Erabaru.net. Dong Nianhe membuka kedai mie di kota kecil Wuyan. Usaha mienya tidak menentu, kadang ramai terkadang sepi. Dia bisa menabung sedikit setelah dikurangi dengan pengeluaran bulanan.

Seperti biasa, dia selalu melihat seorang gadis cilik berusia sekitar 7 tahun ketika pulang sekolah berdiri di depan kedainya setiap hari, matanya menatap lurus ke panci mie yang mengepulkan asap sambil menelan ludah.

Entah sejak kapan gadis cilik itu mulai menghentikan langkahnya dan menatap lurus ke kedai mie-nya, dan dia juga tidak tahu sejak kapan mulai terbiasa memperhatikan gadis cilik itu ketika merebus mie.

Pada hari itu, kedai mie tampak sepi, belum ada seorang pembeli pun yang mampir. Ketika dia mendongak, lagi-lagi dia melihat gadis cilik itu memandangnya dari seberang jalan.

Karena sepi, dia merebus semangkuk mie dan mengantarnya ke seberang.

“Lapar ya, ayo makan, mumpung masih panas,” katanya sambil tersenyum ramah.

Gadis cilik itu tampak gugup dan melangkah mundur ke belakang sambil menatap penuh kewaspadaan.

Dong Nianhe tersenyum sambil menyodorkan mie untuknya, dan berkata, :”Jangan khawatir, mie ini bersih, paman juga bukan orang jahat.”

Gadis cilik itu menelan ludahnya dan berkata sambil mengayunkan tangan : “Saya, say … tidak punya uang.”

“Tidak perlu bayar, mie ini gratis untukmu,”sahut penjual mie itu.

Gadis cilik itu mundur selangkah lagi. “Kakek bilang tidak boleh sembarangan menerima sesuatu dari orang tak dikenal, meski menerimanya juga harus bayar,” kata gadis cilik itu.

Dong Nianhe tertegun seketika mendengar kata-kata gadis cilik itu, dia menjadi salah tingkah sambil memandang mangkuk mie yang berada di tangannya. Dia memandang gaun gadis cilik itu, sangat sederhana, bahkan ada bekas tambalan, – tidak ada sesuatu apa pun yang berharga di badannya.

Dia tersenyum kecut, dan meletakkan mamgkuk mie di tanah dan berkata,: “Kamu tidak perlu bayar, paman letakkan mie-nya di sini ya, makanlah kalau lapar.” Kemudian dia kembali ke kedainya.

Yang mengejutkannya, gadis cilik itu hanya menatap mangkuk mie itu sebentar sambil mengusap bibirnya lalu pergi.

Dia memandang bayangan mungil yang menghilang di ujung gang, lalu buru-buru menutup kedainya dan diam-diam mengikuti gadis cilik itu.

Dia berjalan sendirian di jalan setapak, seorang diri tanpa teman. Sekitar setengah jam kemudian dia berhenti di depan sebuah rumah dari tatakan batu. Dia melihat gadis cilik itu masuk ke dalam dan meletakkan tas sekolahnya, lalu pergi ke ladang untuk bekerja, setelah itu, memapah seorang kakek bungkuk pulang ke rumah – menyalakan api dalam tunggku, lalu memasak bubur dengan sesendok beras …

Sampai larut malam, dan lampu dari rumah batu itu sudah padam, Dong Nianhe baru pulang ke kedainya.

Perasaannya seketika bergejolak tak menentu ketika membayangkan pemandangan yang barusan disaksikannya, Entah mengapa semua yang disaksikannya itu seketika membuat perasaannya tertekan.

Gadis cilik itu, jelas-jelas masih anak-anak, tetapi mengerjakan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan usianya.

Belakangan, ia baru tahu gadis cilik itu bernama Yi Can Lian, orangtuanya bekerja di luar kota dan tak pernah kembali lagi selama lima tahun, juga tidak ada kabar sama sekali, di rumah hanya tinggal bersama kakeknya.

Paman Dong, penjual mie itu adalah orang yang baik hati, dia tidak bisa tidak merasa iba melihat nasib gadis cilik itu.

Ketika dia melihat gadis cilik itu lagi, paman Dong berkata kepada gadis cilik itu, asalkan dia mau menulis satu kata di depannya setiap hari dan mengajarinya menulis, maka paman Dong akan memberinya semangkuk mie gratis sebagai imbalannya.

Yi Can Lian ragu-ragu sejenak, lalu berkata,: “Kalau begitu, apa boleh saya menulis dua kata ? Saya mau menukarnya dengan dua mangkuk mie.”

Paman Dong tahu gadis cilik itu sayang sama kakeknya, dan dia langsung mengangguk setuju, “Tentu saja boleh,” jawab paman Dong.

Pemandangan itu disaksikan oleh tamu lain di kedai mie-nya, lalu mereka berkata dengan nada canda: “Hei, paman Dong, tolong buatkan dulu 10 mangkuk mie, saya akan ajari Anda menulis ratusan kata.”

Paman Dong melirik sekilas, dan berkata, : “Makan saja mie kamu”.

Tentu saja, pelanggannya tahu maksud baiknya, dan sengaja tidak mau mau mengatakan apa-apa lagi.

Tidak hanya itu, selama gadis cilik itu menulis satu dua kata dan menukarnya dengan dua mangkuk mie, paman Dong selalu menutup kedainya, kemudian diam-diam mengikuti gadis cilik itu dari belakang.

Setiap pagi, paman Dong juga selalu buru-buru ke tempat tinggal gadis cilik itu lebih awal, kemudian bersembunyi dan melihatnya dia pulang pergi sekolah dengan aman.

Demikianlah, tak terasa aktivitas seperti itu berlangsung selama lima tahun, sampai gadis cilik itu lulus dari sekolah dasar, dia pun tiba-tiba raib entah kemana.

Paman Dong telah lama mencari tahu keberadaan gadis cilik itu, tapi nihil. Belakangan, dia baru tahu ternyata kakeknya sakit parah, dan gadis cilik itu tak berdaya. Untungnya, seorang kerabat jauh mengetahui hal itu, kemudian membawanya ke kota …

Singkat cerita, setelah 25 tahun berlalu, paman Dong sekarang sudah berusia 65 tahun, tetapi masih sendirian. Sebenarnya, paman Dong pernah dua kali menikah, tapi berakhir menyedihkan karena mandul.

Kedai mie-nya masih buka dan telah menjadi ciri khas utama Kota Wuyan. Namun, sejak lima tahun lalu, setiap bulan ia selalu menerima kiriman Rp 20 juta tanpa nama pengirim, dan telah terkumpul miliaran rupiah selama lima tahun itu.

Mendapatkan kue besar yang jatuh dari langit itu, para tetangga di lingkungannya pun kasak kusuk, dan merasa iri dengan keberuntungan paman Dong.

Orang-orang bilang paman Dong ketiban rezeki nomplok dan sekarang sudah kaya raya, namun, paman Dong hanya tersenyum menanggapinya, dan tidak pernah berbicara tentang siapa yang mengirim uang itu untuknya.

Mereka juga mengatakan bahwa paman Dong sudah tua, tidak punya istri dan anak, untuk apa uang sebanyak itu ? Untuk apa juga buka kedai mie? Dan untuk apa repot-repot bangun pagi berjualan mie sampai malam, hanya membuat lelah dan menyiksa diri.

Ditanya segala macam seperti itu, paman Dong hanya berdiri di dekat panci mie panas, dan memandang dengan seksama jalan-jalan di bawah gedung bertingkat di seberang kedai mie-nya.

Sambil berkata sendiri: “Ya, karena saya sedang menunggu seseorang, jika kedai mie ini ditutup, saya khawatir dia tidak dapat menemukan jalan pulang ke rumah.”

Selama beberapa tahun ini, paman Dong sesekali selalu memandang ujung jalan di seberang ketika sedang merebus mie.

Meskipun jalan-jalan lama di sana sekarang telah berubah dari bangunan batu bata menjadi bangunan tinggi modern, namun, pemandangan seorang gadis cilik berdiri sambil menenteng tas merah di punggungnya di masal lalu itu telah terukir dalam hatinya, meski pun sudah sangat lama berlalu, tapi pemandangan yang mengesankan itu seperti kemarin baginya.

Namun, belakang ini paman Dong agak risau, karena bangunan di dekat kedai mie-nya akan segera dibongkar dan dibangun menjadi bangunan bertingkat tinggi, dia menjadi lesu tak bersemangat, sementara para tetangga bersorak gembira.

“Paman Dong, mienya sudah menjadi adonan tuh !”teriak pelanggannya.

Namun, paman Dong tetap saja tak bergairah. Dan tanpa sadar, mangkuk mienya jatuh ketika tetap memandang ke jalan di seberang sana.

Waktu berubah, raut wajah berubah, latar belakang juga berubah, hanya dia yang tidak berubah. Di seberang jalan sana, gadis cilik dengan seragam sekolah sederhana tapi bersih itu menatap lurus ke arahnya.

Senyum manis di wajah polosnya dan tetesan air mata dari kedua sudut matanya, :”Ayah, aku pulang.”

Dia sangat gembira dan berlari keluar dari kedai mie-nya dengan linangan air mata sukacita.

Ternyata, di dalam hatinya, paman Dong sudah menganggap gadis kecil itu seperti putrinya sendiri, sementara di dalam hati gadis cilik yang sekarang telah tumbuh remaja itu, dia sudah menganggap paman Dong sebagai ayahnya.

Dia memarkir mobilnya jauh dari kedai mie-nya, kemudian muncul di hadapannya dalam wujud yang paling sederhana.

Ternyata, sejak ia tumbuh dewasa, dia sudah mengerti segala sesuatu yang paman Dong lakukan untuknya. Sejak tumbuh dewasa, dia selalu pulang ke rumah tuanya setiap bulan dan memandangnya sekilas dari jauh. Dan sejak memiliki penghasilan sendiri, dia mengiriminya uang setiap bulan.

Paman Dong tidak punya anak, tidak punya hutang, dan hidup nyaman itu. Kini telah menemukan anak yang akan merawatnya sampai akhir hayatnya.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular