- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Bantuan Kemanusiaan Internasional Dihalau Gas Air Mata dan Tembakan di Perbatasan Venezuela

Washington DC – Militer Venezuela yang loyal kepada diktator sosialis yang digulingkan oposisi berdasar konstitusi, Nicolás Maduro menembakkan gas air mata dan peluru karet kepada para pendukung Presiden sementara, Juan Guaido. Insiden itu terjadi ketika mereka berusaha membawa bantuan asing ke perbatasan Kolombia pada 23 Februari 2019.

Bentrokan pun pecah ketika Guaido, yang diakui sebagian besar negara-negara demokrasi Barat sebagai pemimpin sah Venezuela. Dia sempat menyerahkan dan mengawal bantuan internasional kepada konvoi dari kota Cúcuta, Kolombia. Sementara rezim sosialis Maduro menentang tekanan internasional untuk mundur dan mengijinkan bantuan kemanusiaan masuk ke negara itu.

Pemerintah Kolombia mengatakan isinya akan dibongkar dan diangkut oleh “rantai manusia” yang telah terbentuk di jalan yang mengarah ke Venezuela.

Tetapi di kota-kota San Antonio dan Ureña, tepat di seberang perbatasan, pasukan menembakkan gas air mata dan peluru karet ke aktivis oposisi termasuk anggota parlemen yang berjalan ke arah perbatasan yang melambaikan bendera Venezuela dan meneriakkan “kebebasan.” Para saksi mata melaporkan tembakan konstan tanpa bisa mengidentifikasi asal.

[1]
Pasukan keamanan Venezuela siaga ketika bentrok dengan demonstran di Ureña, Venezuela, pada 23 Februari 2019. (Foto : Andres Martinez Casares/Reuters/The Epoch Times)

“Mereka mulai menembak dari jarak dekat seolah-olah kita adalah penjahat,” kata penjaga toko Vladimir Gomez, 27 tahun, yang mengenakan kemeja putih berlumuran darah. “Saya tidak bisa menghindari peluru (karet) dan mereka memukul wajah dan punggung saya. Kami harus bertarung (membela diri).”

Khawatir terulangnya kekerasan di penyeberangan perbatasan lainnya, Guaido memerintahkan para relawan di sisi jembatan Tienditas di Kolombia untuk tidak bergerak ke arah militer Maduro yang ditempatkan di dekat kontainer pengiriman yang menghalangi jalan.

Banyak demonstran mengatakan mereka adalah warga sipil yang damai, yang hanya membutuhkan bantuan karena kekurangan makanan dan obat-obatan yang meluas di negara yang pernah makmur itu. Akibat menderita krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Saya seorang ibu rumah tangga, dan saya di sini berjuang untuk keluarga saya, untuk anak-anak dan orang tua saya. Melawan gas air mata militer dan tentara dengan sepeda motor,” kata Sobeida Monsalve, 42 tahun.

Sebagian demonstran kesal dengan ulah militer dan pasukan keamanan. Mereka kemudian membarikade jalan-jalan dengan ban yang terbakar, membakar bus dan melemparkan batu ke pasukan keamanan. Mereka menuntut Maduro mengizinkan bantuan internasional masuk ke negara yang dilanda kekurangan pangan dan obat-obatan, setelah krisis ekonomi yang dipicu oleh kebijakan sosialis Maduro yang gagal.

Pasukan Garda Nasional juga menembakkan gas air mata di Santa Elena di dekat perbatasan Brasil di mana orang-orang mencoba membuat barikade untuk mencegah masuknya agitator bersenjata pemerintah ke dalam rombongan mereka.

Pada 22 Februari 2019, pasukan melepaskan tembakan di sebuah desa di daerah itu yang menewaskan seorang wanita dan suaminya. Tiga puluh lima pasukan Garda Nasional ditahan oleh Masyarakat Adat sebagai bentuk protes, kata walikota kotamadya Gran Sabana.

Dua truk bantuan kemanusiaan melintasi perbatasan Brasil meskipun mereka belum melewati pos pemeriksaan pabean Venezuela, menurut seorang saksi mata Reuters.

Mempermalukan militer
Sebuah video media sosial menunjukkan pasukan yang membelot pada 23 Februari 2019. Mereka mengendarai kendaraan lapis baja melintasi jembatan yang menghubungkan Venezuela dan Kolombia, menabrak barikade logam dalam proses itu, dan kemudian melompat keluar dari kendaraan dan berlari ke sisi Kolombia.

“Apa yang kami lakukan hari ini, kami lakukan untuk keluarga kami, untuk orang-orang Venezuela,” kata salah satu dari empat pria dalam video yang disiarkan televisi oleh program berita Kolombia, yang tidak mengidentifikasi mereka. “Kami bukan teroris.”

Televisi Kolombia juga memperlihatkan gambar-gambar yang dikatakannya adalah seorang perwira Venezuela yang mengidentifikasi dirinya sebagai Mayor Hugo Parra. Dia mengakui Guaido sebagai presiden, yang artinya meninggalkan kesetiaan kepada presiden diktator Maduro.

Tiga belas anggota pasukan sekuritas Venezuela juga telah membelot pada 23 Februari 2019. Itu termasuk 10 anggota Garda Nasional dan dua polisi, menurut otoritas migrasi Kolombia.

Maduro menyalahkan situasi mengerikan negara itu kepada sanksi AS yang telah memblokir dana dan menghambat industri minyak anggota OPEC.

Ribuan pendukung pemerintah yang mengenakan kemeja merah sebagai tanda mendukung sosialis menggelar aksi tandingan. Mereka mengikuti rapat umum di pusat kota Caracas, untuk mengecam intimidasi oleh Amerika Serikat dan menuntut agar pemerintahan Trump menghentikan sanksi.

Sementara kebutuhan akan makanan pokok dan obat-obatan sangat mendesak, oposisi Venezuela juga berharap operasi itu akan mempermalukan para perwira militer yang terus mendukung Maduro.

Ribuan pengunjuk rasa berpakaian putih berkumpul di sebuah pangkalan militer di Caracas untuk menuntut agar angkatan bersenjata mengizinkan bantuan internasional itu memasuki negara metreka.

“Ini adalah pertempuran terbesar yang dapat dimenangkan oleh angkatan bersenjata,” kata Sheyla Salas, 48, yang bekerja di bidang periklanan. “Silakan bergabung dengan perjuangan ini, dapatkan di sisi kanan (dari sejarah), biarkan bantuan kemanusiaan masuk.”

Penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump, John Bolton, membatalkan rencana untuk melakukan perjalanan ke Korea Selatan untuk mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi yang membahas program nuklir Korea Utara. . Dia justru memilih untuk lebih fokus pada peristiwa yang terjadi di Venezuela, menurut juru bicaranya pada 22 Februari. (REUTERS dan Luke Taylor/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :