Erabaru.net. Berbuat baik tidak selalu berharap akan mendapatkan balasan. Namun, mungkin suatu hari nanti, hal-hal baik yang pernah dilakukan akan datang balasannya. Jika Anda percaya pada siklus sebab akibat, maka itu adalah buah baik yang pernah ditanam sebelumnya!

Di sebuah kota kecil di Qingyuan Tiongkok, ada sebatang pohon besar di sebelah kantor pos, dan di bawah pohon besar itu ada beberapa meja dan kursi. Setiap pagi menjelang fajar, tampak seorang gadis mengendarai sepeda roda tiganya ke sana dan mendirikan lapak untuk menjajakan mie.

(Foto:Pixabay)

Dia membersihkan meja dan kursi terlebih dahulu, lalu memanaskan sup yang telah dimasak sebelumnya, kemudian mengambil mie dan bahan-bahan yang telah disiapkan. Saat semuanya sudah siap, dia mulai menunggu pelanggan datang.

Gadis penjual mie itu bernama Melani, dia hidup bersama ibu dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP, sementara ayahnya telah lama meninggal. Sebenarnya setelah lulus dari SMA, Melani bermaksud melanjutkan studinya.

Ibunya adalah seorang buruh jahit. Meskipun mendapatkan upah yang tidak seberapa, dan tidak bisa untuk membiayai kuliah Melani. Ibunya berprinsip meski miskin secara ekonomi tapi tidak boleh miskin pendidikan.

Oleh karena itu, ibunya berusaha mencari pinjaman, dan akan menembalikan uangnya setelah Melani menyelesaikan studinya.

(Foto:Pixabay)

Namun, ibunya mengalami stroke dini dan terbaring di tempat tidur. Karena kondisi ekonomi keluarganya pun menjadi sangat sulit.

Akhirnya demi menafkahi keluarga, mau tidak mau Melani harus meninggalkan studinya. Dia harus memikul beban hidup keluarga dan menyekolahkan adiknya.

Karena hanya berpendidikan sekolah menengah, dan menjadi pegawai juga penghasilanya tidak seberapa, apalagi dengan waktu kerja tetap, dan tidak bisa meluangkan waku untuk merawat ibunya, jadi dia memutuskan berjualan mie.

(Foto: Adobe Stock)

Demikian sekilas mengenai perjalanan hidup Melani. Tak terasa, dua tahun pun berlalu.

Suatu hari, seorang pria muda ke lapaknya untuk makan mie. Sejak itu, pemuda itu menjadi pelanggan setia, selalu ke lapaknya untuk sekadar makan siang, dan telah mencoba semua jenis mie yang dijual Melani.

Melani melihat pemuda itu berjalan ke lapaknya, ia mengira pemuda itu bekerja di sekitar tempatnya berjualan. Terkadang pemuda itu sesekali bertanya tentang keluarganya, tapi Melani hanya menceritakan seperlunya. Karena banyaknya pelanggan yang makan, jadi keduanya tidak sempat berbicara secara mendalam.

Suatu hari, pemuda pelanggan setianya itu memberinya selembar uang kertas dengan nominal besar, kemudian langsung pergi, melani mengejarnya sambil menggenggam uang kembalian pada pemuda itu.

(FotoPixabay)

Sudah tiga bulan lamanya pemuda itu menjadi pelanggan lapak mie Melani. Suatu hari, setelah selesai makan, pemuda itu berkata dengan terbata-bata.

Setelah diam sejenak, dengan agak ragu-ragu pemuda itu bertanya pada Melani : “Maaf, karena suatu hal, perusahaan tempat saya bekerja terpaksa menunda pembayaran gaji karyawan, tapi bos berjanji akan membayarkan dua bulan gaji sekaligus bulan depan. Jadi….ng, maaf, apa boleh saya utang makan dulu sebulan di sini, bulan depan baru saya bayar ? “

Melani pernah merasakan siksaan dingin dan lapar, dan tahu persis bagaimana rasanya mengalami hal itu. Jadi tanpa banyak pikir lagi, dia mengiyakan permintaan pemuda itu, Melani tidak hanya menambah porsinya, tetapi kadang-kadang menyiapkan beberapa bekal makan malam untuknya.

Sebulan kemudian, pemuda itu benar-benar menepati janjinya dan melunasi utangnya. Selain itu, dia juga mengajak Melani untuk makan malam bersama.

“Terima kasih atas kebaikannya membolehkan saya utang makan, aku ingin mengundangmu makan kalau bersedia, anggap saja sebagai balas budiku padamu,” Katanya dengan nada lembut.

