Erabaru.net. Ada ungkapan, uang bisa membutakan manusia, ada orang yang nekat melakukan apa saja demi uang, meskipun dengan saudara atau kerabat sekali pun saat menyangkut dengan yang namanya uang mereka akan saling bertarung.

Li Ping adalah seorang gadis desa, ibunya telah tiada sejak ia masih kecil. Sejak saat itu dia tinggal berdua dengan ayahnya. Ketika Li Ping berumur sepuluh tahun, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda dengan dua anak laki-laki yang masih kecil.

Ayah Li Ping sangat baik terhadap kedua anak laki-laki istri barunya, bahkan jauh melebihi kebaikan pada Li Ping, anak kandungnya.

Li Ping memiliki sifat yang baik dan dewasa dalam berpikir. Ia juga sangat menyayangi kedua adik tirinya itu, namun, kedua adiknya sama sekali tidak menganggapnya sebagai kakak.

Li Ping selalu menyisakan makanan yang enak untuk mereka, berbalik dengan kedua adiknya itu, mereka berdua sangat egois, selalu ingin menguasai segala sesuatunya.

Ibunya melihat semuanya, ia sudah tahu dengan tabiat kedua putranya itu, ibu tirinya itu juga sudah menganggap Li Ping seperti putri kandungnya. Ia selalu secara diam-diam menyisakan segala sesuatu untuk Li Ping, yang membuat Li Ping sangat tersentuh. Li Ping sendiri sudah menganggap ibu tirinya itu seperti ibu kandungnya.

Li Ping adalah anak yang pintar di sekolahnya. Ia juga memiliki ambisi yang besar. Dia tidak ingin tinggal di desa seumur hidup. Dia ingin kuliah dan meniti kariernya di kota.

Saat lulus dari sekolah menengah atas, Li Ping berhasil diterima di salah satu universitas bergengsi di kota, namun, belum sempat berbagi kebahagiaan dengan keluarga, ayah Li Ping meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Semasa hidupnya, ayah Li Ping mempunyai banyak hutang. Setelah pemakaman, orang-orang datang menagih hutang ke rumahnya.

Ibu tiri Li Ping adalah seorang wanita yang tegar. Untuk melunasi hutang alamarhum suaminya, dia menjual semua barang-barang berharga. Dan Li Ping terpaksa harus melupakan mimpi kuliahnya, karena tidak ada uang lagi untuk biayai kuliahnya. Karena itu, Ibu tirinya merasa bersalah pada Li Ping.

Karena tidak jadi kuliah, Li Ping membantu ibu tirinya menanam sayuran di kebunya. Dia sadar dirinya adalah anak tertua, dia juga harus membantu ibu tirinya membesarkan kedua adik tirinya.

Namun, kedua adiknya itu tidak menganggap Li Ping sebagai kakaknya. Mereka bahkan tidak pernah membantu kerja di ladang, semua pekerjaan di ladang dikerjakan Li Ping bersama ibu tirinya,

Li Ping juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Meskipun ibu tirinya adalah seorang wanita, tapi ketrampilannya dalam menggarap ladang dan berdagang sayur sedikit pun tidak kalah dengan kaum pria.

Ibunya membuat usaha sayurnya semakin berkembang. Sayur mayur hasil ladangnya juga semakin bervariasi, dan laris.

Banyak penjual sayur datang untuk memesan sayuran. Dalam beberapa tahun terakhir, ibu tirinya juga menjual sayuran secara online, dan sekarang telah menjadi pemasok utama di seantero negeri. Berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun, sang ibu kini telah memiliki simpanan yang lumayan besar.

Ibu tiri Li ping juga mencarikan calon suami dari keluarga yang lumayan terpandang untuk Li Ping, dan menikahkan Li Ping.

Ada pertemuan juga ada perpisahan dalam hidup manusia, ibu tiri Li Ping yang banting tulang sepanjang tahun akhirnya jatuh sakit dan meninggalkan Li Ping dan kedua putranya untuk selamanya.

Ketiga bersaudara tiri itu menangis pilu mengantar ibu mereka ke peristirahatan terakhir. Namun, baru memasuki hari kedua pemakaman ibu mereka, kakak beradik itu bertengkar, Li Ping bergegas keluar melerai perkelahian kedua adik tirinya.

“Ibu baru meninggal dan baru dua hari dimakamkan. Kalian berdua sudah bertengkar demi memperebutkan warisan, apa ibu bisa tenang di sana ?” hardik Li Ping sambil melerai kedua adik tirinya.

Mendengar bentakan Li Ping, kedua bersaudara itu diam di tempat, lalu berkata sambil menunjuk jari mereka pada Li Ping, : “Ini urusan kami, tidak ada hubugannya denganmu, lagipula tidak ada bagianmu di sini.”

Sementara itu, adiknya yang besar berpura-pura menjadi pria yang baik hati: “Siapa bilang kakak tidak kebagian? Selama ini, kakak juga ikut bekerja keras bersama ibu. Bagaimana pun juga kakak telah berjasa dan sudah selayaknya mendapatkan bagian. Tapi pokoknya, aku tidak mau menanam sayur. Hasil tanaman di ladang untuk kakak saja semuanya.”

Adik tirinya yang kecil kemudian menimpali,: “Ya, ya, semua sayuran di ladang itu untuk kakak, sedangkan uangnya milik kami.”

Lalu kedua kakak beradik itu kembali bertengkar. Li Ping yang tidak bisa lagi melerai, akhirnya pulang sambil membawa sekarung kentang. Itu adalah kentang yang digali sendiri oleh ibu tirinya sebelum meninggal.

Sesampainya di rumah, Li Ping membuka karung kentang itu, dan terkejut melihatnya, di dalam kantong itu terdapat kartu ATM dan secarik kertas yang berbunyi : “Li Ping, ibu minta maaf, tidak bisa membiayaimu kuliah. Ibu tahu kedua putraku itu sangat mengecewakan. Setelah ibu pergi, mereka tidak akan memberimu sepeser pun. Di dalam kartu ATM ini berisi uang Rp 500 juta yang ibu tinggalkan untukmu.”

Dari ibu yang selalu menyayangimu.

Melihat niat baik ibu tirinya, Li Ping kembali teringat ibu tirinya yang baru meninggal, dan seketika dia pun menangis pilu dalam rumah yang sepi itu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular