Erabaru.net. Gu Facui adalah seorang wanita tegar dari Liangshan, Provinsi Sichuan, Tiongkok. Ia sendirian membesarkan kedua anaknya, dan menafkahi keluarganya termasuk ibunya yang sudah tua hanya dengan mengandalkan kebun buah-buahan. Penghasilan tahunannya tak main-main, dikisaran antara 8,4 – 10,5 milia, adalah orang terkaya sedesanya.

Gu Fucui adalah seorang wanita tegar yang berusia 36 tahun, ia sendirian membesarkan sepasang anaknya, tinggal bersama ibunya di Desa Lahong, Kabupaten Hui Li, Tiongkok.

Putranya sudah besar, sementara putrinya baru berusia 6 tahun dan dimasukkan ke Sekolah Bahasa Asing di Xichang, Prefektur Liangshan,Sichuan.

Gu Facui memiliki 6.6 hektar lahan buah delima. Ia menanam varietas unggul buah “delima biji lunak” dalam beberapa tahun terakhir. Jenis delima ini bisa dimakan seutuhnya, tidak perlu membuang bijinya, dan rasanya sangat enak.

Harga di pasar dikisaran antara Rp16.000 – 20.000, dan dengan lahannya seluas 6.6 ha itu ia dapat menghasilkan omset miliaran rupiah setiap tahun.

Gu Facui, yang ahli dalam bidang tanam-menanam itu, tidak puas sampai disitu. Dia bermitra dengan beberapa pengusaha dari luar daerah untuk memperluas lahan hingga menjadi 133. Dengan perluasan lahannya ini dia dapat menghasilkan omset dikisaran antara Rp 6 – 8 miliar per tahun.

Gu Facui sedang berbicara dengan pelanggannya, dua buah cincin emas besar yang melingkar di tangannya itu tampak sangat mencolok.

Pelanggannya mengunjungi kebun Gu Facui.

Gu Facui dikenal luas di desanya. Semua orang tahu dia adalah sesosok wanita pekerja keras. Ketika mengawali bisnisnya di tahun-tahun awal, dia meminjam banyak uang dari kerabat dan penduduk desa, tetapi semua orang bersedia membantunya.

“Beberapa keluarga yang tidak mau memberikan uang kepada anak-anaknya, justru lebih rela memberikannya pada saya, mereka tahu saya pekerja keras dan tahan banting, tentu saja juga dapat dipercaya,” kata Gu Facui mengenang masa awal membangun bisnisnya.

Meskipun Gu Facui adalah orang terkaya di desanya, namun, ia tetap turun tangan bekerja bersama dengan penduduk desa lainnya di kebun.

Meskipun usaha buah delimanya dapat menghasilkan omset puluhan miliar rupiah setiap tahun, Namun, putranya justru tidak tertarik dengan alasan sangat melelahkan, setiap hari dibakar terik matahari, membuat kulit jadi hitam legam, jadi dia lebih memilih kerja di kota.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular