Erabaru.net. Liu Liang dan istrinya membuka kedai makan di Kota Taipei, Taiwan. Cukup melelahkan memang membuat makanan setiap hari mulai dari jam lima pagi. Untungnya, mereka memiliki putri yang membuat bangga mereka, tidak hanya cantik, prestasi akademiknya juga tidak mengecewakan.

Pagi itu, di meja makan putri mereka menceritakan sesuatu yang mengejutkannya. Putrinya bercerita bahwa kemarin dia melihat seorang kakek dipukuli seorang pria di gerbang pintu rumah. Tapi anehnya kakek itu tidak melawan, dan ketika merasa sangat lapar, kakek itu ke tempat sampah mengais sesuatu yang bisa dimakan.

Setelah mendengar cerita putrinya, Liu Liang kemudian bertanya pada putrinya untuk memastikan apakah orang yang dimaksudnya itu adalah seorang kakek yang tampak kurus itu.

Liu Liang sendiri pernah beberapa kali melihat kakek itu di depan kedainya. Dia mendengar cerita dari orang-orangg, kakek itu memiliki tiga putra. Ketiga putranya merasa bahwa mereka telah lama mengurus kakek itu. Hingga akhirnya mereka tidak peduli lagi.

Karena tidak ada yang peduli lagi, kakek yang tidak punya penghasilan itu kemudian mencari makanan di tempat sampah.

Suatu hari Liang melihat sang kakek mengambil sepotong roti yang dibuang oleh seseorang, dan dengan hati-hati sang kakek membersihkannya, kemudian memakannya.

Ketika Liang akan menghampirinya sambil membawa makanan, tiba-tiba ia melihat seorang pria tak dikenalnya menghampiri kakek itu, dan berkata dengan keras : “Mana uangnya?”.

Kakek itu tampak ketakutan dan tidak berani berbicara. Melihat suasana itu, Liang berjalan mendekat dan memapah kakek itu berdiri, kemudian bertanya pada pria itu apa hubungannya dengan si kakek, atau dia akan memanggil polisi. Namun, pria yang ditanya itu langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Liang kemudian bertanya pada si kakek siap pria itu. Liang juga bertanya pada apakah perlu lapor polisi. Namun si kakek menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih.

Kakek itu mengatakan bahwa pria itu adalah salah satu dari tiga putranya. Putranya itu selalu meminta uang pensiunnya. Mendenngar cerita singkat si kakek, Liang tiba-tiba saja menjadi kesal dan mencaci maki pria itu.

Karena merasa iba, Liang bertanya pada si kakek apakah dia mau ke rumah putranya yang lain. Namun, air mata si kakek langsung berlinang mendengar pertanyaan Liang.

Dia mengatakan bahwa ketiga putranya semuanya seperti itu, dan dia tidak ingin menjadi sasaran pelampiasan mereka. Sekarang, saya sendiri tidak punya apa-apa lagi, yang penting masih bisa bertahan hidup dengan mengais makanan di tempat sampah yang bisa dimakan, itu juga sudah cukup, kata si kakek terbata-bata.

Liang benar-benar tidak tahan lagi, nuraninya tiba-tiba terketuk, dan seketika ingin membawa kakek ke rumahnya, karena orangtuanya sendiri sudah lama tiada, jadi ia ingin membawa kakek itu pulang ke rumahnya dan menganggapnya sebagai orangtuanya.

Namun, si kakek takut istri Liang tidak setuju. Tapi Liang meyakinkan si kakek sambil menepuk-nepuk dadanya dan mengatakan bahwa istrinya orang yang lembut, ramah dan bersahaja, bukan orang yang kejam perasaanya.

Benar saja, istri dan putrinya sangat mendukung keputusan Liang. Dia membelikan pakaian untuk si kakek, dan menyiapkan kamar tidur untuknya, dan segala sesuatunya seperti mengurus seorang ayah.

Sementara itu, si kakek juga orang yang tahu berterima kasih. Dia ikut membantu menjaga kedai Liang atau segala sesuatu yang bisa dilakukannya ketika melihat Liu Liang sangat sibuk.

Suatu hari, seusai makan malam bersama, kakek berkata pada Liang dan istrinya, dia memiliki resep masakan, khususnya untuk masakan pangsit yang akan membuat citarasanya lebih enak dan gurih.

Dan benar saja, citarasanya menjadi lebih enak dan harum menggoda setelah Liang mencoba membuat racikan bumbunya sesuai dengan resep dan petunjuk dari kakek itu.

Kedai makan Liang seketika menjadi ramai dengan menu masakan special pangsit. Usaha Liang semakin berkembang maju dan dikenal dari hari ke hari. dan tidak butuh waktu lama Liang sudah punya tempat sendiri, tidak perlu pusing lagi dengan uang kontrak yang selalu naik setiap tahun.

Kesuksesaan usaha Liang sekarang semuanya bergantung pada resep yang diberikan oleh si kakek yang sudah mereka anggap sebagai ayah mereka sendiri.

Mereka sangat ingin tahu dari mana kakek mendapatkan resep itu. Namun, kakek tiba-tiba meneteskan air mata ketika menceritakan tentang resep itu.

Resep itu berawal dari upaya keras kakek yang terus membuat campuran bumbu yang cocok untuk meningkatkan citarasa suatu makanan. Karena ketiga putra kakek sangat suka makan pangsit, jadi kakek secara khusus meracik bumbu spesial untuk pangsit, dan ternyata sangat disukai ketiga putranya dan sejak itu kakek selalu membuat makanan yang enak dengan bumbu racikan sendiri.

Betapa bodohnya ketiga putranya itu, punya sesosok ayah yang baik dan hebat bukannya menghargai, malah mengusirnya. Tuhan pun tidak akan diam melihat anak yang durhaka pada orangtuanya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular