- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Siswi Ini Setiap Hari Membawakan Makanan untuk Gelandangan, Setahun Kemudian Gelandangan Itu Memberinya Kartu ATM, Saat Melihat Saldonya Dia Segera Menghubungi Polisi

Erabaru.net. Hati manusia terbentuk diibaratkan seperti menanam pohon, jika menanam dan merawat dengan baik maka hasilnya akan baik, begitu juga sebaliknya. Baik dan jahat hanya selintas pikiran, apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai pastinya.

Pikiran yang positif/baik dapat mendatangkan nasib baik, menanam pemikiran yang baik mewujudlkan hati nurani, menanam hati nurani menghasilkan akhlak, menanam akhlak membentuk kepribadian, menanam kepribadian menciptakan (sifat) kemanusiaan.

Xiaolu terlahir dari sebuah keluarga miskin di desa, untuk menutupi biaya sekolah, setiap hari dia bekerja di sebuah restoran terdekat selama dua jam sehari. Walaupun mendapat upah yang tidak seberapa tapi dia mendapat makan dari restoran, dan membolehkannya untuk membawa sisa makanan setiap hari.

Xiaolu setia hari kerja di restoran sampai jam sembilan malam. Xiaolu adalah seorang gadis yang penakut. Setiap pulang dari restoran selalu merasa was-was, karena untuk pulang ke asramanya dia harus melewati gang yang gelap dan sepi sendirian. Terkadang dia harus berlari saat melewati gang itu.

 

[1]Beberapa malam itu, restoran tempat kerjanya ramai dikunjungi tamu yang makan. Pada malam itu Xiaolu pulang kerja sudah cukup larut. Saat melewati gang, perasaan Xiaolu semakin ciut, dan tiba-tiba seseorang muncul di hadapannya dan tampaknya dia bermaksud jahat padanya.

Xiaolu terkejut dan perlahan-lahan mundur ke belakang …tepat pada saat itu, tiba-tiba muncul seorang gelandangan di sampingnya, kehadiran gelandangan yang tiba-tiba itu bukan saja mengejutkan Xiaolu, tapi orang yang berniat jahat itu pun juga melarikan diri.

Gelandangan itu diam saja tidak menyahut ketika Xiaolu mengucapkan terima kasih, namun matanya tertuju pada bungkusan kecil di tangan Xiaolu. Xiaolu berpikir gelandangan itu mungkin sedang lapar, lalu memberikan bungkusan yang berisi makanan itu kepadanya.

Sesampainya di asrama, perasaan Xiaolu masih tegang membayangkan peristiwa yang baru saja dia alami. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya jika gelandangan itu tidak muncul.

Sejak saat itu, Xiaolu selalu menyiapkan nasi kotak untuk gelandangan itu, dan dia pun sedikit merasa tenang setiap melewati gang itu, karena gelandangan itu akan melindunginya.

Demikianlah hal itu terus berlangsung setiap malam, dan tanpa terasa setelah lebih dari setahun, dua orang itu pun menjadi akrab.

[2]

Saat musim dingin, Xiaolu memberi sepotong jaket bekas untuk gelandangan itu karena takut dia kedinginan. Entah kenapa gelandangan itu selalu hanya mengangguk, tidak pernah berbicara

Malam itu, seperti biasa Xiaolu membawakan makanan untuk gelandangan itu. Tapi kali ini, Xiaolu dibuat bingung karena gelandangan itu memberinya sebuah kartu ATM lengkap dengan nomor PIN-nya.

Xiaolu berpikir, masa sih seorang gelandangan punya simpanan di bank, tapi dia mencoba mengecek saldonya. Dia terkejut ketika melihat saldonya ada lebih dari Rp 100 juta.

Xiaolu merenung, aku tidak boleh menerima uang sebanyak ini, meski aku membawakannya makanan setiap hari, tetapi dia juga pernah membantuku! Kata Xiaolu dalam hati.

Keesokan harinya, Xiaolu mencari gelandangan itu, tetapi tidak ditemukan, gelandangan itu telah pergi. Akhirnya Xiaolu melapor ke polisi.

Berkat bantuan polisi, gelandangan itu dengan cepat ditemukan. Dari bibir pria gelandangan itu tampak ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jelas, mungkin mengalami gangguan mental.

Polisi menemukan identitas gelandangan itu melalui kartu ATM dari bank penerbit, kemudian menghubungi pihak keluarganya.

Ternyata pria gelandangan itu awalnya adalah seorang pedagang buah-buahan, namun dia mengalami depresi berat setelah cintanya ditolak oleh seorang wanita, kemudian kabur dari rumah hingga mengalami gangguan mental.

[3]

Pihak keluarga telah berusaha mencarinya kemana-mana, namun selalu tidak berhasil. Hingga akhirnya baru ditemukan berkat bantuan Xiaolu.

Xiaolu mengembalikan kartu ATM itu kepada keluarganya. Namun, keluarga pria gelandangan tidak mau menerimanya.

“Berkat bantuan Anda setiap hari, saudara saya itu bisa bertahan hidup, kalau tidak, mungkin hidupnya sudah berakhir. Jadi, uang itu pantas untuk Anda,” kata mereka.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi: