Erabaru.net. Jika Anda dikurung di kamar dengan luas kurang dari 3 meter persegi, hanya ada satu toilet dan satu tempat tidur. Setiap hari akan ada orang yang mengantarkan air dan makanan. Tidak ada hiburan apa pun di kamar, selain makan dan tidur, Anda hanya bisa melamun, tetapi setelah 5 hari 4 malam, Anda bisa bawa pulang Rp 4.5 miliar, so sanggupkah Anda ?

Banyak netizens berpikir apa pun bisa dilakukannya selama ada miliaran rupiah itu.

Namun, cukup banyak juga netizen yang mengatakan bahwa tanpa ponsel dan komputer tidak mungkin bisa bertahan sendirian tanpa aktivitas apa pun di kamar.

Reaksi psikologis dan fisiologis seperti apa jika seseorang berada di ruang tertutup tanpa interaksi apa pun dengan dunia luar ?

Pada 28 Agustus tahun lalu, jaringan televisi Channel 5 Inggris menyiarkan sebuah film “In Solitary” yang merupakan percobaan terkait.

Lokasi diambil di sebuah gudang bekas di Belfast.

Para kru memindahkan empat unit rumah kontainer untuk mensimulasikan ruang tertutup.

Di dalam kontainer disediakan kursi, tempat tidur, wastafel, toilet, dan fasilitas dasar lainnya.

Dari sekian banyaknya peserta yang mendaftar, mereka mengambil tiga nama sukarelawan dengan latar belakang yang berbeda untuk berpartisipasi dalam percobaan ini.

Mereka bertiga harus tinggal di dalam rumah kontainer tanpa komputer dan ponsel, tetapi mereka dibolehkan membawa 3 macam barang pribadi, kemudian menghabiskan 5 hari 4 malam di dalam rumah kontainer.

Selama lima hari itu, setiap gerak-gerik mereka akan direkam oleh kamera di dalam ruangan itu. sementara itu, psikolog Dr. Pauline akan mengawasi dan menganalisis.

Setelah dokter Pauline menyatakan kondisi mental relawan berada bermasalah, ia akan segera meminta tim produksi untuk berhenti merekam dan membawa keluar relawan bersangkutan.

Di dalam setiap kamar, ada tombol darurat berwarna merah. Jika memang benar-benar tidak sanggup lagi, peserta dapat menekan tombol tersebut untuk keluar.

Tiga relawan ini masing-maisng berusia 28 tahun.

Pertama, Lucie, seorang selebriti online.

Aktivitas sehari-hari mengambil gambar pemandangan yang indah setiap hari dengan kameranya, dan berbagi kesehariannya di media-media besar.

Relawan kedua, Lloyd.

Dia adalah komedian online, karyanya yang diunggah secara online setiap hari memang seperti itu.

Lloyd memiliki seorang pacar yang saling mencintai …

Alasannya ikut dalam percobaan ini, hanya ingin tahu bagaimana dia akan menghadapi kehidupannya sehari-hari tanpa ponsel, komputer dan pacar.

Relawan ketiga, Charmayne.

Dia memiliki seorang putra, seorang suami yang sangat mencintainya, semua hal-hal sepele dalam hidupnya dikerjakan suaminya, aktivitasnya sehari-hari kalau bukan menemani suami dan putranya, dia pergi bermain dengan teman-temannya.

Karena itu, ia ingin lolos dari percobaan ini, membuktikan bahwa ia sepenuhnya mampu beradaptasi dalam kesendirian melalui eksperimen ini.

Pembawa acara menjelaskan aturan main kepada mereka.

Ketiga relawan itu tersenyum santai, mereka menganggap remeh dengan eksperimen selama lima hari empat malam itu.

Ketika pembawa acara bertanya berapa lama mereka bisa tinggal di ruangan seperti itu. “Jika seperti yang saya bayangkan, saya pikir 10 hari atau setengah bulan juga bukan masalah,”sahut komedian Llyod percaya diri.

Setelah menjelaskan semua aturan mainnya, ketiga orang itu masuk ke rumah kontainer mereka masing-masing, dan Charmayne tampak sangat bersemangat.

Sementara Lloyd sangat penasaran dengan segala hal di sekitarnya.

Sedangkan Lucie relatif tenang.

Setelah mereka semua berada di tempat, percobaan tertutup selama lima hari itu pun dimulai.

Sesuai aturan main, setiap orang dibolehkan membawa tiga barang pribadi. Komedian Lloyd, membawa foto pacarnya, teh Yorkshire yang cukup untuk menemaninya bertahan sampai percobaan itu berakhir, dan satu set kartu remi.

Sedangkan selebriti online, Lucie membawa beberapa alat melukis, satu pena, dan satu set dumbel/halter untuk olahraga.

Sementara itu, Charmayne membawa sekotak tanah liat, sepucuk surat sebagai pendorong semangat yang ditulis suaminhya (dia belum membacanya), dan sebotol lotion pelembab.

sedangkan George, pembawa acara tersebut, membawa satu set kartu, beberapa alat melukis, dan satu pena.

Dalam beberapa menit pertama percobaan, Charmayne tampak penuh percaya diri. Dia memperhatikan papan tulis yang disediakan oleh tim produksi di ruangan itu. Di papan dia menulis “Anda pasti bisa” untuk menyemangati dirinya sendiri. Lucie menggunakan papan tulis ini untuk membuat jadwal kebugarannya selama lima hari ke depan.

Sementara Lloyd tampak sibuk berkeliling dalam ruangan bersama kameranya.

Setelah 3 jam, semua peserta mulai kehilangan rasa kesegaran di kamar mereka masing-masing dan mulai benar-benar memasuki keadaan terisolasi. Dan Lucie masih berkonsentrasi penuh pada gambar-menggambarnya

Lloyd menggunakan kaus kaki yang disiapkan tim produksi untuknya, membuat sebuah bola kecil, dan bermain dengan dirinya sendiri.

Pembawa acara, George mencatat pengalamannya sendiri dalam buku …

Charmayne, mulai bermain dengan tanah liat yang dibawanya …

Semuanya seakan tampak normal, tetapi tiba-tiba, terjadi sesuatu : Charmayne, yang sedang bermain dengan tanah liat, tiba-tiba mulai merasa sedih dan menangis sambil menutupi wajahnya…

Setelah menenangkan suasananya sejenak, dia bermain lagi dengan tanah liatnya …

Dan karena tak tahan lagi …

Dia berdiri dan menuju ke toilet …

Bersamaan dengan itu, komedian Lloyd di kamar kedua tampak sedang berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan mengatakan bahwa ia mungkin akan begadang sampai tengah malam.

George, di kamar keempat, telah mematikan lampu dan tidur. Waktu saat itu adalah 20:45.

Charmayne kembali dari toilet dan suasana hatinya jauh lebih stabil tampaknya… ia mengambill makanannya dan siap untuk menikmatnya.

Tetapi dalam lingkungan yang tertutup rapat itu, dia berkata pada dirinya sendiri, “Saya merasa sangat panik (Saya merasa tidak tenang)”

Sementara itu. dokter yang terus mengamati di depan layar mengatakan bahwa Charmayne sebenarnya takut.

Dia mengambil surat yang ditulis suaminya untuk memberinya semangat. Saat hampir tak bisa bertahan lagi, ia membaca surat itu.

Baru 3,5 jam berlalu dari awal percobaan, Charmayne sekali lagi menghindari kamera dan pergi ke kamar mandi untuk membaca surat itu.

Tidak ada kamera di kamar mandi, dan sayu-sayup terdengar isak tangis Charmayne di dalam, “Aku ingin pulang …”

Setelah keluar, dia menghapus kata “kamu pasti bisa” yang tertulis di papan tulis …

Kemudian ragu-ragu sebentar, dan akhirnya dia menekan tombol merah dan memilih untuk keluar dari tempat itu.

4 jam 45 menit dari awal percobaan, peserta pertama keluar …

Pada saat itu, tiga peserta lainnya sedang melakukan latihan dan mengalihkan perhatian mereka …

Peserta pertama menyerah dalam waktu yang terlalu dini, masih lama dari akhir percobaan. Tim produksi kemudian mencari kandidat lain, Sarah, memasuki ruangan ketiga. Dia adalah seorang ibu tunggal, fokus kehidupannya sehari-hari hanya pada anaknya yang berusia 8 tahun.

Tiga barang yang dibawanya adalah lipstik, batu berbentuk hati, dan sebuah bantal.

Lloyd berbaring di tempat tidur dan iseng-iseng bermain dengan lensa kamera …

Sedangkan Lucie masih melukis, tampak tenang dan diam tak bersuara.

Dan pembawa acara George telah mencapai ujung emosi di luar kendali.

Dia mulai sumpah serapah ! Teriak-teriak aku benci tempat ini.

“Sebelum ambang emosional datang, semuanya baik-baik saja bagiku. Tapi begitu mencapai titik (emosi) itu, kamu tidak akan tahan untuk itu walau sedetik pun. Itu menjadi tempat yang lebih mengerikan daripada penjara.”

Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti, pada saat itu waktu baru berlalu 24 jam dari awal percobaan, peserta kedua, pembawa acara George menyerah dan keluar dari percobaan itu.

Setelah George pergi, tiga peserta lainnya masih bertahan.

Lucie tidur sesuai dengan jam fisiologis normal.

Sarah, peseta yang baru bergabung telah menunjukkan gejala risau, dan dia tidak bisa tidur di lingkungan baru yang gelap dan tertutup.

Dia bangkit dari tempat tidur.

Kemudian berjalan ke sudut kamar dan merekam video.

Lalu kembali ke tempat tidur

Tak lama kemudian pindah ke lantai meringkuk dalam seprei tebal.

Kemudian ke wastafel dan muntah dengan marah …

Itu mungkin respons fisiologis yang disebabkan oleh kecemasan ekstrem.

Sarah tampak bersemangat setelah muntah.

Waktu perlahan-lahan tiba pada hari ketiga.

Lloyd masih berbaring di tempat tidurnya dalam posisi seperti itu, menghadap kamera menggambarkan pengalaman hidupnya. Dia tahu bahwa seseorang sedang menyaksikan di belakang kamera, yang membuatnya merasa jauh lebih baik.

Tapi begitu kamera beralih ke tempat lain dan tidak lagi membidiknya, Lloyd jelas menunjukkan kemarahan, kehilangan, dan kecemasan.

“Saya benar-benar merasa bosan ketika Anda tidak melihat saya!”kata Llyod

Di sisi lain, Lucie, yang juga menghabiskan tiga harinya di rumah kontainer kecil itu masih bersikeras pada jadwal latihannya sendiri, menggantung lukisannya di dinding.

Hari keempat …

Kamar Lucie penuh dengan lukisan dari lukisannya sendiri, dan dia mulai merekam segala sesuatu yag dilaluinya selama empat hari itu melalui kamera …

Itu juga pertama kalinya dia mengungkapkan suara hatinya di bawah tatapan kamera di ruangan itu. Lucie pernah saling mencinta dengan seseorang, menghabiskan delapan tahun bersama, bekerja keras bersama dan pindah ke London bersama.

Kemudian, dia melamar Lucie, dan pada bulan Mei tahun ini, secara resmi menjadi suami-istri, tetapi hari-hari bahagia itu tidak berlangsung lama.

Hanya dalam waktu kurang dari empat bulan, sang suami mengatakan kepadanya bahwa dia jatuh cinta dengan wanita lain, dan langsung pergi meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

Delapan tahun jalinan cintanya sirna begitu saja, Lucie merasa dia tidak memiliki apa pun lagi dan kehilangan segalanya, jadi dia bergabung dalam percobaan ini, melarikan diri dari dunia yang membuatnya pilu.

Pada saat yang sama, Llyod juga mulai mengingat masa lalunya …

Meskipun dia tampak ceria dan selalu tertawa terbahak-bahak, mengunggah film lucu di Facebook yang mengocok perut penggemarnya, tetapi sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, dia juga punya rahasianya sendiri.

Llyod sangat bahagia bersama pacarnya, menjaga hubungan yang baik dengan ibunya, tetapi dia jarang menyebut tentang sosok ayahnya.

Orangtuanya bercerai, dia ikut bersama ibunya, dia tidak merasa ayahnya tidak menunjukkan tanggung jawabnya sebagai ayah, di lubuk hatinya, mungkin dia agak menyalahkan ayahnya.

Tetapi di ruangan ini sekarang, dia memahami banyak hal. “Setelah percobaan ini selesai, saya ingin menjenguk ayahku,” katanya.

Sarah, yang ikut bergabung pada pertengahan, kondisinya tidak terlalu baik. Dia duduk di tempat tidur dan menangis, sepertinya memikirkan sesuatu yang menyedihkan.

Bahkan muncul ilusi. Dia menghadap kamera dan mengatakan bahwa dia melihat seekor anjing di wastafel: “Ini telinga, dan itu adalah ekor …”

Juga beberapa tingkah yang aneh.

Dokter Pauline melihat pemandangan itu di depan layar, dan dia mulai mengkhawatirkannya, dia merenung apa sebaiknya mengeluarkannya dari percobaan itu. Bagaimana pun, tidak tertutup kemungkinan seseorang akan menjadi gila di lingkungan seperti itu. Tapi kemudian, Sarah dengan cepat menyesuaikan kembali suasana hatinya yang normal, yang membuat dokter bergumam heran.

Dokter Pauline mengatakan bahwa dalam lingkungan tertutup, setiap emosi negatif akan diperbesar tanpa batas. Dan pada dasarnya, tidak mungkin terjadi penyesuaian diri seperti itu

Satu-satunya penjelasan yang bisa diterima, mungkin karena Sarah adalah seorang ibu tunggal, yang telah lama terbiasa menyesuaikan emosinya dalam kehidupan sehari-harinya.

Karena hanya diri sendiri yang cukup kuat dan tegar, seseorang baru dapat menghadapi segala macam masalah dalam hidup, dan mencoba membesarkan anaknya seorang diri.

Eksperimen lima hari akhirnya berakhir, ketika pembawa acara membunyikan trompet sebagai tanda percobaan telah selesai.

Mereka keluar satu per satu dari rumah kontainer mereka masing-masing … Llyod tampak bukan main senangnya dan berteriak,: Pemenang pemenang, makan malam dengan ayam.”

Lucie juga meregangkan pinggangnya sejenak.

Bagi semua orang, lima hari itu seperti dunia yang terisolasi.

Selama lima hari empat malam dalam kesendirian dan kesepian itu, entah pergumulan dan pembrontakan seperti apa yang telah dialami oleh ketiga peserta yang sukses menantang percobaan itu. Kita tidak tahu, tetapi yang pasti mereka semua adalah orang-orang yang sangat kuat dan tegar, sehingga baru bisa menantang kesuksesan itu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular