oleh Richard Szabo

Erabaru.net. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menegaskan tidak akan memberi tempat bagi siapa pun yang bertanggung jawab atas penembakan bersenjata di masjid-masjid di negara itu, Jumat (15/3/2019). 

Jacinda Ardern dari Partai Buruh Selandia Baru menyampaikan peringatan tegas kepada mereka yang bertanggung jawab atas penembakan massal di dua masjid Christchurch.

“Jelas bahwa ini sekarang hanya dapat digambarkan sebagai serangan teroris,” katanya pada konferensi media.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern (NTD)

Kepala Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush mengatakan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 49 orang. Menurut dia, pada konferensi pers bahwa seorang pria telah didakwa dengan kasus pembunuhan dan akan dibawa ke pengadilan pada besok. Dia tidak akan mengatakan apakah penembak yang sama bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison di akun twitternya menulis: “Saya mengutuk serangan kekerasan teroris, ekstremis, sayap kanan yang telah mencuri kehidupan begitu banyak warga Selandia Baru yang tidak bersalah saat mereka melakukan praktik ibadah secara damai di masjid-masjid mereka di Christchurch hari ini.”

Sebelumnya pada hari itu, Ardern mengatakan: “Mereka telah memilih untuk menjadikan Selandia Baru rumah mereka, dan itu adalah rumah mereka, mereka adalah kita.”

“Orang yang telah melanggengkan kekerasan terhadap kita ini mereka tidak memiliki tempat di Selandia Baru.”

Lokasi kejadian di dua mesjid terpisah (BBC)

“Jelas bahwa ini adalah salah satu hari paling kelam di Selandia Baru,” katanya. PM Selandia Baru menegaskan korban serangan seharusnya aman menganut kebebasan berkeyakinan mereka.

“Di mana mereka seharusnya berada di lingkungan yang aman dan mereka tidak berada hari ini,” tegasnya.

Polisi Selandia Baru mengkonfirmasi menangkap tiga orang pria dan satu wanita. Keeempat orang ini akan diinterogasi atas dugaan keterlibatan mereka dalam serangan mematikan di masjid-masjid tersebut.

Para penyerang ditangkap oleh staf polisi setempat. Ada beberapa langkah berani yang dilakukan polisi. ”Polisi tidak mengetahui orang lain yang mungkin terlibat tetapi tidak dapat mengesampingkan ada kaki tangan lainnya,” kata Bush. 

Pada kesempatan itu, keamanan Selandia Baru menyarankan masyarakat umum untuk menunda mengunjungi masjid di Selandia Baru sampai penyelidikan polisi berakhir dan aman kembali.”Ini adalah situasi yang sangat serius dan serius,” katanya.

Brenton Tarrant pada 15 Maret 2019 menyiarkan secara langsung aksinya ke media sosial (Screenshot)

Warga negara Australia, Brenton Tarrant (28) telah diidentifikasi sebagai tersangka utama. Sebelum beraksi dia menulis manifesto setebal 74 halaman yang diunggah ke situs web, berjudul The Great Replacement, yang diduga ditulis oleh dirinya.

Polisi percaya dokumen itu berisi bukti bahwa Tarrant berencana melakukan penembakan mematikan di masjid-masjid Christchurch untuk membalas kematian ribuan orang di Eropa.

Pada manifestonya, Tarrant menggambarkan dirinya sebagai “orang kulit putih biasa, 28 tahun. Lahir di Australia dari kelas pekerja, keluarga berpenghasilan rendah.

Pada penembakan pertama, seorang penembak memberondong tembakan membabibuta ke dalam Masjid Al Noor pada pukul 1:40 siang waktu setempat. saksi mata menyebutkan, terdapat sekitar 300 orang sedang shalat berada di mesjid ketika kejadian. Masjid kedua berada di wilayah Linwood telah ditutup untuk diselidiki lebih lanjut.

Polisi sebelumnya mengkonfirmasi semua sekolah dan gedung dewan telah dikunci. Polisi Selandia Baru mendesak semua orang di pusat kota untuk tetap tinggal di dalam rumah hingga pertolongan tiba ke wilayah tersebut.

Perdana Menteri mengungkapkan dirinya mengerti bagaimana tinggal di dalam ruangan dengan terpisah dari keluarga. Dia mendesak semua orang tetap di ruangan hingga menerima arahan kepolisian selanjutnya. Polisi kemudian membuka kunci sekolah dan berterima kasih kepada publik atas kerjasama mereka. (asr)

 Sumber : The Australian Associated Press, The Epoch Times

Share

Video Popular