oleh Luo Tingting

Amerika Serikat dan sekutunya baru-baru ini menyatakan keprihatinan yang sama atas perluasan kabel bawah laut Huawei demi jaringan 5G mereka.

Saat ini, Perusahaan pemasangan kabel bawah laut Huawei menduduki posisi keempat terbesar di dunia. Amerika Serikat khawatir bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) dapat mencuri rahasia atau meluncurkan serangan melalui kabel bawah laut.

Ada sekitar 380 kabel bawah laut di seluruh dunia saat ini yang bertanggung jawab atas 95% transmisi suara dan data antar benua, yang merupakan kunci keamanan dan ekonomi bagi sebagian besar negara.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa Huawei Marine kini telah menjadi operator kabel bawah laut keempat di dunia dan telah berpartisipasi dalam sekitar 90 proyek pemasangan atau peningkatan kabel bawah laut.

Huawei Marine pada tahun 2008 mengakuisisi Global Marine Systems Ltd., sebuah perusahaan kabel bawah laut yang telah lama membangun kabel telegraf bawah laut pertama antara Inggris dan Prancis pada tahun 1850. Huawei sekarang memiliki 51% saham dari perusahaan tersebut.

Pada September tahun lalu, Huawei Marine memasang kabel bawah tanah antara Brasil dan Kamerun sepanjang 6.035 kilometer.

Huawei Marine kini telah menjadi operator kabel bawah laut keempat di dunia dan telah berpartisipasi dalam sekitar 90 proyek pemasangan atau peningkatan kabel bawah laut.(Chris J Ratclieffe/AFP/Getty Images)

Saat ini, proyek pemasangan kabel serat optik dari Meksiko, Teluk California sudah hampir selesai. Baru-baru ini, perusahaan juga menerima pemasangan kabel bawah laut yang menghubungkan dua benua Eropa, Asia dan Afrika dengan total panjang 12.000 kilometer.

Ekspansi usaha Huawei dalam bidang pemasangan kabel bawah laut telah menyebabkan Amerika Serikat dan sekutunya meningkatkan kewaspadaan.

Laporan itu mengutip ucapan pejabat keamanan petahanan yang masih aktif dan sudah pansiun menyebutkan bahwa Huawei Marine yang cukup ahli dalam pemasangan kabel bawah laut. Hal ini memberikan kemungkinan kepada PKT untuk menyembunyikan peralatan pengintaian atau memasang perangkat yang mengubah data, yang dapat memutuskan koneksi internet negara lain jika terjadi konflik.

Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa, gangguan tersebut dapat dioperasikan dari jarak jauh oleh perangkat lunak manajemen jaringan milik Huawei dan stasiun pendaratan pantai, yang terhubung ke peralatan lain di jaringan berbasis darat.

William Evanina, Direktur Pusat Nasional Kontra Intelijen dan Keamanan AS mengatakan :  “Kabel bawah laut membawa sejumlah besar data telekomunikasi di dunia, dan pemerintah AS dan sekutunya menganggap keamanan kabel sebagai prioritas nomor satu.”

“Kami menyadari bahwa ada berbagai kebutuhan anti-spyware untuk kabel bawah laut dan masalah keamanan,” kata Evanina.

Menurut laporan itu, secara jangka panjang, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap Huawei dan bisnis kabel bawah lautnya sebagai bagian dari strategi PKT untuk meningkatkan pengaruh internasionalnya. Strategi ini termasuk pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan ekspor peralatan pemantauan dan teknologi digital lainnya.

Sejak tahun 2012, Amerika Serikat telah berupaya memblokir partisipasi Huawei dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi AS, termasuk kabel bawah laut, dan kewaspadaan semacam ini juga memengaruhi sekutunya. Pada Juni 2017, Australia berhasil memblokir pembangunan kabel laut Huawei yang menghubungkan Sydney dengan Kepulauan Solomon.

“Yang dikhawatirkan oleh Australia adalah bahwa PKT dapat menjadi ancaman bagi keamanan” kata seorang pejabat keamanan Australia.

“Ini juga mencerminkan masalah 5G,” tambahnya.

Atas dasar meningkatnya permintaan untuk 5G dan layanan lainnya, diperkirakan lebih banyak kabel bawah laut akan dibangun di seluruh dunia dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini, Amerika Serikat dan sekutunya sedang menjajaki cara untuk mengatasi potensi ancaman, terutama ancaman yang berasal dari PKT. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Atau anda menyukai video ini : 

Share

Video Popular