Erabaru.net. Chen Yuexia, seorang janda yang tinggal di sebuah desa, kini sudah berusia 68 tahun. Meskipun sudah tua tetapi wajahnya masih tampak bersinar cerah dan energik, saat berbicara nadanya masih sangat semangat.

Dia memiliki hubungan yang baik dengan para tetangga. Meskipun memiliki seorang putra dan satu putri, Yuexia adalah seorang wanita yang malang. Putrinya yang sudah menikah tinggal jauh darinya, sehingga membuat Yuexia kerap merasa risau.

Sehari menjelang kepergiannya tidak ada tanda-tanda apa pun. Seperti biasa, dia selalu membuat roti kukus untuk cucunya setelah pulang dari kolam ikan, malamnya sebelum tidur juga sempat menelepon Zhou Lanqing, putrinya.

Tapi tidak ada yang menyangka wanita 68 tahun yang sehat tidak pernah bangun lagi setelah tidur. Dan kepergiannya yang mendadak itu membuat penduduk desa juga merasa kehilangan dengan sosok Yuexia yang dikenal baik dan ramah itu.

Orang pertama yang menemukan Chen Yuexia telah meninggal adalah menantu perempuannya, Hu Juan.

Hu Juan adalah seorang guru di sekolah dasar di kota. Hari itu dia kebagian mengajar pagi. Saat akan berangkat, dia melihat pintu kamar ibu mertuanya dalam keadaan terbuka, lalu dia melihatnya ke dalam dan melihat muka ibu mertuanya pucat pasi terbaring di tempat tidur. ia menyentuh hidung ibu mertuanya dan terperanjat karena sudah tak bernapas …

Kabar tentang meninggalnya Chen Yuexia seketika tersebar ke seluruh penduduk desa. Putra dan putrinya bergegas pulang dan menangis pilu sambil memeluk ibunya yang sudah terbujur kaku.

Mendiang Yuexia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kedua anaknya. Zhou Zhiqiang, putra sulungnya adalah satu-satunya mahasiswa pertama di desa mereka. Sedangkan Zhou Lanqing, putrinya juga merupakan gadis pertama di desa yang menikah dengan suaminya yang jauh dari luar daerah.

Penduduk desa yang akrab dengan Chen Yuexia tahu betul dia adalah sosok wanita pemberani dan tegar.

Sementara itu, suami Chen Yuexia sendiri telah lama meninggal. Dia menjanda selama bertahun-tahun tetapi tetap memberikan pendidikan untuk anak-anaknya.

Putri sulungnya tidak melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, ia memilih bekerja di kota.

Beberapa tahun kemudian, Zhou Zhiqiang putranya diterima di sebuah universitas. Untuk membiayai kuliah putranya, mendiang Chen Yuexia yang berusia 40 tahun ketika itu bekerja sebagai babysitter atas rekomendasi putrinya di kota.

Setelah putranya lulus dari perguruan tinggi dan bekerja, Chen Yuexia tidak pulang ke kampung. Dia tetap bekerja sebagai babysitter selama 6 tahun. Dan saat memasuki usia 50, dia memutuskan untuk membangun usaha kecil-kecilan di kampung halamannya.

Namun, janda berusia 50 tahun pulang ke kampung untuk membangun bisnis menjadi bahan tertawaan penduduk kampung ketika itu.

Banyak penduduk desa menyarankannya untuk menyimpan uangnya yang puluhan juta rupiah itu untuk bekal masa tuanya, tidak usah repot-repot menyiksa diri, namun, wanita itu adalah sosok yang ulet, ditengah suara penduduk desa yang tidak setuju dengan keputusannya, ia tetap mengontrak kolam ikan yang tak dipakai lagi di desa.

Karena tidak memiliki pengalaman, ia mengalami kerugian pada masa-masa awal, belakangan baru bangkit kembali setelah dibantu putranya. Setelah lebih dari sepuluh tahun pengembangan bisnis kolam ikannya, dia berhasil mendirikan perusahaan dalam bidang akuatik skala besar pertama di kotanya.

Setelah sukses membangun usaha ikannya, orang tua seperti Chen Yuexia yang sudah senja itu tidak lupa diri. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia telah mendanai banyak siswa miskin atas namanya sendiri.

Setelah Chen Yuexia meninggal, penduduk desa menjadi penasaran dengan pembagian warisannya yang beraset puluhan miliaran rupiah itu.

Tak lama setelah kematiannya, Zhou Zhiqiang, putranya mengumumkan surat wasiat mendiang Chen Yuexia, ibunya.

Dan diluar dugaan, orangtuannya mewariskan miliaran hartanya pada Zhou Lanqing, putrinya. Sementara Zhou Zhiqiang, putranya tidak mendapat sepeser pun. Dia hanya meninggalkan sepotong selimut usang.

Dalam surat wasiatnya, Chen Yuexia menulis alasan pembagian warisannya. Dalam surat wasiat itu disebutkan bahwa Zhou Zhiqiang, putranya adalah bayi buangan yang dipungutnya, dan selimut yang diberikannya itu adalah satu-satunya barang yang melekat di badan Zhou Zhiqiang kala itu. Sedangkan Zhou Lanqing adalah putri kandungnya.

Rahasia ini telah dipendam dalam hatinya selama lebih dari 40 tahun, Karena ia merasakan tanda-tanda akhir dari hidupnya yang tidak lama lagi, kemudian diam-diam menulis surat wasiat itu.

Zhou Zhiqiang, anak laki-lak yang dipungutnya itu telah lulus kuliah dan sekarang memiliki pekerjaan yang stabil.

Sementara putrinya hanya berpendidikan sekolah menengah atas dan menikah dengan suami yang jauh dari luar daerah. Karena khawatir dengan masa depan putrinya di kemudian hari, jadi sebelum meninggal, dan agar bisa pergi dengan tenang, ia memang telah mengatur rencana masa depan untuk Zhou Lanqing, putri kandungnya.

Setelah mengetahui kenyataan itu, Zhou Zhiqiang berlutut di depan pusara ibu angkatnya dengan mata merah.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular