Erabaru.net. Sebuah pesawat Ethiopian Airlines jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari ibukota Ethiopia pada Minggu (10/3/2019). Insiden ini menewaskan 157 orang di dalamnya terdiri 149 penumpang dan 8 kru pesawat.

Melansir dari Foxnews, Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan 302 lepas landas dari bandara Bole di Addis Ababa menuju Nairobi, Kenya, pada pukul 8:38 waktu setempat sebelum kehilangan kontak dengan menara kontrol beberapa menit kemudian pada jam 8:44. Kecelakaan terjadi di sekitar Bishoftu, atau Debre Zeit, sekitar 31 mil selatan dari Addis Ababa.

Belum diketahui secara pasti penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-8 MAX. Associated Press melaporkan, pesawat ini masih baru dan telah dikirim ke maskapai pada November tahun lalu.

Flightradar 24 dalam akun twitternya menyebutkan, pesawat tersebut menunjukkan kecepatan vertikal yang tidak stabil setelah lepas landas.

Lembaga penyiaran milik pemerintahan Ethopia EBC melaporkan semua penumpang tewas. Penumpang berasal dari 33 warga negara dari seluruh dunia.

Menteri Transportasi Kenya mengatakan sebanyak 8 orang warga Amerika termasuk di antara yang tewas, serta 18 orang Kanada, masing-masing 8 orang dari Tiongkok dan Italia, masing-masing 7 orang dari Perancis dan Inggris; 6 orang dari Mesir; 5 orang dari Belanda dan 4 orang masing-masing dari India dan Slovakia. Termasuk seorang disebut Warga negara Indonesia. 

Ethiopian Airlines mengunggah foto yang menunjukkan CEO-nya berdiri di tengah puing-puing pesawat yang jatuh tak lama setelah lepas landas.

Unggahan media sosial maskapai itu mengatakan bahwa “Tewolde Gebremariam, yang berada di lokasi kecelakaan sekarang, menyesal untuk mengkonfirmasi bahwa tidak ada yang selamat.”

Dia menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada pihak keluarga dan orang-orang tercinta dari penumpang serta kru yang kehilangan nyawa mereka dalam kecelakaan tragis ini.

Pihak keluarga yang khawatir atas kecelakaan ini langsung berkumpul di bandara Nairobi. “Kami hanya menunggu ibuku. Kami hanya berharap dia mengambil penerbangan lain atau ditunda. Dia tidak mengangkat teleponnya,” kata Wendy Otieno kepada Reuters ketika dia memegangi teleponnya dan menangis.

Agnes Muilu mengatakan dia datang ke bandara untuk menjemput kakaknya tetapi belum diberitahu apa-apa. “Saya hanya berdoa dia aman atau tidak,” kata Muilu kepada AP.

“Mengapa mereka membawa kami berputar-putar, semua berita bahwa pesawat itu jatuh, “kata Edwin Ong’undi, yang telah menunggu saudara perempuannya.

Rute Addis Ababa-Nairobi menghubungkan dua kekuatan ekonomi terbesar Afrika Timur dan populer di kalangan wisatawan yang melakukan perjalanan ke safari dan tujuan lainnya.

Kantor Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed berbagi pesan kepada Twitter yang menyampaikan belasungkawa.

“Kantor PM, atas nama pemerintah dan rakyat Ethiopia, ingin menyampaikan belasungkawa terdalamnya kepada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai di Ethiopian Airlines Boeing 737 pada penerbangan terjadwal reguler ke Nairobi, Kenya pagi ini,” demikian cuitannya.

Ethiopian Airlines adalah perusahaan penerbangan milik negara. Penerbangan maskapai ini secara luas dianggap sebagai maskapai penerbangan terbaik di Afrika, menyebut dirinya maskapai terbesar di Afrika dan berambisi menjadi pintu gerbang ke benua itu.

Maskapai penerbangan mengatakan di situs webnya bahwa mereka mengoperasikan “Armada Termuda di Afrika.”

Catatan menunjukkan bahwa pesawat itu mnasih baru. Basis data penerbangan sipil Planespotters menunjukkan bahwa Boeing 737-8 MAX dikirim ke Ethiopian Airlines pada pertengahan November.

Pada Oktober tahun lalu, sebuah pesawat jenis Boeing 737-8 MAX milik maskapai Lion Air jatuh ke Laut Jawa hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Insiden ini menewaskan semua 189 orang.

Dalam sebuah pernyataan, pihak Boeing mengatakan “sangat sedih” mengetahui tentang kecelakaan itu. “Kami menyampaikan simpati tulus kami kepada keluarga dan orang-orang terkasih dari penumpang dan awak di atas kapal dan siap untuk mendukung tim Ethiopian Airlines,” kata pernyataan itu.

“Tim teknis Boeing siap memberikan bantuan teknis atas permintaan dan di bawah arahan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS.”

Kecelakaan mematikan terakhir dari pesawat penumpang Ethiopian Airlines adalah pada 2010 silam. Ketika pesawat jatuh beberapa menit setelah lepas landas dari Beirut, menewaskan 90 orang yang diangkut oleh pesawat itu.

Sumber : Associated Press Via Foxnews

Share

Video Popular