Li Muyang-Epochtimes.com

Hubungan AS – Tiongkok kian tidak menentu setelah perang dagang antar mereka meletus. Pidato dengan nada keras Wapres AS Mike Pence tahun lalu memberikan isyarat seakan hubungan kedua negara tersebut mulai terjadi keretakan.

Saat ini, orang-orang Amerika menjadi semakin sadar akan ancaman komunis Tiongkok dan mulai membahas bagaimana menghadapi tantangan baru tersebut.

Pada 13 Maret 2019, Senat AS mengadakan sidang dengar pendapat yang bertemakan ‘Perlunya dilakukan penyeimbangan kembali hubungan AS – Tiongkok’. Beberapa anggota senat telah mengungkapkan sifat Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan menunjukkan perbedaan yang ada antara Amerika Serikat dan Tiongkok di arena internasional. Dikatakan bahwa Komunis Tiongkok tidak memiliki sekutu. Senat AS mengusulkan 3 mekanisme untuk menghadapi tantangan baru dari komunis Tiongkok.

Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan ‘Laporan Negara Hak Asasi Manusia 2018’ dengan 126 halaman di antaranya mengungkap tentang situasi hak asasi manusia di Tiongkok. Menlu AS Mike Pompeo mengatakan bahwa komunis Tiongkok menganiaya hak asasi manusia dengan tingkat yang tak ada bandingannya di dunia.

Dirilisnya laporan tentang hak asasi manusia dan diselenggarakannya sidang dengar pendapat pada saat negosiasi perdagangan AS – Tiongkok memasuki momentum yang menentukan, tidak diragukan lagi memberikan pendalaman pemahaman kepada orang tentang Tiongkok dan sifat komunis yang ia anut.

Beberapa analis mengatakan bahwa Amerika Serikat sudah dengan jelas melihat sifat dasar  PKT dan sedang melakukan introspeksi terhadap kebijakan dan strategi lama yang diterapkan kepada Tiongkok sebelumnya. Kini “drama akbar” tentang melawan PKT justru sedang naik ke atas pentas politik Amerika Serikat.

Jim Risch, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat yang baru diangkat pada awal tahun ini mengungkapkan dalam sidang dengar pendapat, bahwa PKT tidak ingin memberikan kepada rakyatnya kehidupan, kebebasan dan pengejaran terhadap kebahagiaan. Nilai-nilai ini adalah nilai yang ditakuti dan selalu dikendalikan secara ketat oleh partai komunis.

Di daratan Tiongkok, jika seorang warga negara ingin hidup sejahtera, ia harus menyerah pada pengawasan nasional dan patuh terhadap garis partai PKT. Mereka yang tidak mau menyerah akan menjadi target penindasan PKT.

Berbeda dengan nilai yang dimiliki AS, komunis Tiongkok tidak memiliki sekutu

Senator dari Iowa tersebut (Risch) mengatakan, komunis Tiongkok tidak memiliki nilai-nilai bersama seperti yang dimiliki oleh Amerika Serikat dan sekutu Amerika. Karena alasan ini, komunis Tiongkok tidak memiliki sekutu di komunitas internasional, dan inilah yang menjadi keuntungan bagi Amerika Serikat. Amerika Serikat memiliki banyak sekutu dan mitra.

Jam Risch mengatakan, dalam 20 tahun terakhir, Amerika Serikat telah membantu Tiongkok melalui berbagai cara untuk mengembangkan ekonominya, dengan harapan pada suatu hari, Tiongkok menjadi mitra yang bertanggung jawab. Tetapi fakta membuktikan bahwa jalan itu keliru, kalangan politik AS harus mengakui bahwa hipotesis pemerintah sebelumnya itu salah. Tidak peduli bagaimana berkembangnya ekonomi Tiongkok, komunisme yang mereka anut tidak akan menjadi aktor internasional yang memiliki rasa tanggung jawab.

Risch mencoba mengungkapkan beberapa masalah yang bertalian dengan komunis Tiongkok seperti, pencurian hak kekayaan intelektual, merampas lapangan kerja di AS. Mengintimidasi negara tetangga, meningkatkan kekuatan militer mereka di Laut Tiongkok Selatan dan Laut Tiongkok Timur, “mengekspor” korupsi dan model otoriter. Memanfaatkan pembiayaan murah sebagai perangkap utang, menciptakan “negara polisi”, membantu komunis Tiongkok untuk membatasi kebebasan berbicara bagi mereka yang bertentangan dengan garis-garis haluan partai.

Jam Risch percaya bahwa pemerintahan Trump sedang mengubah semua ini dan mereka telah memulai sebuah dialog baru.

Amerika Serikat dan Tiongkok masih punya waktu untuk menyeimbangkan kembali hubungan mereka. Namun, perilaku perdagangan yang sudah terbiasa dilakukan Beijing telah berakhir. Amerika Serikat tidak akan lagi mentolerir pencurian hak kekayaan intelektual, dan tidak akan lagi membiarkan orang Amerika kehilangan pekerjaan karena persaingan tidak adil.

Senator dari Partai Republik James M. Talent bersaksi bahwa “monster” PKT ini secara sistematis melanggar aturan perdagangan global dan bergentayangan di “zona abu-abu”.

Amerika Serikat membutuhkan serangkaian strategi ala masa perang dingin untuk secara komprehensif mengatasi tantangan baru dari komunis Tiongkok. Ia berpendapat bahwa situasi yang dihadapi Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini sangat mirip dengan situasi pada 10 tahun pertama setelah berakhirnya Perang Dunia kedua.

Seperti yang kita ketahui, kedua presiden AS saat itu, yakni Truman dan Eisenhower sadar terhadap ancaman agresif Uni Soviet. Jadi setelah menganalisis dan meneliti, serangkaian sistem untuk mengatisipasi ancaman Uni Soviet itu dirumuskan.

James M. Talent mengatakan, untuk memenangkan persaingan negara besar ini dan mencapai tujuan tertentu, Amerika Serikat harus membentuk tiga mekanisme.

Pertama, Partai Republik dan Demokrat harus mencapai konsensus lintas partai tentang cara memenangkan kompetisi negara besar ini.

Kedua, Washington harus mengklarifikasi posisinya terhadap Beijing dan menentukan garis merah batasan, agar hukuman dapat dijatuhkan kepada komunis Tiongkok bila mereka melanggarnya.

Selain itu, Kongres harus menetapkan serangkaian mekanisme fleksibel untuk mengatakan “tidak” kepada Beijing, tetapi langkah-langkah ini tidak dapat memicu krisis diplomatik. Namun, Amerika Serikat juga harus memelihara persenjataan yang memadai di kawasan Indo-Pasifik untuk mencegah konflik bersenjata dan menyediakan ruang bagi kekuatan dan keterampilan lunak untuk memainkan perannya.

Sidang dengar pendapat yang diadakan Kongres AS sesungguhnya menunjukkan sudah ada  pemahaman lintas-partai yang terpadu. Sudah memiliki pemahaman yang sama terhadap  sifat komunis Tiongkok.

Pemahaman tentang sifat PKT tidak terbatas pada anggota Kongres saja. Menlu Mike Pompeo juga secara terbuka menuduh komunis Tiongkok telah melanggar hak asasi manusia dengan tingkat yang tak ada bandingannya di dunia.

Aktivis HAM Yang Jianli percaya bahwa tidak mudah bagi seorang menlu AS untuk secara terbuka menyampaikan ucapan itu. Dirinya merasa senang dengan ucapan yang memang konsisten dengan faktanya.

Laporan tersebut mencantumkan berbagai tindakan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan komunis Tiongkok, termasuk penangkapan yang sewenang-wenang, penghilangan jejak, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan ilegal terhadap warga negara, serangan kekerasan dan tuntutan pidana terhadap jurnalis, pengacara, pembangkang dan pembuat petisi, pembatasan ketat terhadap kebebasan beragama rakyatnya dan sebagainya.

Laporan itu menunjukkan bahwa PKT menangkap antara 800 ribu hingga 2 juta orang warga etnis Uighur dan menempatkan mereka di “kamp pendidikan ulang”. Dan 6 kali menyinggung masalah yang dihadapi Falun Gong. Menunjukkan bahwa PKT masih melakukan kejahatan berupa mengambil paksa organ manusia dari tubuh hidup sebagaimana yang dituduhkan organisasi internasional.

Laporan juga menyebut 2 orang praktisi Falun Gong Tiongkok yang ditahan secara ilegal. yakni seorang guru di Hebei bernama Jian Lichao yang dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, dan Ma Zhenyu, mantan insinyur perusahaan ‘China Electronics Technology Group’ yang dijatuhi hukuman 3 tahun penjara.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa pengacara hak asasi manusia Wang Quanzhang dan Gao Zhisheng tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Setelah 3 tahun Wang Quanzhang ditangkap, Tahun lalu ia baru diadili secara diam-diam. Ia dijatuhi hukuman  dengan kesalahan : Berencana untuk menumbangkan pemerintahan yang sah.  Namun baik pengacara maupun keluarga tidak dapat menemui Wang. Sedangkan Gao Zhisheng yang entah ditempatkan di mana oleh PKT sejak bulan Agustus 2017, tidak ada kabar beritanya sampai sekarang.

Komentator politik Lan Shu percaya bahwa dari pidato bernada keras Mike Pence hingga dirilisnya Laporan Negara Hak Asasi Manusia dan sidang dengar pendapat di kongres, cukup membuktikan bahwa Amerika Serikat memiliki pemahaman baru tentang komunis Tiongkok. Dengan tereksposnya sifat dasar premanisme yang dimiliki PKT, dapat dipastikan bahwa cerita tentang ‘Dongguo dan serigala’ tidak akan dimainkan lagi, tetapi “drama akbar” tentang melawan PKT justru sedang naik ke atas pentas politik Amerika Serikat. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Atau anda menyukai video Ini : 

 

Share

Video Popular