Erabaru.net.Karena tidak tahan dengan tekanan yang disebablan krisis ekonomi, pabrik mulai merumahkan sejumlah besar karyawan. Aku hanya seorang pekerja biasa, dan malangnya aku juga termasuk salah satu dari sekian banyaknya pengangguran saat ini.

Karena sudah tidak bekerja lagi, otomatis aku tidak bisa lagi tinggal di mess pabrik. Aku dan beberapa teman sekampung yang menganggur kemudian ke pinggiran kota, menyewa sebuah rumah dan tinggal di sana. Lalu naik bus setiap hari untuk mencari pekerjaan.

Banyak orang yang menganggur, termasuk sejumlah besar mahasiswa lulusan dari universitas bergengsi.

Sedangkan aku yang hanya SMP, tidak ada satu pabrik pun yang tergugah untuk menerima meski aku telah memohon berkali-kali, tetap saja gagal

Tak terasa, sebulan pun berlalu, uang bekal pun sudah hampir habis. Meskipun tidak rela, tapi aku harus menghadapi kenyataan yang kejam ini.

Dulu aku berpikir harus bekerja dengan baik di kota, mengumpulkan lebih banyak uang, membantu membiayai adik-adikku sekolah, dan meringankan beban keluarga. Namun, tak disangka, akibat krisis ekonomi itu telah menghancurkan impianku begitu saja.

Ketika menelepon ke rumah, nada bicaraku tergagap-gagap tidak tahu bagaimana baiknya memberitahu keluarga di rumah. Namun, ayahku yang seorang guru di sebuah sekolah dasar desa langsung bisa membaca apa yang aku risaukan.

“Pulanglah dulu kalau belum mendapatkan pekerjaan, banyak pekerjaan di ladang, ibumu tidak sanggup bekerja sendiri, lagipula keluarga di rumah juga membutuhkanmu,” kata ayah dari ujung telepon.

Mendengar alasan ayah, aku hanya menggangguk tanpa sadar dengan mata berkaca-kaca.

Saat berusia 18 tahun, aku sudah mulai bekerja mencari uang. Sejak saat itu, aku berkata pada diriku sendiri, apa pun yang terjadi, aku harus tegar untuk tidak menangis. Dan aku bisa bertahan untuk tetap tegar setiap menemui hal seperti itu. Tetapi kali ini, aku merasa diriku adalah orang yang paling gagal di dunia.

Aku gagal tidak bisa membanggakan keluarga di kampung, tidak bisa memberikan hidup yang lebih baik dan nyaman pada kedua orangtuaku, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku harus pulang dan hidup dengan mengandalkan orangtua lagi. Perasaan itu serasa merajam hatiku, perih tak terkira.

Sebelum pulang, aku sempat ke pusat perbelanjaan besar, membeli beberapa mainan murah untuk kedua adikku. Banyak orang berlalu lalang di mal, dan mataku tertuju pada seseorang yang seusia denganku, tampak sedang memilih kalung emas untuk ibunya. Ibunya terlihat begitu bahagia.

Tiba-tiba aku ingat ibuku yang banting tulang di ladang. Aku juga pernah berjanji pada ibuku untuk membelikan kalung emas untuknya. Tapi sekarang, apa yang bisa aku lakukan.

Adik-adikku yang masih di sekolah dasar seketika menyambutku dengan gembira ketika melihat aku pulang, mereka berlari dan memelukku sambil berseru : “Horee..kakak pulang dan bermain dengan kami lagi!”

Aku juga berpura-pura gembira mengatakan: “Ya! Kakak sudah pulang, tidak akan pergi lagi. Nanti kakak bisa bermain bersama dengan kalian setiap hari! “

Ladang di rumah tidak seberapa luasnya, aku dan ibu dapat menyelesaikannya pada pagi itu. Sehari-hari, selain mengawasi kedua adikku mengerjakan PR sekolah mereka, pada dasarnya tidak ada pekerjaaan apa pun.

Selama beberapa hari di rumah, perasaanku semakin tertekan dan depresi. Ayahku menyarankan sebaiknya pergi jalan-jalan kalau tidak ada pekerjaan. Tapi aku enggan untuk keluar. Suatu malam, aku tidur cukup awal di kamarku.

Anehnya, malam itu aku langsung tertidur begitu berbaring di atas tempat tidur. Sayup-sayup aku mendengar suara di luar pintu, tetapi terlelap lagi tak lama kemudian.

Tengah malam saat bangun mau ke toilet, dan ketika membuka pintu kamar, aku melihat ayah dan ibu tertidur di sisi dinding sebelah pintu kamarku. Mereka terbangun mendengar suara pintu dibuka. Ayah dan ibuku buru-buru berdiri dan seakan berkata pada diri sendiri, “Kenapa kita tertidur di sini ya? Aneh.”.

Dengan perasaan janggal aku berjalan ke kamar adiku dan bertanya kepadanya apa yang sedang terjadi.

Adikku sambil mengucek matanya berkata, :”Kemarin kakak masih sore sudah tidur, ayah dan ibu takut kakak berpikiran pendek, lalu mengawasi di luar pintu kamar. Kak, apa sih berpikiran pendek ? Kenapa juga kakak berpikiran pendek ? “

Aku tidak menggubris pertanyaan adikku, karena air mataku sudah tumpah pada saat itu. Aku memeluk adikku sambil menangis tertahan.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular