Omid Ghoreishi – The Epoch times

Catatan editor: The Epoch Times menerbitkan sejumlah artikel tentang penyiksaan dan kekejaman yang dilakukan terhadap tahanan hati nurani yang tidak bersalah di Tiongkok.

Erabaru.net. Sebuah Rancangan Undang-Undang untuk mengekang perdagangan organ internasional telah menerima dukungan dengan suara bulat dari komite parlemen di Kanada.

Sejumlah anggota parlemen di Komite Tetap untuk Urusan Luar Negeri dan Pembangunan Internasional Kanada mengesahkan RUU S-240 dengan amandemen pada 27 Februari. Kini akan diajukan kepada anggota parlemen untuk pembacaan akhir di Majelis Rendah Kanada (House of Commons).

Sejak 13 tahun silam, pada tahun 2006, The Epoch Times pertama kali menyampaikan berita tentang pengambilan organ secara sistematis oleh otoritas Komunis Tiongkok dari tahanan hati nurani Falun Gong.

Laporan tersebut didasarkan dari laporan saksi.  Dia berbicara kepada para dokter yang mengambil organ dari korban saat mereka masih bernyawa. Termasuk menjual bagian-bagian tubuh untuk  bisnis yang didukung oleh negara.

“Sangat menyakitkan untuk mengingat masa lalu. Organ-organ yang diambil dari manusia yang hidup diambil dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada dari mayat,” kata salah satu saksi, menggunakan nama panggilan ‘Annie’ untuk melindungi identitasnya.

Annie dan Peter di Washington DC pada 20 April 2016. Pidato mereka adalah kesaksian publik pertama mereka tentang kekejaman pengambilan organ skala besar di Tiongkok. (The Epoch Times)

Mantan suami ‘Annie’ adalah seorang ahli bedah saraf. Suaminya salah satu dokter yang ditugaskan untuk melakukan tindakan keji itu.

“Setelah pengambilan organ secara hidup-hidup, beberapa praktisi Falun Gong masih hidup dan bernafas, tetapi beberapa tubuh mereka langsung dilemparkan ke dalam oven krematorium. Tidak ada jejak tubuh mereka yang tersisa,” kata Annie.

Pada tahun yang sama, laporan saksi dikuatkan dalam penyelidikan yang dilakukan oleh mantan  anggota parlemen dan pejabat Kemenlu Kanada yang mengurusi Asia Pasific, David Kilgour — yang juga pernah bekerja sebagai penuntut selama bertahun-tahun — dan David Matas, seorang pengacara hak asasi manusia yang berbasis di Winnipeg, Kanada.

“Organ utama mereka, termasuk ginjal, hati, kornea, dan hati, diambil dengan sengaja untuk dijual dengan harga tinggi, kadang-kadang untuk orang asing yang biasanya menunggu lama untuk donator sukarela dari organ-organ tersebut di negara asal mereka,” kata Kilgour dalam sebuah panel baru-baru ini.

Diskusi panel ini  merujuk pada laporannya dan Matas yang dirilis dirilis pada 2006 silam. Kilgour menekankan bahwa hanya ada satu negara di dunia di mana negara terlibat dalam pengambilan organ secara paksa dari para korban yakni Tiongkok.

Joel Chipkar, Juru bicara Pusat Informasi Falun Gong yang berbasis di Toronto, Kanada, mengatakan perlakuan kejam rezim Komunis Tiongkok terhadap pengikut Falun Gong – sebuah latihan meditasi spiritual yang juga dikenal sebagai Falun Dafa dan berdasarkan pada prinsip-prinsip Sejati -Baik-Sabar – adalah kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah kejahatan semacam itu dilakukan terhadap siapa pun,” kata Chipkar.

“Saya pikir perbandingan terdekat yang dapat kita kaitkan dengan apa yang dilakukan Hitler — eksperimen dan kekejamannya terhadap komunitas Yahudi di Perang Dunia II.”

“Pada tahun 1999, rezim komunis Tiongkok memulai kampanye penganiayaan terhadap pengikut Falun Gong yang berlanjut hingga hari ini, mengakibatkan ratusan ribu dipenjara selama bertahun-tahun. Para peneliti mengatakan industri transplantasi Tiongkok bertumbuh pesat setelah kampanye diluncurkan.”

Mantan Pejebat Kemenlu Kanada untuk Asia-Pasifik David Kilgour (kanan) menyampaikan laporan revisi tentang pembunuhan berkelanjutan terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok untuk organ mereka. Laporan rekan penulis dan pengacara David Matas mendengarkan di latar belakang, 31 Januari 2007. (Matt Hildebrand / The Epoch Times)

Berbicara pada sidang parlemen tentang RUU untuk melawan pengambilan organ, anggota parlemen Liberal Kanada, Borys Wrzesnewskyj mengatakan bahwa sejak Perang Dunia Kedua, hingga kini dunia belum pernah melihat “Horor manusia pada skala industri oleh negara” seperti di Tiongkok.

“David Matas dan David Kilgour benar-benar menyorot kemungkinan kejahatan paling gelap di zaman kita saat ini,” katanya.

Pada 2016, Kilgour dan Matas bekerja sama dengan jurnalis investigasi Amerika Serikat Ethan Gutmann dan merilis laporan baru. Laporan mengungkapkan bahwa skala praktik terlarang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan semula.

Temuan mereka menunjukkan bahwa setiap tahun, antara 60.000 hingga 100.000 transplantasi organ terjadi di Tiongkok, sebuah negara di mana donasi organ secara angka praktis nol.

Menurut Matas, fakta bahwa rezim telah dapat melanjutkan pengambilan organ secara paksa terhadap pengikut Falun Gong dengan impunitas selama bertahun-tahun telah memberikannya kebebasan untuk memperluas pelanggarannya — kali ini terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur Tiongkok.

“Komunis Tiongkok tidak bisa tidak melihat perjalanan relatif bebas yang mereka dapatkan secara internasional dari penganiayaan terhadap Falun Gong, dari pembantaian massal untuk organ mereka,” demikian Matas dalam laporannya pada Desember 2018.

“Komunis meluncurkan ke fase refresif terhadap Uighur saat ini dengan tumpangan gratis di pikiran mereka,” demikian laporan Matas. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular