Oleh Richard D. Fisher

Tiongkok bukan merupakan pihak di dalam New START (Strategic Arms Reduction Treaty) tahun 2011 yang memiliki nama resmi Measures for the Further Reduction and Limitation of Strategic Offensive Arms, merupakan perjanjian pelucutan senjata nuklir antara Amerika Serikat dengan Federasi Rusia pada tahun 2011, akan tetapi penilaian yang bijaksana terhadap meningkatnya persenjataan nuklir Tiongkok harus menjadi bagian dari keputusan Washington mengenai apakah akan memperbarui atau memperpanjang perjanjian ini ketika berakhir pada tahun 2021.

Pertimbangan tentang gudang persenjataan Tiongkok untuk rudal balistik dan jelajah dengan jangkauan sedang dan menengah, juga tidak termasuk di dalam Perjanjian Kekuatan Nuklir Menengah, Intermediate Nuclear Forces Treaty (INF), antara Soviet dengan AS tahun 1987, telah berkontribusi terhadap keputusan pemerintahan Trump untuk menarik diri dari perjanjian ini.

Ketika mempertimbangkan memasukkan sebagai yang baru sebagian besar peluncur Tiongkok untuk rudal-rudal kategori INF (500 kilometer hingga 5.000 kilometer), analis ini memperkirakan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok kemungkinan memiliki hingga 1.800 rudal semacam itu.

Baik sumber-sumber resmi Tiongkok maupun AS tidak memberikan jumlah total untuk rudal-rudal kategori INF milik PLA tersebut, tetapi 1.800 adalah jumlah yang sama yang dihancurkan Rusia ketika mematuhi Perjanjian INF. Sebaliknya, Amerika Serikat tidak menyiagakan rudal-rudal balistik jarak menengah atau menengah di Asia untuk mempertahankan pasukan-pasukan AS atau sekutu-sekutunya.

Dinegosiasikan oleh pemerintahan Obama, New Start mewajibkan Rusia dan Amerika Serikat untuk membatasi senjata nuklir antarbenua menjadi 1.550 hulu ledak yang disiagakan, dengan 700 rudal dan pembom yang disiapkan. Sesudah itu, beberapa di pemerintahan Obama ingin mengurangi jumlah hulu ledak menjadi 1.000, tetapi ini ditolak sebagian besar oleh para pemimpin militer AS.

Sementara New Start benar-benar menetapkan aturan pengawasan yang disepakati oleh Amerika Serikat dan Rusia, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pihak yang terakhir sedang merusak stabilitas yang diharapkan. Tahun ini, Rusia kemungkinan mempersenjatai rudal balistik antarbenua (ICBM) dengan Avangard-nya, kapal selam manuver hypersonic glide vehicle (HGV) antarbenua yang pertama di dunia, yang mungkin kebal terhadap sistem-sistem pertahanan rudal AS yang ada.

Sarmat ICBM Rusia, yang saat ini sedang dikembangkan, memiliki jangkauan yang cukup untuk melakukan serangan di sekitar Kutub Selatan, sedangkan sebagian besar pengawasan strategis AS terkonsentrasi untuk serangan-serangan yang mencakup Kutub Utara.

Perkiraan inventaris 10.000 senjata nuklir Rusia, dan perkembangan cepat hulu ledak-hulu ledak nuklir sub-kiloton kecil untuk digunakan dalam mendukung doktrin pasukan darat ofensif, juga mengacaukan efek pencegahan senjata-senjata nuklir AS.

Kekhawatiran atas senjata nuklir Tiongkok dimulai dengan meningkatnya kerja sama Tiongkok-Rusia dalam pertahanan rudal; keduanya mengadakan latihan “pos komando” pertahanan strategis pada tahun 2016 dan 2017. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Moskow dan Beijing mungkin sudah menjajaki kerja sama pelanggaran kejahatan rudal.

Pada tahun 1969, ancaman-ancaman rudal nuklir AS telah menghalangi Uni Soviet melancarkan serangan-serangan nuklir terhadap Tiongkok; mungkinkah Moskow membalas tindakan dengan bergabung dengan Tiongkok dalam ancaman nuklir terhadap Amerika Serikat untuk mencegah pembelaannya terhadap Taiwan jika terjadi serangan Tiongkok?

Kemudian ada pertanyaan-pertanyaan mengenai jumlah hulu ledak nuklir Tiongkok. Sekali lagi, sumber resmi Tiongkok dan AS tidak memberikan angka yang kredibel saat ini. Sumber terbuka yang dikutip seperti Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), memuji PLA karena 280 hulu ledak nuklir untuk rudal-rudal antarbenua dan jangkauan lebih rendah.

Namun dengan mempertimbangkan ICBM-ICBM Tiongkok, jumlah ini mendekati hitungan satu unit enam rudal untuk setiap jenis ICBM PLA, ditambah 60 rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) hulu ledak tunggal pada lima kapal selam rudal balistik nuklir Tipe 094 (SSBNs).

Tetapi untuk beberapa tipe ICBM PLA ada dua atau tiga unit, dan kemudian ada pertanyaan apakah unit-unit ICBM menggunakan pengisian-pengisian ulang peluru, seperti halnya unit rudal jarak menengah dan jarak pendek PLA. Jika Anda menghitung dua unit masing-masing dengan satu pengisian ulang peluru untuk semua ICA PLA, ditambah 60 SLBM, potensi jumlah hulu ledak mendekati 1.000.

Saat ini, PLA telah menempatkan dua varian ICBM bahan bakar cair dengan kemampuan multi hulu ledak di dalam silo-silo (ruang bawah tanah di mana rudal dipandu siap untuk menembak), DF-5B (3 hulu ledak) dan DF-5C (sepuluh hulu ledak). ICBM multi hulu ledak berbahan bakar padat termasuk diantaranya DF-41 berkemampuan sepuluh hulu ledak, dalam versi berbasis jalan mobil dan kereta api.

Selain itu, Tiongkok sekarang membangun bidang operasi militer, dan mungkin bahkan pertahanan rudal yang strategis. Perusahaan-perusahaan rudal Tiongkok juga sekarang membangun beberapa jenis kendaraan pembawa pesawat ruang angkasa, space launch vehicles (SLV), berbahan bakar padat dengan ukuran yang sama dengan ICBM PLA yang ada. SLV-SLV China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) KZ-11, dan China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) LM-11, dapat dimodifikasi untuk membawa lima hingga sepuluh hulu ledak ganda.

Orang tidak dapat membantu tetapi memiliki dugaan bahwa jika ingin melakukannya, Tiongkok pada awal hingga pertengahan 2020 dapat mengerahkan banyak rudal jangkauan antar benua tambahan, dengan jumlah hulu ledak yang mendekati batas yang ditetapkan oleh New Start.

Selain dari ini, tampaknya beberapa ahli Rusia memiliki masalah yang sama. Pada tahun 2012, mantan Kepala Staf Pasukan Roket Strategis Rusia Jenderal Victor Esin memperkirakan bahwa PLA memiliki 800-900 hulu ledak nuklir yang “telah disiagakan” untuk ICBM-ICBM-nya, rudal-rudal balistik jarak menengah, jarak pendek, dan rudal jelajah.

Selama tiga dekade terakhir, dukungan bipartisan AS untuk modernisasi senjata strategis, bagi banyak kaum liberal, bergantung pada Washington yang telah terus-menerus mengejar perjanjian pembatasan senjata strategis dengan Rusia, hari ini di bawah tekanan sejak perkembangan-perkembangan nuklir Rusia.

Namun Tiongkok, selama puluhan tahun telah menolak upaya-upaya AS untuk melibatkannya dalam dialog-dialog formal senjata-senjata strategis dan menolak tindakan apa pun yang akan membatasi senjata nuklirnya. Ini berlanjut pada 17 Februari di Konferensi Keamanan Munich tahunan, ketika anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok Yang Jiechi menolak panggilan Kanselir Jerman Angela Merkel agar Tiongkok bergabung dengan Perjanjian INF.

Dengan penolakan Beijing terhadap opsi pengendalian senjata tersebut, meningkatnya inventaris senjata nuklir Tiongkok dan potensinya untuk pertumbuhan yang cepat akan menimbulkan pertanyaan. Apakah bijaksana bagi Amerika Serikat untuk bertahan dengan pembatasan nuklir dan hulu ledak New Star setelah tahun 2021 jika ada kemungkinan bahwa Tiongkok, yang rentan terhadap kerja sama senjata nuklir dengan Rusia, juga dapat memiliki jumlah senjata nuklir yang mendekati jumlah yang dimiliki Rusia dan Amerika Serikat?

Apakah potensi inventaris rudal nuklir berdaya jangkau wilayah operasi militer Tiongkok, dan potensinya untuk meningkatkan rudal nuklir antarbenua, berarti bahwa Amerika Serikat pada gilirannya akan mencari untuk dengan cepat membangun kekuatan nuklir berdaya jangkau wilayah operasi militernya sambil mempersiapkan persyaratan tambahan untuk mengembangkan kekuatan nuklir antarbenua dengan cepat? (ran)

Richard D. Fisher, Jr. adalah rekan senior di International Assessment and Strategy Center dan penulis “China’s Military Modernization: Building for Regional and Global Reach” (Modernisasi Militer Tiongkok: Membangun Jangkauan Regional dan Global), Stanford, 2010.

Video pilihan:

“Kuburan Terbuka” Tambang Tiongkok di Kamerun Timur, Menelan Korban Tewas

Share

Video Popular