Erabaru.net. Pada tahun 1930-an, seorang misionaris Yahudi di Jerman memiliki satu kebiasaan, yaitu selalu menyapa “Selamat pagi” pada siapa pun yang ditemuinya ketika berjalan di desa.

Ada seorang petani bernama Miller di desa itu yang sangat acuh tak acuh terhadap sapaannya. Tapi sang misionaris tidak merasa heran dengan sikapnya yang dingin, karena pada waktu itu, orang-orang pada umumnya acuh tak acuh dan dingin terhadap bangsa dan misionaris Yahudi.

Namun, sikap dingin orang lain itu tidak mengubah kebiasaan misionaris. Setiap pagi, ia tetap saja menyapa dengan ramah kepada semua orang, termasuk Miller.

Beberapa tahun kemudian, Nazi mengambil alih kekuasaan di Jerman. Para misionaris dan semua orang Yahudi di daerah itu ditempatkan di kamp konsentrasi oleh Pemerintah Nazi.

Ketika mereka turun dari kereta, mereka berbaris dan berjalan ke depan. Seorang tentara Jerman yang memegang tongkat dan berada di garis depan berteriak, “Kiri, Kanan.”

Orang yang dipanggil ke sebelah kiri, nyawanya pasti tak tertolong lagi, sementara yang di sebelah kanan masih punya kesempatan untuk hidup.

etika misionaris itu maju ke barisan depan, dia merasa sangat takut dan menggigil. Dia mendongak dan memandang tatapan prajurit itu dengan putus asa, dan karena sudah terbiasa setiap berjumpa seseorang dia selalu menyapa, dia pun berkata,: “Selamat pagi, Tuan Miller!”

Ilustrasi. Misionaris Yahudi(Foto:Wikimedia Commons/Creative Commons License)

Miller, yang telah menjadi seorang prajurit, agak serba salah dengan kebiasaan aneh misionaris itu. Dia sepenuhnya mengerti bahwa itu adalah sapaan kebiasaannya, tetapi dalam sekilas itu, dia tiba-tiba menyadari ketulusan dari kebiasaan misionaris Yahudi itu.

Di saat menghadapi kematian, misionaris itu tetap tak berubah. Sekalipun dia tidak pernah menyahut sapaan misionaris, dan juga menunjukkan sikap acuh tak acuh ketika mendengarnya, tetapi misionaris itu tidak pernah menyerah.

“Selamat pagi!” Sahut Miller dengan suara rendah yang hanya dapat didengar mereka berdua.

Akhirnya, misionaris itu dipanggil ke sebelah kanan, sehingga lolos dari kematian.

Misionaris itu juga tidak pernah menggerutu setiap saat menyapa orang-orang yang ditemuinya setiap hari, kebiasaan itu tumbuh dalam lubuk hati yang murni, tulus dan penuh kasih.

Ketika kebiasaan itu terbentuk, sulit untuk berubah. Karena itu, kembangkanlah kebiasaan baik untuk bekal di kemudian hari, karena di saat yang tak terduga dalam hidup Anda, kebiasaan baik itu dapat menentukan nasib Anda.

Sang Buddha berkata: “Sedekah, yang terbaik bukan dengan memberi uang.”

Hanya saja dalam masyarakat modern, hal itu seperti kebiasaan, semua orang menggunakan uang sebagai tolok ukur untuk mengukur segalanya, bahkan kebaikan juga diukur dengan uang.

Berikan senyum tulus kepada orang lain. (Foto: Photo AC)

Sebenarnya, kita memiliki ribuan cara untuk memberi sedekah, dan kita dapat melakukan hal-hal baik tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Segala sesuatu yang harus Anda lakukan adalah denga menunjukkan sekeping hati yang tulus, bersahaja, dan tidak manis di bibir.

Ketika Anda bertemu seseorang di jalan, berilah senyum yang tulus, lembut, dan ramah. Ketika orang lain berkecil hati, putus asa, coba berikan dorongan semangat kepada mereka. Saat orang lain bersedih hati, hibur mereka. Ketika melihat kerja keras orang lain, pujilah dia. Dan ketika mereka membutuhkan simpati, berikan kehangatan pada mereka.

Semua kebaikan yang dikira tidak terlihat dan tidak meninggalkan jejak apa pun itu sebenarnya adalah benih yang telah Anda tanam di sekitar Anda. Suatu hari nanti, ia akan menjawab Anda dengan suara yang adil, dan semua bentuk kebaikan yang telah Anda tanamkan itu adalah segala sesuatu yang dapat Anda petik di kemudian hari.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular