- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Pengucuran Dana Bank Sentral Tiongkok Tidak Mampu Mengangkat Konsumsi

oleh Liu Yi

Dari berbagai data ekonomi Tiongkok menunjukkan bahwa ekonomi daratan Tiongkok masih terus menurun. Namun meskipun Bank Sentral Tiongkok telah berupaya mengangkatnya melalui sejumlah kali pengucuran dana sejak bulan Januari lalu, tetapi konsumsi masih belum bisa naik. Ada ekonomi asal Hongkong telah menganalisis alasannya.

Data konsumsi selama periode Tahun Baru Imlek menunjukkan bahwa permintaan domestik  masih lemah, hal ini menunjukkan bahwa triliunan Renminbi yang dikucurkan pihak berwenang Tiongkok ke pasar tidak berfungsi.

Gao Qing, komentator ekonomi asal Hongkong berpendapat bahwa ini disebabkan oleh masalah krusial dalam perekonomian Tiongkok. Ekonomi komunis Tiongkok memiliki struktur ganda, walau golongan kaya tidak sedikit, tetapi masih ada lebih kurang 1 miliar penduduk berada di tingkat ekonomi menengah dan bawah. Ini yang menjadi kendala terbesar dalam memperluas pasar konsumen.

Hongkong Economic Times menggunakan pandangan Wang Jian, seorang pakar ekonomi mokro Tiongkok memberitakan bahwa, negara-negara ekonomi pasar modern adalah struktur berbentuk zaitun, yaitu, dua ujungnya berukuran kecil dengan tengahnya yang besar. Sedangkan Tiongkok masih berstruktur ganda, sehingga golongan berpenghasilan tinggi dengan golongan berpenghasilan menengah jumlah kecil. Golongan yang berpenghasilan rendahnya sangat besar.

Gao Qing menjelaskan bahwa struktur ganda tersebut telah memungkinkan beberapa warga Tiongkok yang memiliki kesempatan kaya terlebih dulu untuk memasuki era kemampuan membeli rumah dan mobil di awal tahun milenium.

Namun, setelah tahun 2010, rumah dari  orang-orang tersebut berangsung selesai dibangun dan diserahkan kepada pemiliknya, dan permintaan terhadap kendaraan semakin mendekati “plafon” kebutuhan, kejenuhan pasar menyulut perubahan dari kuantitatif ke kualitatif. Ini adalah situasi di mana permintaan untuk rumah dan kendaraan tiba-tiba menurun pada tahun lalu.

Li Xunlei, seorang ekonom daratan Tiongkok mengatakan bahwa golongan orang berpenghasilan tinggi di Tiongkok hanya sekitar 280 juta orang, dan sisa penduduk Tiongkok yang 1.1 miliar pendapatan per kapitanya hanya RMB. 1.600,-

Beberapa data ekonomi yang dirilis oleh pejabat Tiongkok baru-baru ini menunjukkan bahwa permintaan domestik daratan masih lemah dan pertumbuhan ekonomi tidak kunjung membaik.

Data Statistik Nasional Tiongkok yang dirilis pada 15 Pebruari menunjukkan bahwa pada bulan Januari, indeks harga konsumen (CPI) Tiongkok naik hanya 1,7% YoY, lebih rendah dari perkiraan yang 1,9%, Indeks harga produksi (PPI) naik 0,1% YoY. Itu adalah yang terendah dalam 28 bulan dan penurunan sudah berlanjut selama tujuh bulan berturut-turut.

Banyak pakar ekonomi daratan percaya bahwa permintaan domestik di daratan masih lemah. Ekonom Deng Haiqing berpendapat bahwa dari perspektif sepanjang tahun, deflasi PPI sulit dihindari, hanya masalah waktu saja.

Dari data yang berkaitan dengan Tahun Baru Imlek yang dirilis Kementerian Perdagangan Tiongkok pada 10 Pebruari dapat diketahui bahwa selama liburan Tahun Baru Imlek (4-10 Februari), penjualan ritel daratan dan usaha katering meningkat sebesar 8,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tingkat pertumbuhan yang digit tunggal, merupakan yang terendah dalam 8 tahun terakhir. Tingkat pertumbuhan wisatawan juga mengalami penurunan ke digit tunggal untuk pertama kalinya, mencetak angka terendah baru dalam 10 tahun terakhir.

Menurut data terbaru yang dikeluarkan oleh Asosiasi Produsen Otomotif Tiongkok, penjualan mobil nasional pada bulan Januari adalah 2,37 juta unit, turun 16% YoY.

Hongkong Economic Times melaporkan, demi merangsang pertumbuhan ekonomi Bank Sentral Tiongkok sejak kwartal ketiga tahun lalu telah memperkenalkan berbagai langkah untuk menggalakkan ekonomi termasuk pengucuran dana sebanyak RMB. 4 triliun. Hanya di bulan Januari saja, kredit baru yang dirilis sudah mencapai RMB. 3.23 triliun.

Wen Xiaogang, komentator yang tinggal di luar negeri mengatakan bahwa kucuran dana bank sentral tidak mampu merangsang pertumbuhan konsumsi, hal ini menunjukkan bahwa dana yang dikucurkan ke pasar tidak masuk ke perusahaan-perusahaan swasta kecil dan menengah yang menyediakan 80% lowongan kerja.

Dana yang dikucurkan itu masih masuk ke perusahaan milik negara dan bahkan perusahaan zombie, atau berputar-putar di sektor keuangan, ekonomi riil masih tidak mendapatkan uang, jadi masyarakat tidak mendapatkan manfaat dari pengucuran dana bank sentral sehingga tingkat konsumsi tidak terangkat.  (Sin/asr)