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan. Penduduk desa iri kepadanya, karena banyak anak yang akan menjadi sandarannya kelak.

Sementara itu, istri kakek Liu telah meninggal saat dia berusia lima puluh tahun, dan sejak itu kakek Liu tidak menikah lagi, dia membesarkan keempat anaknya dengan berjualan tahu.

Keempat anaknya ternyata tak mengecewakan harapan kakek Liu, putra sulung dan keduanya masingg-masingg punya usaha , sedangkan putra ketiga menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan asing, sementara anak perempuannya menikah dengan putra dari sebuah keluarga yang mapan.

Menantu laki-lakinya juga seorang manajer di kantornya. Melihat kondisi anak-anaknya yang sukses itu, seharusnya kakek Liu bahagia menikmati masa tuanya, tapi tidak ternyata.

Kakek Liu merasa dia tidak bahagia sama sekali. Empat orang anaknya sibuk dengan kariernya masing-masing, jadi mereka jarang berkumpul, mereka hanya mengirim uang untuknya. Kakek Liu selalu merasa hampa dan kesepian setiap saat melihat orang tua lainnya berkumpul dengan bahagia bersama anak-cucunya.

Saat ulang tahun kakek Liu yang ke-70 tahun, anak-anaknya telah berdiskusi setahun sebelumnya akan mengadakan acara ulang tahun yang meriah. Sebenarnya, kakek Liu tidak peduli dengan pesta ulang tahun, dia hanya mengharapkan keempat anaknya pulang bersama cucu-cucunya dan sekeluarga makan-makan bersama itu saja.

Ulang tahun Kakek Liu berdasarkan Tahun Baru Imlek. Pada ulang tahunnya hari itu, tak seorang pun dari keempat anaknya pulang. Bisa dipastikan betapa kecewanya kakek Liu, dia pun menelepon mereka satu persatu.

Kakek Liu: “Da Bao, hari ini ulang tahun ayah, kalian tidak pulang ya ?”

Putra sulung : “Ngg.. Yah, bukankah ulang tahun ayah sudah dirayakan ? Tapi Yah, maaf aku benar-benar tidak bisa pulang. Aku punya klien penting hari ini ! Nanti aku suruh sekretaris transfe uangg untuk ayah makan di luar saja sesuka ayah.”

Tanpa menunggu ayahnya bicara lagi, putra sulung langsung menutup teleponnya, dan kakek Liu hanya bisa bengong sambil menatap ponselnya.

Kemudian kakek Liu menelepon putra keduanya : “Erl Bao, hari ini ulang tahun ayah, ayah sudah menyiapkan aneka makanan enak dan minuman anggur, kedua kakakmu sebentar lagi sampai, kamu dimana sekarang ?”

Putra kedua: “Yah, hari ini kebetulan ada upacara kelulusan sekolah anak-anak, sebagai orangtua murid, aku dan istri harus hadir, jadi aku benar-benar tidak bisa pulang hari ini, lain kali ya yah ! Cucu ayah juga kangen sama ayah !”

Kakek Liu hanya bisa menghela nafas mendengar alasan anak keduanya. Kakek Liu lalu menghubungi anak ketiganya, namun, putra ketiganya langsung menutup panggilan teleponnya.

Setengah jam kemudian dia menelepon kakek Liu dan berkata bahwa tadi dia sedang rapat. Putra ketiganya langsung menanyakan apa keperluan meneleponnya. Kakek Liu pun berbohong dengan mengatakan bahwa dadanya nyeri, mungkin penyakit jantungnya kumat lagi. Dia meminta putra ketiganya pulang, lalu menutup teleponnya tanpa menunggu putranya bertanya lebih lanjut.

Setelah itu, kakek Liu menelepon anak perempuannya, namun, anak perempuannya tidak banyak bicara, hanya mengatakan akan segera datang dan memanggil ambulans.

Sebenarnya, ulang tahun kakek Liu telah lewat berdasarkan kalender masehi. Pada ulang tahunnya ketika itu, kakek Liu sendirian menunggu sepanjang hari kepulangan anak-anaknya, namun ia tak melihat bayangan seorang pun yang pulang menjenguknya. Kakek Liu mencoba menghibur dirinya, mungkin yang diingat anak-anaknya adalah ulang tahunnya pada kalender lunar.

Tak lama kemudian, ketiga putra dan putri bungsunya tiba, dan mereka melihat kakek Liu duduk sendirian di halaman.

Putra ketiganya yang kesal langsung berkata: “Yah, ingat usia yah, kenapa sih masih seperti anak kecil, pura-pura bilang sakit ? Gara-gara ayah, aku telah menunda peluncuran produk baru. Ini sangat penting bagiku, karena berdampak pada promosi jabatan dan kenaikan gaji. Huh…aku tak tahu harus bilang apalagi!”

Sementara itu, adik perempuannya berusaha menenangkan kekesalan kakak ketiganya. Keduanya masuk ke rumah dan tak lama kemudian mereka pun bermaksud pulang ke kota.

Kakek Liu meminta mereka untuk makan bersama dulu ? Tapi putra ketiganya beralasan masih ada urusan penting di kantor, dan harus segera pulang, Sedangkan putri bungsunya beralasan banyak urusan di pabrik yang harus segera ditanganinya, dan tidak ada waktu untuk makan lagi.

Kedua anaknya pun lalu pergi. Mereka membelikan mesin cuci, kulkas dan sebagainya. Supaya ayah mereka tidak kesepian, mereka juga membeli TV layar untuk ayahnya.

Halaman rumah yang luas itu pun seketika menjadi hening setelah anak-anaknya pergi. Kakek Liu terpaksa makan sendirian aneka hidangan yang telah disiapkan di atas meja, dan tanpa terasa mata kakek Liu berkaca-kaca dan meneteskan air mata.

Mungkin karena kesedihan yang tak terucap dan menekan batinnya, malamnya sekitar pukul sepuluh, kakek Liu melompat ke sumur di halaman rumah dan pergi selamanya.

Sampai dua hari kemudian anak-anak kakek Liu baru mengetahui peristiwa itu. Dan ketika mereka bergegas pulang, semuanya pun sudah terlambat. Kakek Liu/ayah mereka telah tiada.

Sejak itu, tidak akan ada yang menelepon mereka lagi untuk pulang dan makan bersama. Keempat anaknya baru merasakan sedih yang tak terkira setelah kehilangan ayahnya.

Ketika mereka merapikan barang-barang di rumah, mereka menemukan selembar kertas peninggalan ayah mereka yang bertuliskan :

”Ayah sudah pergi selamanya, tidak akan mengganggu waktu kalian lagi, dengan begitu, kalian bisa dengan tenang mencari uang sebanyak-banyaknya. Tetapi nak, dalam hidup ini, uang tidak akan pernah habis dicari.

“ Anak-anakku, saat kalian seumuran ayah , ayah harap kalian memiliki kebahagiaan yang paling sederhana, yaitu kebahagiaan bersama keluarga.”

Saat itulah anak-anak kakek Liu seakan baru tersadarkan, dan menangis seketika memecahkan suasana hening di rumah yang sepi itu.

Setiap orangtua melahirkan dan membesarkan anak-anaknya sejak bayi hingga tumbuh dewasa tanpa pamrih, dan saat memasuki usia senja, anak-anak yang telah tumbuh dewasa sudah selayaknya membalas dengan merawat mereka sampai tiba waktunya.

Tetapi, berapa banyak anak yang bisa melakukannya seperti ini ? Apa yang kita lakukan untuk orangtua kita tidak bisa dibandingkan dengan yang mereka lakukan untuk kita.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular