Paris – Polisi Prancis menembakkan gas air mata untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang anarkis. Demonstran melempar proyektil dan membakar sampah di Paris, Lyon dan Bordeaux pada 16 Februari 2019. Ketika itu, aksi protes ‘rompi kuning’ akhir pekan yang ke-14 digelar secara bergantian pada sore hari.

Di Rouen di utara Prancis, empat orang terluka setelah seorang pengemudi mencoba memaksa menerobos melalui kerumunan demonstran, kata pihak berwenang. Sementara itu, demonstran berkumpul dengan damai pada hari sebelumnya di Arc de Triomphe di Paris, titik bentrokan dengan polisi pada hari-hari awal protes, sebelum berbaris menuju Menara Eiffel.

Kemudian pada sore hari, polisi dan ‘demonstran berkerudung’ bentrok di Esplanade des Invalides di pusat kota Paris, di mana pawai itu diharapkan berakhir. Beberapa orang memaksa turun ke jalan-jalan yang bersebelahan, di mana beberapa perkelahian dilaporkan terjadi.

Di Bordeaux dan Lyon, polisi juga menembakkan gas air mata dan berupaya untuk membubarkan demonstran yang melempar proyektil setelah tong-tong dibakar dan properti dirusak.

Para pengunjuk rasa mencoba memblokir sebuah depot yang dioperasikan oleh raksasa ritel online Amazon. Dan, beberapa demonstran melemparkan batu ke arah polisi di Toulouse di selatan Prancis, BFM Television melaporkan.

Sebuah jajak pendapat minggu ini menunjukkan berkurangnya dukungan untuk demonstrasi ‘rompi kuning’, aksi yang dinamai berdasar jaket visibilitas tinggi bagi pengendara, yang dimulai pada bulan November. Aksi bermula untuk memprotes atas kebijakan rencana kenaikan pajak bahan bakar. Aksi yang kemudian berubah menjadi pemberontakan yang lebih umum terhadap para politisi dan pemerintah yang mereka lihat tidak dapat dihubungi.

Lebih dari setengah dari mereka yang disurvei mengatakan mereka ingin protes yang berakhir dengan sedikit kekerasan. Akan tetapi, sebagian peserta protes akhir pekan mengatakan mereka adalah bagian dari gerakan humanis, yang bertujuan meningkatkan kehidupan semua orang di negara itu.

“Saya bisa mengerti bahwa beberapa orang sudah cukup, tetapi kami tidak melakukan ini hanya untuk kami,” kata Madeleine, pengunjuk rasa pengangguran berusia 33 tahun. “Ini gerakan yang sangat humanis dan kami melakukan ini untuk semua orang. Jadi jika saat ini mereka sudah muak, maka terlalu buruk bagi mereka.”

Jumlah pengunjuk rasa telah turun dari jumlah tertinggi, yaitu lebih dari 300.000 secara nasional pada November 2018. Kini menjadi sekitar 51.000 pada pekan lalu, dan terus menurun pada akhir pekan kemarin, menurut perkiraan pemerintah.

Kementerian dalam negeri Prancis mengatakan sekitar 41.500 pemrotes mengambil bagian dalam demonstrasi di seluruh negeri akhir pekan ini. Turun dibandingkan dengan 51.400 termasuk 4.000 di ibukota, dibandingkan dengan 5.000 di Paris pekan lalu. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :

Share

Video Popular