Tak disangka, malamnya sebuah mobil mewah berhenti di pintu rumahnya. Pemuda itu membawanya ke sebuah rumah besar dan mewah. Saat berjalan masuk ke dalam, Melani melihat keluarga pemuda itu tengah duduk di meja makan.

Melani merasa sangat familiar dengan salah satu wanita di meja makan itu, sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat. Setelah diperkenalkan pemuda itu, Melani baru tahu wanita itu ternyata adalah ibu pemuda tersebut.

(Foto:Pixabay)

“Kamu adalah gadis yang baik, terima kasih, dulu kamu pernah membantu ibuku yang terlunta-lunta di jalanan,” kata pemuda itu.

Melihat wanita yang mengenakan busana mahal di depan matanya, Melani tiba-tiba teringat sesuatu. Sekitar setengah tahun yang lalu, saat dia ingin menutup lapaknya, ia melihat seorang wanita usia 50-an.

Pakaian wanita itu terlihat agak kotor dan rambutnya berantakan. Ia mengambil mie sisa tamu dan langsung ingin memakannya, tampaknya wanita itu sangat kelaparan. Melihat itu, Melani segera mencegahnya dan membuatkan semangkuk mie baru untuknya.

“Siapa namamu? Tinggal dimana?” Tanya Melani ketika itu, namun, wanita itu hanya menatapnya dan tidak mau menjawab.

Melani membantu membersihkan tangan dan kaki wanita itu, merapikan rambutnya, kemudian membawanya ke kantor polisi untuk melaporkan kasus itu.

(Foto:Adobe Stock)

Melani tidak menyangka akan bertemu wanita itu lagi sekarang, pakaiannya yang membalut di badannya benar-benar berbeda, ternyata dia adalah seorang wanita berada!

“Ibu menderita demensia, kadang baik, terkadang tiba-tiba lupa segalanya. Waktu itu ibuku dan pembantu membeli sesuatu di luar, tiba-tiba ibuku menghilang entah kemana. Kami benar-benar panik dan sangat khawatir ketika itu. Ibu tidak pulang selama dua hari, belakangan kami baru membawa ibu pulang setelah diberitahu oleh polisi,”Kata pemuda itu.

Selama pemulihannya, ibnya tiba-tiba teringat dengan sesuatu yang terjadi di lapak mie, lalu bercerita pada anaknya.

Putranya yang tahu hal itu kemudian ingin membalas budi, jadi dia ke lapak mie Melani. Karena melihat kepolosan dan kebaikan Melani, di mana meskipun bukan berasal dari keluarga berada, tapi dia ikhlas membantu orang-orang yang membutuhkan, karena itulah dia sangat terkesan dan tertarik padanya.

“Maaf, waktu itu saya pernah bilang tidak punya uang untuk makan mie, saya sebenarnya hanya ingin melihat reaksimu. Dan saya tidak menyangka, kamu bersedia membantu saya tanpa ragu-ragu. sehingga saya sangat tersentuh dengan kebaikan hatimu,” ujar pemuda itu.

Selesai berbicara, pemuda itu kemudian mengungkapkan perasaannya pada Melani. Sementara itu, orangtua si pemuda juga itu sangat suka dengan Melani, mereka memujinya sebagai gadis muda yang baik dan bersahaja.

Karena semangkuk mie, keduanya menjadi dekat satu sama lain. Setelah lebih lanjut menjalin hubungan serius, kemudian mereka menikah. Pemuda itu juga membuka sebuah restoran mie untuk dikelola Melani dan menamakan restorannya dengan nama yang unik “Semangkuk Mie”.

(Foto:Pixabay)

Meskipun hidup Melani telah berubah drastis, makmur dan bahagia, tapi dia tidak pernah lupa untuk selalu bersedekah. Restoran “Semangkuk Mie” Melani semakin berkembang maju dari hari ke hari, dan mulai bercabang di beberapa tempat.

Ketika media datang untuk wawancara, kisah di balik “Semangkuk Mie” itu baru terungkap. Dan kisah Melani ini menegaskan bahwa “berbuat baik akan memetik buah yang baik”

Kebaikannya yang tulus tidak hanya telah membantu orang lain yang benar-benar membutuhkan, tetapi juga membantu dirinya sendiri, dan ini adalah sesuatu yang tak disangkanya sama sekali.

Jangan pernah berhenti berbuat baik, karena tidak ada siapa pun yang bisa menduga apa yang akan terjadi di kemudian hari, tapi yang pasti akan berbuah kebaikan jua.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular