Erabaru.net. Pelaku yang mengklaim terlibat penembakan brutal di Masjid Selandia Baru mengakui sebagai pria kelahiran Australia dari kelas pekerja, keluarga berpenghasilan rendah dan seorang beraliran komunis.  

Hal demikian disampaikannya dalam manifesto setebal 74 halaman yang diposting sebelum penembakan Christchurch mengerikan, Jumat (15/3/2019).

Si pelaku dalam manifesto yang kini sudah dihapus dari internet,  mengidentifikasi dirinya sebagai Brenton Tarrant dan menggambarkan dirinya sebagai “orang kulit putih biasa berusia 28 tahun.”

Tarrant menggambarkan dirinya sebagai Eko-fasis dalam tulisannya.

“Saya adalah seorang komunis, kemudian seorang anarkis dan akhirnya seorang libertarian sebelum menjadi seorang eko-fasis,” tulisnya.

Dia mengklaim telah berkomunikasi secara singkat dengan Anders Breivik, seorang teroris sayap kanan yang menewaskan 69 anggota kamp musim panas organisasi kepemudaan di Pulau Utoya, Norwegia, pada 2011 silam.  Dia mengklaim sebagai anggota ordo baru Kesatria Ksatria Templar. 

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan penembakan di dua masjid di Selandia Baru tampaknya merupakan “serangan teroris.”Polisi Selandia Baru telah mengkonfirmasi bahwa Tarrant dari Grafton di New South Wales, Australia, adalah salah satu penembak di sebuah masjid.

Pihak kepolisian menegaskan mereka menangkap empat tersangka yang ditahan sehubungan dengan dua penembakan. Pelaku terdiri tiga pria dan satu wanita, tetapi tidak mengkonfirmasi bahwa Tarrant adalah salah satunya. Polisi anti-terorisme NSW telah menyelidiki latar belakang Tarrant.

Analis keamanan Selandia Baru, Paul Buchanan mengatakan kepada Radio Selandia Baru bahwa Tarrant diduga sebagai dalang serangan yang “jelas merupakan kasus seorang penganut supremasi kulit putih.

“Tarrant mengatakan dalam manifesto bahwa ia telah merencanakan serangan selama dua tahun dan telah mengidentifikasi Christchurch sebagai lokasi serangan sejak tiga bulan lalu.”

Buchanan mengatakan Tarrant bisa bekerja dengan sepuluh orang. “Ada banyak kelompok supremasi kulit putih. Kami berbicara mungkin belasan kelompok semacam ini terutama terkonsentrasi di Pulau Selatan,” katanya.

“Sangat mungkin orang-orang ini masih berkeliaran. Mungkin ada beberapa jaringan pendukung yang secara aktif berusaha menyembunyikannya,” tambahnya.

Rekaman Livestream dari salah satu penembakan telah  beredar di media sosial. Video ini menunjukkan saat-saat ketika penembak melaju ke satu masjid, berjalan masuk dan mulai menembaki orang secara membabibuta. Kamera tampaknya diikat ke kepala pria bersenjata itu. Keaslian rekaman belum dikonfirmasi.

“Ini sangat mengganggu. Seharusnya tidak berada dalam domain publik,” kata Kepala Kepolisi Selandia Baru, Mike Bush mengenai video yang beredar.

Polisi  mendesak orang-orang menghindari membagi rekaman dan membantu melaporkan video apa pun kepada pihak berwenang sehingga mereka dapat menghapusnya.

“Kami sangat mendesak agar tautan tersebut tidak dibagikan. Kami sedang berusaha untuk menghapus rekaman apa pun, ” katanya.

Bush menegaskan penyerang telah ditangkap oleh staf polisi setempat. “Ada beberapa tindakan berani yang mutlak. Saya sangat bangga dengan staf polisi kami dan bagaimana mereka menanggapi ini,” katanya.

Dua penembakan terjadi sekitar waktu yang sama Jumat (15/3/2019) pukul 1:45 di Masjid Al Noor di Deans Ave dan Masjid Linwood di Linwood Ave. Kedua masjid berjarak sekitar 10 menit dengan berkendara.

Saksi mata menggambarkan mungkin sebanyak 40 orang terluka di lokasi satu masjid. “Saya melihat orang-orang berjatuhan di depan saya. Saya merangkak untuk melarikan diri, ”seorang saksi bernama Nour kepada New Zealand Herald. (asr)

Sumber : The Associated Press/Reuters via The Epochtimes

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular