Erabaru.net. Bagi sebagian besar negara berkembang yang peduli dengan perkembangan di daerah pedesaan, terutama untuk keluarga miskin di daerah terpencil, dimana demi untuk mempersempit kesenjangan antara si kaya dan si miskin, para pemimpin kotapraja memiliki tanggung jawab untuk membantu orang-orang miskin mereka membentuk tim yang membantu para penduduk miskin tersebut.

Dalam proses membantu orang lain, ada juga hal-hal yang membuat orang tak tahan ingin “menangis sekaligus tertawa juga geram”.Seperti dalam kisah berikut ini.

Di sebuah desa termiskin, tim tersebut bertemu dengan pasangan pasutri berusia sekitar 50 tahun dan agak cacat secara fisik. Mereka berkebun beberapa are lahan, dan mereka hidup dari dari lahan yang mereka olah sehari-hari.

Selain itu, negara juga memberikan asuransi rendah dan subsidi tertentu untuk orang-orang cacat. Menurut perhitungan secara pendistribusian, mereka bisa memperoleh sekitar 15.000 yuan dalam satu tahun. Meskipun tidak tinggi, tetapi untuk dua orang yang tinggal di daerah pedesaan dengan biaya hidup yang rendah itu, mereka sudah bisa menjalani hidupnya dengan sandang pangan yang tercukupi.

Tapi yang membingungkan tim bantuan ini adalah, pasutri itu terlalu malas. Banyak kayu bakar tersedia di halaman, tetapi dipenuhi dengan tumpukan debu yang tebal. Selimut itu juga berantakan dan tampak tidak pernah dicuci.

Apalagi barang-barang di dalamnya, semuanya diletakkan semaunya, berantakan tak karuan. Panci, mangkuk, kuali dan sebagainya semuanya ditumpuk jadi satu. Singkatnya, kondisi rumah mereka seperti kapal, pecah, bahkan tidak ada tempat untuk meletakkan kaki.

Pakaian di rumah semuanya ditumpuk di atas tempat tidur, benar-benar kacau dan ekstrim berantakan … Rumah itu dipenuh dengan pakaian kotor dan berantakan di mana-mana.

Kader desa dan pekerja pengentasan kemiskinan benar-benar tidak bisa berkata apa-apa terhadap pasutri yang ekstrim malas itu.

Setiap beberapa waktu, staf desa akan mengirim beberapa penduduk desa untuk membantu membersihkan rumah keluarga miskin tersebut, tetapi setiap kali baru dibersihkan, dua, tiga hari kemudian rumah pasutri itu kembali berantakan. Penduduk desa mengatakan bahwa meskipun pasangan itu cacat, tetapi mereka masih punya tenaga, mengapa setiap kali kita yang harus membantu mereka ?

Namun yang lebih membuat mereka geram, setiap kali penduduk desa yang diatur untuk membantu mereka membersihkan rumah, pasangan itu selalu menggerutu ini itu tidak boleh disentuh/dipindahkan.

Ketika disidak pimpinan terkait, mereka mendapati keluarga pasangan itu masih tetap miskin, dan kondisi tempat tinggal keluarga itu juga masih dibawah standar, sehingga anggota pengentasan kemiskinan dan komite desa dikritik keras olehnya.

Untungnya, setelah memahami situasinya, komite desa membuat sistem kerja membantu pengentasan kemiskinan dengan prinsip : membantu orang miskin, tapi tidak membantu orang malas! Pengentasan kemiskinan harus ditranformasikan ke dalam bentuk produktivitas.

Seperti yang dikatakan netizen, pengentasan kemiskinan bukan hanya berupa subsidi. Petani di beberapa daerah menjadi lebih malas dan miskin karena mendapatkan dana pengentasan kemiskinan.

Beberapa dari mereka yang memiliki kemampuan untuk bekerja tidak mau bersusah payah bekerja. Menanggapi hal itu, negara telah mengadopsi kebijakan yang relevan untuk menyelesaikan masalah terkait dengan cara yang terarah.

Dalam kasus-kasus seperti itu, subsidi dan persediaan material yang relevan harus dikurangi dan mereka harus dipandu untuk keluar dari kemiskinan.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular