Erabaru.net. Kisah ini terjadi di pinggiran sebuah kota kecil di selatan Tiongkok. Dalam beberapa hari di daerah itu turun hujan lebat, menyebabkan beberapa sungai meluap.

Namun, hal itu tidak menyurutkan nenek Huang mengantar cucunya ke sekolah seperti biasa, hanya saja hari itu jalannya susah dilalui karena licin. Karena takut cucunya tergelincir, sang nenek menggendongnya di pungung.

Mungkin karena sudah tua, nenek berjalan terhuyung-huyung, dan terjatuh di pinggir sungai, akibatnya cucunya pun jatuh di sungai.

Sang nenek menjadi panik dan berteriak histeris. “Toloong, tolooong, cucuku, toloong selamatkan cucuku….” teriaknya dengan terengah-engah.

Gambar

Nenek Huang mencengkram lengan seorang pria yang lewat, dan dengan meratap dia memohon: “Anak muda, tolong selamatkan cucuku, saya mohon!”

Pria itu menyingkirkan tangan nenek Huang dan berkata, :”Airnya sangat deras dan dingin, lebih baik minta tolong yang lainnya saja, saya…saya tidak bisa berenang!” Jelas pria itu berbohong!

Nenek itu meratap pada setiap orang yang lewat sambil memandangi cucunya yang meronta-ronta di sungai.

Nenek Huang kemudian minta tolong pada yang lain, tetapi orang-orang di sekitar hanya sibuk merekam suasana itu dengan kamera ponselnya, atau hanya menonton dan menghubungi polisi. Tidak ada satu pun yang mau membantu.

Nenek Huang pun sudah pasrah, ia memejamkan matanya walaupun dirinya tidak bisa berenag di bermaksud melompat ke air, tetapi tindakan nekatnya dicegah oleh seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun.

“Nek, jangan khawatir, teman saya akan menyelamatkan cucu nenek !” Kata gadis kecil itu. .

Si nenek membuka matanya, dan melihat sekeliling, tetapi dia tidak melihat seorang pun di sungai.

“Dia pun menjadi panik, mana ada orang di sana ? Anak-anak tidak boleh berbohong sama orang tua ya, jangan main-main,” kata nenek Huang.

Ketika nenek Huang akan memarahi gadis kecil itu, si nenek tiba-tiba melihat cucunya bergerak dengan aneh di sungai, menuju ke pinggir sungai!

Gadis kecil itu dengan bangga berkata, :”Coba lihat nek, saya tidak berbohong kan, temanku itu sangat hebat lho!”

Nenek Huang terkejut sekaligus merasa lega, ia segera berlari menghampiri cucunya yang sedang naik ke darat! Dan tercengang, ternyata yang menyelamatkan cucunya sama sekali bukan manusia, tetapi seekor anjing.

Warna anjing itu kuning kecoklatan mirip dengan warna air sungai, dan karena mata nenek Huang sudah rabun, sehingga tidak bisa melihat sesuatu yang menyeret cucunya ke tepi sungai!

Sekarang ia bisa melihat dengan jelas seekor berwarna kuning yang merayap ke tepi setelah cucunya ditarik ke atas.

Anjing kuning itu tampak menggigil karena air yang dingin. Gadis cilik itu memeluk anjingnya ketika melihatnya menggigil, seperti halnya nenek Huang yang memeluk cucunya memberikan kehangatan !

Gadis kecil itu menangis dan berkata pada anjingnya,: “A Huang, kamu sangat hebat! Tapi, kenapa ayah dan ibu tidak menyukaimu? Dingin ya ? Jangan sampai sakit ya, sekarang kamu tidak punya tempat tinggal.”

Gadis itu melepaskan mantelnya dan menyelimuti anjing itu, sementara dia sendiri menggigil kedinginan.

Nenek Huang melepas mantelnya dan mengeringkan badan cucunya sambil berkata kepada gadis yang terus berbicara dengan anjingnya,: “Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih banyak nak!”

Saat itu, nenek Huang bisa memahami persahabatan dan kesulitan yang dialami gadis itu dengan anjingnya ketika mendengar pembicaraannya dengan anjing itu, ia merasa nasibnya mirip dengan yang dialami bersama cucunya.

Anak dan menantu nenek Huang pergi begitu saja meninggalkan anaknya yang agak autis itu. Dalam pandangan nenek Huang, cucu laki-lakinya itu sebenarnya cukup baik. Tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Dia tidak mengerti mengapa anak dan menantunya tidak suka dengan anak kandungnya.

Nenek Huang tahu dia harus membalas budi pada si gadis cilik dan anjingnya, bukan hanya sekadar ucapan terima kasih.

“Nak, nenek tidak punya uang yang banyak, juga tidak bisa berterima kasih dengan memberikan imbalan uang seperti orang kaya! Tapi, nenek dengar ayah-ibumu tidak suka dengan anjingmu itu, bagaimaan kalau nenek yang memeliharanya ? Kami berhutang budi padanya, jangan khawatir, nenek tidak akan menelantarkannya !” kata nenek Huang sambil menggendong cucunya.

Gadis cilik itu seketika tersenyum gembira : “Benarkah ? Nenek mau memelihara A-Huang-ku, kalau begitu nenek adalah nenekku sekarang, ha..ha…,terima kasih Nek! Terima kasih!”

Lalu berbalik ke A-Huang, anjing kesayangannya dan berkata: “A-Huang, kamu dengar, kan ? kamu punya keluarga dan tempat tinggal sekarang, untuk selanjutnya kamu ikut nenek ya, aku akan sering-sering menjengukmu nanti! “

“Namanya A-Huang ya? A-Huang begitu hebat, justru nenek yang senang kalau A-Huang mau ikut bersama nenek, apalagi sekarang nenek punya cucu perempuan sekaligus, nenek benar-benar beruntung!” Kata nenek Huang sambil tersenyum bahagia.

Tap keajaiba lain terjadi, sejak pertemuan dengan gadis kecil dan anjingnya, cucunya yang agak autis itu sekarang menjadi lebih ceria, dan perlahan-lahan belajar berbicara dengan orang lain, tidak jauh berbeda dengan anak-anak normal lainnya !

Selain itu, putra nenek Huang dan menantu perempuannya yang mendengar anaknya sudah baikan, mulai melakukan kontak dengannya. Mereka juga sering mengirim uang untuk biaya hidup, sehingga nenek Huang tidak perlu bersusah payah lagi mencari uang dengan menanam sayur sambil mengurus cucunya!

“A-Huang benar-benar hewan keberuntunganku, untung ada A-Huang, yang membawa keberuntungan dalam hidup kami !” kata nenek Huang setiap saat berpapasan dengan tetangganya. (jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular