Bowen Xiao- The Epoch Times

Penyelidikan atas kasus pemukulan terhadap aktor Jussie Smollett baru-baru ini membuat perubahan besar ketika laporan terbaru mengungkapkan hanyalah sebuah rekayasa belaka.

Kepolisian Chicago, AS, mengungkapkan kedua bersaudara Nigeria ditangkap karena dugaan serangan terhadap aktor “Empire”, Jussie Smollett. Terungkap, merkea berdua hanya dibayar untuk melakukan serangan terhadap aktor gay itu.

Pihak berwenang kini tidak lagi mencantumkan kedua bersaudara itu sebagai tersangka dalam kasus ini. Sumber tmz.com mengungkapkan, rumah produksi mengungkapkan pada 19 Februari 2019 bahwa jam tayang Smollett dikurangi secara signifikan.

Aktor itu bisa menghadapi tuntutan penjara karena berpotensi mengajukan laporan palsu kepada kepolisian. Sementara pihak berwenang belum merilis pernyataan baru. Kasus ini menjadi sebagai kebohongan kejahatan kebencian berprofil tinggi yang serupa mengganggu pemerintahan Presiden Trump.

1. Pengrusakan Gereja Indiana

Setelah Presiden Donald Trump terpilih pada tahun 2016 silam, sebuah gereja di Brown County, Indiana, yang mengakui pernikahan sesama jenis, diduga dirusak dengan vandalisme “Heil Trump,” swastika, dan cercaan anti-gay.

Belakangan terungkap bahwa insiden itu — yang menjadi sorotan media secara luas dan memicu rasa takut di komunitas Gereja Episkopal St. David — adalah sebuah kebohongan.

Pemain organ gay gereja George Nathaniel Stang adalah pelakunya. Stang menghadapi tuduhan pelanggaran ringan atas kejahatan kriminal atas vandalisasi.

2. Vandalisme Sinagog dan Kebakaran di Brooklyn

Pendukung Trump jadi sasaran atas serangkaian kejahatan rasial termasuk vandalisme Nazi di sebuah sinagoge Brooklyn dan kebakaran di sebuah komunitas Yahudi — hanya beberapa hari setelah pembantaian Pittsburgh.

Pelaku sebenarnya adalah seorang pria Afrika-Amerika bernama James Polite yang bekerja untuk Christine Quinn, seorang legsilator dewan Kota New York pada saat itu. Polite menghadapi empat tuduhan kejahatan sebagai kejahatan rasial dan membuat grafiti.

3. Pembakaran di Gereja Kulit Hitam Mississippi

Sebuah gereja kulit hitam bersejarah di Greenville, Mississippi, dibakar sekitar satu minggu sebelum pemilihan presiden 2016. Pembakaran ini secara luas dijuluki kejahatan kebencian ketika kata-kata “Vote Trump” ditemukan dicat-semprot di bagian luar gedung yang hangus.

Investigasi segera mengungkapkan bahwa pelaku bukanlah pendukung Trump tetapi anggota gereja Afrika-Amerika bernama Andrew McClinton. Dia didakwa dengan pembakaran tingkat pertama di sebuah tempat ibadah.

4. Kebohongan Pelecehan Seorang Pelajar

Pada tahun 2016, seorang mahasiswa Muslim di University of Louisiana mengklaim dua pendukung kulit putih Trump secara fisik menyerangnya dan mencuri jilbabnya — ceritanya menjadi viral.

Tetapi Departemen Kepolisian Lafayette mengungkapkan kemudian bahwa siswa telah mengarang seluruh cerita.

Identitas wanita muda itu tidak terungkap dan universitas mengatakan mereka tidak bisa mengomentari apakah siswa akan menghadapi tindakan disipliner, berdasarkan Undang-Undang privasi federal.

5. Kasus Swastika di Long Island

Nama Trump muncul lagi sehubungan dengan serangkaian grafiti anti-Semit di Nassau Community College di Long Island. Pelakunya sebenarnya adalah siswa berusia 20 tahun yakni Jasskirat Saini.

Pihak berwenang mengatakan Saini menggambar 110 swastika — bersama dengan frasa seperti “KKK,” atau Ku Klux Klan dan “Heil Hitler” —sebagai reaksi terhadap apa yang ia yakini sebagai penghinaan dari komunitas Yahudi. Semaraknya grafiti siswa dimulai sebelum Hari Pemilihan Umum 2016.

6. Serangan di Stasiun Kereta Bawa Tanah

Seorang wanita berbohong bahwa dia telah diserang oleh tiga pendukung Trump putih di New York City saat berada di kereta bawah tanah. Dia mengklaim para pria telah mencoba merobek jilbabnya sambil berteriak “Trump! Trump! ” pada Desember 2016.

Yasmin Seweid (18) didakwa karena mengajukan laporan palsu dan karena menghalangi administrasi pemerintahan. Kedua tuduhan ini menjeratnya dengan pelanggaran ringan. Dia adalah seorang mahasiswa di Baruch College.

7. Catatan Palsu dan Potongan Ban

Seorang siswa 19 tahun Adwoa Lewis berbohong kepada polisi pada bulan September 2018 tentang sebuah catatan kebencian pada mobilnya dan ban yang terpotong.

Lewis mengatakan sekelompok remaja meneriakkan “Trump 2016” setelah berhadapan dengannya dan mengatakan kepadanya bahwa dia “tidak seharusnya berada di sini.” Pihak berwenang menemukan bahwa dia telah memalsukan seluruh kejadian.

Lewis mengakui bahwa dia sendiri yang menulis surat itu dan meletakkannya di kendaraannya. Dia didakwa memalsukan pernyataan tertulis yang bisa dipidana.

8. Graffiti di Kampus

Pada November 2018, siswa di Goucher College menuntut pelatihan keadilan sosial dan ruang aman setelah grafiti rasis, Nazi, dan KKK ditemukan di kampus. Seseorang bahkan menulis nama-nama siswa kulit hitam.

Pendukung Trump lagi-lagi disalahkan. Pihak berwenang menuduh seorang siswa biracial di Goucher College dekat Baltimore setelah dia mengakui kebohongannya.

Fynn Ajani Arthur (21) menuliskan nomor telepon tiga mahasiswa kulit hitam, termasuk dirinya, serta swastika di kamar mandi kampus pada bulan Desember 2018 untuk memalsukan ancaman bermotif rasial.

Pada saat itu, sejumlah siswa di kampus menuntut pelatihan keadilan sosial dan tempat-tempat yang aman sebagai tanggapan atas insiden yang kini dibantah.

Arthur, seorang Afrika-Amerika, mengakui melakukan kejahatan dan menghadapi dua tuduhan perusakan properti yang berbahaya. (asr)

Share

Video Popular