Erabaru.net. Apa yang akan Anda lakukan ketika putra/putri Anda pulang dari sekolah lantas mengadu pada Anda: “Bu, aku ditampar oleh guru.”, “Bu, aku dihukum berdiri oleh guru.”?

Sudahlah sayang, jangan menangis lagi, tunggu sebentar ya! Sang ibu segera menelepon suaminya dan sambil menangis ia mengadu tentang “kekejaman”guru putri mereka.

Wakil direktur langsung menginterogasi guru putrinya dan menuntutnya minta maaf, dan mengurungnya selama tujuh jam sebagai hukuman disipliner.

Hal berikutnya membuat ibu ini tak terduga, dan menyesalinya.

Putrinya dikerumuni teman-teman sekelasnya dan bertanya, :

“Apa benar guru menampar kamu?”

“Mengapa kamu berbohong?”

“Mengapa meminta ayahmu menahan guru?”

“Memangnya ayahmu Li Gang (Mantan wakil direktur keamanan umum Tiongkok) ?”

“Memangnya wakil direktur bisa seenaknya menangkap orang (guru) ?”

“Apa kamu tahu guru tidak bisa lagi mengajar dengan normal?”

“Kembalikan guru kami yang tidak bersalah!”

“Kau murid yang tidak disukai di sini!”

“Pergi kau sejauh mungkin!”

“Jangan sampai kami melihatmu lagi”

Hardik teman-teman sekelasnya.

Tampaknya putrinya tidak bisa melanjutkan studinya lagi di sekolah itu dan pindah sekolah.

Tapi siapa yang berani menjadi gurunya ? Akhirnya sang ibu hanya bisa menangis sepanjang

Siswa mana yang mau bergaul dengannya? Sejak itu, dia hanya bisa sendiri bersama bayangannya. Terkucil!

Bu, Anda tidak menduganya, bukan ? Bahkan hal-hal yang lebih tak terduga lagi masih menanti di kemudian hari. Putrinya kehilangan kontak dan ibunya pun menjadi panik.

Nak, ibu harap kau tidak berpikiran pendek ya, Ibu dan ayah tidak bisa hidup tanpamu. Sekali lagi ibunya menangis , mengeluh bahwa masyarakat ini telah mencelakai putrinya. Tragedi terus berlanjut, suaminya dipecat dari pekerjaanya. Siapa yang memberinya hak dengan angkuhnya ke sekolah dan menghukum guru putrinya.

Keluarga itu akhirnya diterpa musibah beruntun. Memang tragis, namun, peristiwa di dunia ini memang serba tidak menentu. Namun, siapa yang salah kalau sudah begini ?

Bukan masyarakat yang telah mencelakai putrinya, tapi ayahnya yang telah menghancurkan keluarganya sendiri, adalah kepala keluarga.

Orangtua mana yang bisa terima jika anaknya ditampar ?. Tetapi apakah memang begitu kenyataannya ?

Karena perasaan ingin melindungi jauh lebih dominan sehingga mengaburkan pikiran rasionalnya. Sebagai orangtua seharusnya mengerti betapa bodohnya mengambil tindakan ekstrem dengan hanya mendengar dari satu sisi. Bicaralah dengan fakta, mengapa tidak menanyai secara detil pada hal terkait.

Selesaikan di sekolah jika peristiwa itu terkait dengan sekolah, bicarakan dengan guru dan kepala sekolah serta orang-orang yang berhubungan langsung dengan peristiwa terkait, dengan demikian, bukankah kebenarannya akan terungkap dengan jelas ?

Dari menyentuh kepala hingga menampar, anak perempuannya telah belajar berbohong dan digunakan di tempat yang salah dengan caranya yang berlebihan. Melindungi anak sendiri dengan cara yang keliru sama dengan mencelakainya. Prinsip kebenaran ini seharusnya dipahami oleh setiap orangtua yang bijak.

Jangan sampai mengembangkan kebiasaan berbohong. Jika masih kecil saja sudah terbiasa berbohong, kelak setelah tumbuh dewasa akan menjadi pembohong.

Bukankah sudah sepantasnya dihukum berdiri karena terlambat. Pantaskah kemacetan lalu lintas itu menjadi alasan terlambat?

Bukankah bermanafaat bagi anak itu sendiri dengan mengetahui bagaimana menjadi sosok pribadi yang bertanggung jawab?

Nasihat untuk orangtua, cintai anak-anak Anda dengan cara yang benar. Adalah pilihan yang bijak bekerjasama dengan guru mengajar anak-anak menjadi orang yang berguna.

Saat anak memberontak melawan gurunya, sebagai orangtua bijak seharusnya secara aktif membimbing anak-anaknya untuk memahami dan menerima cara mendidik yang tepat dari gurunya.

Coba renungkan! Ketika guru tidak berani lagi mengajar dan peduli pada anak itu lalu bagaimana dengan perkembangan anak itu di sekolah? Bagaiamana dia akan belajar dan menjadi siswa yang berprestasi ? Bukankah ini tragedi dan ironi pendidikan?
Pernahkah kalian pikirkan hal ini wahai para orangtua murid yang terhormat ? (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular