Erabaru.net. Artikel ini adalah kelanjutan dari tulisan bersambung bersumber buku dengan judul Tujuan Terakhir Komunisme yang diterbitkan oleh Editorial 9 Komentar Partai Komunis Tiongkok. Kali ini masih membahas bagian Tiongkok. Tema pembahasan mengenai bab 4 yang berjudul ROH JAHAT KOMUNIS TANPA LETIH MENGHANCURKAN MANUSIA. Untuk melihat tulisan sebelumnya silakan bacakan serial sebelumnya. 

Kata Pengantar

Setelah Revolusi Besar Kebudayaan, partai komunis demi mengatasi krisis eksistensi dirinya sendiri, telah mengadopsi apa yang disebut dengan kebijakan “Reformasi Keterbukaan” (kebijakan di era Deng Xiaoping). Dalam semalam, partai komunis dari “menggunakan perjuangan kelas sebagai tugas utama” berubah menjadi “menggunakan pembangunan ekonomi sebagai pusat”, dari “mengencangkan ikat pinggang (hidup serba kekurangan) untuk membangkitkan revolusi” hingga menjadi “tolok ukur uang untuk segala sesuatu”, tampaknya telah tiba pada sebuah perubahan besar 180°.

Dilihat secara permukaan, partai komunis telah berubah dan melakukan reformasi, tercerai-berainya kubu komunisme internasional telah membuat banyak orang bernapas lega, karena menganggap ancaman bahaya komunisme bagi umat manusia telah berlalu. Sungguhkah demikian?

Persoalannya apakah masyarakat Tiongkok itu kapitalis atau sosialis, tampaknya sangat penting bagi manusia di dunia, tapi bagi roh jahat komunis boleh dibilang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh.

Buku ini berulang kali menekankan bahwa, paham komunis bukanlah semacam doktrin, semacam sistem sosial dan sebuah percobaan yang telah gagal, melainkan ia adalah sebuah roh jahat yang bertujuan melalui pemusnahan kebudayaan dan perusakan moralitas untuk memusnahkan seluruh umat manusia.

Hanya dengan menggenggam erat jalur utama “Tujuan Terakhir dari Komunisme adalah Memusnahkan Umat Manusia” ini, barulah dapat menembus gambaran kerumitan yang beragam, dapat melihat jelas peta langkah perjalanan, buku perencanaan dan diagram proses (flow chart), bahkan termasuk manual kerja dari roh jahat dalam memusnahkan umat manusia.

Diadaptasi dari poster era Revolusi Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok yang bertuliskan “Hancurkan Dunia Lama, Bangun Dunia Baru.” (The Epoch Times)

Pembunuhan dilakukan secara diam-diam di bawah tanah, tapi menghancurkan manusia tanpa berhenti sekejap pun. Partai komunis ada kalanya membiarkan manusia mati, ada kalanya membiarkannya hidup; ada kalanya membuat orang miskin dan kelaparan, ada kalanya membuat orang gemuk penuh lemak; tiba-tiba melarang orang mengumbar nafsu, tiba-tiba membuat orang berpesta gila-gilaan; pada suatu waktu menghancurkan kebudayaan, di lain waktu “memulihkan tradisi”; pada suatu periode menganut sosialisme, di lain periode menganut kapitalisme.

Dengan meneliti karakter hakikatnya, bahwa memusnahkan kebudayaan tradisional yang sesungguhnya, merusak moralitas manusia, mendorong orang menjadi anti-Tuhan dan berubah menjadi tidak humanis. Ini barulah merupakan hal yang tidak berubah dari sekian ribu perubahan dari partai komunis.

Roh jahat komunis terbentuk dari “kebencian”, demi memusnahkan manusia, ia telah menggiring orang yang telah ditipunya untuk berperilaku anti Tuhan, anti tradisi, anti-kebudayaan dan mencaci-maki leluhur.

Partai komunis selain “membunuh di sepanjang jalan”, juga memiliki satu jurus “tipuan”. “Membunuh” dan “menipu” ini berpadanan dengan “satu tangan keras” dan “satu tangan lunak” yang sering didengungkan oleh partai komunis.

Pada hakikatnya, “membunuh” dan “menipu” berasal dari dualisme inti paham komunis yaitu: “Pandangan ateis yang penuh dendam terhadap Tuhan dan filosofi pertarungan”. “Membunuh” dan “menipu” saling mengisi dan saling melengkapi, di dalam “membunuh” ada “menipu”, di dalam “menipu” ada “membunuh”.

Berbicara tentang “menipu”, yang diimplementasikan oleh partai komunis adalah segala “tipu daya” dari mikroskopis hingga makroskopis. Dari impian di lubuk jiwa manusia, hingga standar untuk membedakan baik dan jahat, terus berlanjut hingga ke permukaan yakni batas minimum sebagai manusia dan di semua aspek berisikan penipuan. Menipu uang, menipu untuk memperoleh seks, rokok palsu, arak palsu, beras beracun dan susu beracun semuanya adalah mainan anak kecil, semua ini adalah konsekuensi yang tak terhindarkan setelah partai komunis merusak moralitas.

Mengapa partai komunis dapat menipu manusia? Orang-orang mudah terkena tipu hanya karena demi memperoleh pekerjaan, naik jabatan, memperoleh kekayaan dan menikahi istri kedua? Tentu saja orang seperti ini ada banyak sekali, khususnya bagi orang yang menganggap uang dan seks itu sendiri telah menjadi dogma di zaman sekarang. Namun, bukankah pada awalnya juga ada sejumlah anak muda dari keluarga berada yang “meninggalkan keluarga dan pekerjaan” untuk ikut serta partai komunis dalam melancarkan revolusi?

Semua orang memiliki satu sisi yang bersifat kebuddhaan. Hal-hal yang melampaui idealis manusia biasa dan tempat berlabuhnya – seperti pantai seberang dari aliran Buddha atau kembali ke Sejati dari aliran Tao – kandungan makna bersifat kebuddhaan semacam ini telah dihembuskan ke dalam jiwa manusia di saat Tuhan menciptakan manusia, pencarian itu sendiri sejak lahir telah eksis di lubuk jiwa setiap manusia.

Partai komunis lalu memanfaatkan harapan indah manusia untuk menipu manusia, dengan menggunakan perasaan sentimental terhadap nasib negara  dan masa depan bangsa untuk menyesatkan orang, menggunakan konsep membebaskan seluruh umat manusia bahkan komunitas umat manusia sejenis untuk memikat pemimpin partai dan orang-orang di sekitarnya, karena selain Jiang Zemin selaku makhluk jahat sejati yang langka, semua pemimpin partai juga adalah manusia yang juga tidak dapat melihat tembus roh jahat komunis, juga adalah korban sekaligus pelaksana dari komunisme.

Jiang Zemin (epochtimes.com)

Roh jahat hanya kebetulan memanfaatkan ambisi mereka dan barangkali juga konsepsi mereka yang demi rakyat, untuk melakukan tipuan besar, yang tertipu hingga hilang adalah sifat kebuddhaan dan ideal di lubuk jiwa manusia, telah membajak sifat kebuddhaan manusia yang melampaui tubuh materi manusia itu sendiri dan yang sudah eksis sejak sediakala, seperti mengganti jalur rel kereta api, jalan kembali ke langit dari pengejaran di lubuk jiwa manusia terhadap sifat kebuddhaan, telah ditipu dan ditukar dengan jalan terowongan neraka dari “surga dunia” partai komunis. Pencapaian di bawah bendera dan advokasi partai komunis, sebenarnya merupakan hasil kerja dari roh jahat, tidak dapat bebas dari pengaturan roh jahat, tidak dapat menghindar dari tujuan terakhir roh jahat.

Roh jahat komunis mengetahui bahwa, manusia pada akhirnya akan ada satu sisi yang mengerti, ada saatnya muncul kesadarannya, bila ingin membungkus maha kebohongan ini, maka harus menggunakan cara paksa untuk mempertahankannya, dan menggunakan kebohongan yang lebih besar untuk menutupi kebohongan ini, “membunuh di sepanjang jalan” dan “menipu di sepanjang jalan” telah menjadi hal yang tidak terelakkan.

 Demi memusnahkan manusia, ia membuat kacau masyarakat, membingungkan hati manusia, itu sebabnya partai komunis juga menggenggam sebuah kata mantra yaitu “bertarung (dou, 斗)”. Mengerakkan kaum Lumpenproletariat ( kaum berandalan rendahan; sampah masyarakat dalam Marxisme) untuk bertarung dengan tuan tanah adalah bertarung, memprovokasi “Lima Kategori Merah”(kelas yang disenangi Partai Komunis Tiongkok) bertarung dengan “Lima Kategori Hitam”(kelas yang dimusuhi PKT) juga sama adalah bertarung.

Demi bertarung, maka harus membagi manusia menjadi rakyat dan musuh rakyat, sahabat dan kelompok pembangkang. Partai Komunis Tiongkok (PKT) menggunakan kediktatoran sebagai beking, memuji orang jahat hingga ke atas Langit tingkat sembilan, menginjak orang baik hingga ke bawah bumi tingkat Sembilan, hasil akhir dari pertarungan dipastikan adalah orang jahat memegang kekuasaan dan orang baik mendapat penganiayaan.

Satu jurus paling beracun yang dimiliki roh jahat komunis untuk memusnahkan manusia adalah kejahatan – karena kejahatan mengubah hati manusia.

Dalam proses, dari manusia sejak lahir dan tumbuh dewasa hingga meninggal dunia, partai komunis senantiasa berdasarkan pada kebutuhan roh jahat komunis dalam membentuk manusia, memutar-balikkan standar yang membedakan benar dan salah, baik dan jahat, “Yang baik dikatakan sebagai buruk, yang buruk dikatakan sebagai baik”, menyuruh orang meninggalkan tradisi kuno, perilaku hidup semakin rendah semakin sesuai dengan kehendak roh jahat, yang tanpa letih menghancurkan manusia.

Setelah “ideal” dari komunisme buyar di seluruh rakyat, PKT lagi-lagi menggunakan materialisme untuk mendorong dan menghasut seluruh rakyat mengejar kekayaan dan kenikmatan panca indera.Roh jahat tanpa batas memanjakan nafsu keinginan manusia, memanfaatkan segala fenomena bobrok di masyarakat sebagai senjata tajam pengendalian kekuasaan dan pada akhirnya untuk memusnahkan manusia.

Kemerosotan besar moralitas yang terjadi di masyarakat Tiongkok sekarang ini, adalah hasil dari perusakan oleh roh jahat selama beberapa dekade yang bagaikan sehari lamanya.“Menutup rapat jalan ke surga, membuka lebar pintu ke neraka”, dengan demikian PKT telah membawa seluruh masyarakat ke ambang kemusnahan.

1. PARTAI KOMUNIS MEMIMPIN TINDAKAN ANTI TUHAN DAN MENCACI LELUHUR

Komunisme telah mempersolek iblis menjadi Tuhan, pada saat yang sama memfitnah Tuhan sebagai imajinasi dari ilusi. Ia tahu, asalkan manusia tidak percaya pada Tuhan dan menyangkal Tuhan, maka hati manusia barulah dapat memberikan ruang kepada iblis.

I) PARTAI KOMUNIS MEMIMPIN TINDAKAN ANTI TUHAN

Bab 2 dari buku ini telah menjelaskan proses Karl Marx percaya pada ajaran sesat dan pikirannya berubah menjadi jahat. Lenin juga adalah pengikut ajaran sesat, dia anti Tuhan, memuja kemusnahan.

Pada saat ia berusia 16 tahun, ia pernah membetot salib dari lehernya, meludahinya, lalu menginjaknya di bawah kaki. Dia pernah berkata: “Segala konsep agama, segala kepercayaan terhadap Tuhan, …segala pemikiran terkait dengan Tuhan, sepenuhnya hanya memancing kekesalan orang, sungguh memuakkan.”

Stalin menjalankan mesin negara, memanfaatkan kekuasaan negara untuk mempromosikan ateisme dan menindas agama/kepercayaan lainnya, mendorong ideologi ateisme ke arah negara teokrasi yang ateis.

Stalin mengumumkan: “Siapa pun yang memanfaatkan prasangka religius dari massa untuk merongrong stabilitas negara, akan dihukum dengan pidana penjara paling sedikit tiga tahun sampai hukuman mati.” Nikolai Ivanovich Bukharin (ahli teori revolusi Uni Soviet) pemimpin penting internal Partai Komunis Uni Soviet pernah mendeskripsikan Stalin seperti demikian: “Dia bukanlah manusia, tapi iblis.”

Lagu Internasionale partai komunis menyanyikan: “Tidak ada Juru Selamat, tidak pula dewa ataupun kaisar”. Ini hampir menjadi buku deklarasi anti Tuhan yang  tiada hentinya didengungkan pada pertemuan-pertemuan partai komunis.

2) PARTAI KOMUNIS MEMIMPIN TINDAKAN MENCACI LELUHUR, MEMFITNAH KEBUDAYAAN TRADISIONAL

Di dalam buku Shi Jing (Book of Songs); Bab Da Ya; Bagian Wen Wang (Raja Wen dari Dinasti Zhou), tertulis: “Ingatlah dan bersyukurlah atas kebaikan leluhurmu, dengan rajin kultivasikan perilaku dan akhlak diri sendiri. Selama-lamanya turutilah kehendak Langit, barulah dapat memperoleh berkah jangka panjang.)”

Leluhur adalah asal-usul kehidupan seorang manusia, menghormati leluhur adalah persyaratan mendasar sebagai seorang manusia. Akan tetapi “menghormati leluhur” dan “ajaran xiao (berbakti)” dalam kebudayaan tradisional Tiongkok yang dianggap sangat tinggi dan penting, sebenarnya terdapat sumber yang lebih mendalam dan penyebab yang lebih penting.

Tiongkok sebagai negara yang menjadi pusat pilihan Tuhan, telah mendapat perhatian dan kepedulian dari Tuhan dengan sangat teliti. Kebudayaan tradisional bangsa Tionghoa yang luas mendalam, tanpa kecuali semuanya berasal dari warisan Tuhan.

Pada periode kuno di saat Dewata dan manusia eksis bersamaan, leluhur bangsa Tionghoa telah menyaksikan sendiri karunia mendalam dari Tuhan, dalam hati penuh dengan rasa terima kasih terhadap Tuhan dan sangat loyal terhadap misi yang dipercayakan oleh Tuhan, mereka dengan tulus menjaga karunia dan hadiah yang diberikan Tuhan kepada manusia, satu generasi demi satu generasi terus terwariskan.

3) ORANG YANG TELAH DICUCI OTAK MENYERANG KEBUDAYAAN TRADISIONAL

Setelah PKT merebut kekuasaan, melalui berkali-kali gerakan politik, misalnya: Hancurkan Empat Kuno dan Memukul – Merusak – Merampok, pendek kata seluruh pencapaian peradaban umat manusia disama-ratakan sebagai hal buruk dengan berdalih “Feodalisme – Kapitalisme – Revisionisme”.

Banyak orang suci dan pahlawan yang dimuliakan dalam sejarah bangsa Tionghoa selama lima ribu tahun telah dihujat oleh PKT dengan menggunakan metode “analisa kelas”, dan mencapai puncaknya pada saat Revolusi Kebudayaan.

Revolusi Kebudayaan Partai Komunis Tiongkok yang berniat menghancurkan kebudayaan Tradisional (Istimewa)

Pembantaian kaum elit telah menciptakan pematahan keberlangsungan kebudayaan yang sangat besar. Pengetahuan beberapa generasi tentang kebudayaan tradisional sangat minim sebagai akibat dari pencekokan ateisme dan kebudayaan partai oleh PKT.

Setelah era 1980-an, PKT mengubah taktiknya, intinya tetap menghancurkan dengan kekerasan tapi dengan cara memfitnah dan dengan terselubung, agar sulit dikenali  dan dihindari. PKT dan para sarjananya telah mendistorsi orang zaman dulu menjadi serba kerdil, buruk dan  vulgar, digunakan sebagai lawan dari propaganda diri PKT yang “agung – cemerlang – lurus”, atau sebagai “referensi sejarah” dari munculnya fenomena memuakkan di hari ini.

Menurut “intepretasi” dari PKT, Kisah Tiga Negara (Samkok; karya Luo Guanzhong dianggap sebagai “loyalitas dungu”, Kisah Perjalanan ke Barat (Kera Sakti; karya Wu dianggap sebagai “takhayul feodal”, dalam Batas Air (108 Pendekar Liang Shan) dan Impian Paviliun Merah hanya dibahas sebatas “pertarungan kelas”-nya saja, sedangkan terhadap manifestasi mendalamnya seperti etika moralitas, kebudayaan kultivasi, teori mandat Langit, konsepsi reinkarnasi, sebaliknya malah tidak dibahas dan dihindari.

PKT menguras isi otaknya agar manusia mengumpulkan perhatiannya pada beberapa hal yang disebut “rongsokan” dari kebudayaan zaman dulu, dan menyamakan kebudayaan tradisional dengan kasim kerajaan, tradisi mengikat kaki (kedua telapak kaki wanita yang  belum dewasa dibalut dengan paksa hingga tumbuhnya menjadi kecil, diperkirakan praktik ini dimulai sejak zaman Song), poligami dan intrik istana.

Para sarjana yang telah dicuci-otaknya langsung mencaci kaisar dan leluhur, menggunakan 8 huruf Mandarin “despotisme / zhuan zhi zhu yi” dan “masyarakat feodal / feng jian she hui)” untuk menghapus kebudayaan tradisional. Berasal dari kegelapan lubuk hati mereka sendiri, dari dalam perjalanan sejarah yang sangat panjang telah dipilih beberapa contoh pemimpin tak becus, pemberontakan bersenjata dan mal praktik institusi peradilan, sebagai catatan kaki untuk pandangan sejarah kelas partai komunis.

Dalam sifat manusia eksis berbarengan kebajikan dan kejahatan, di dalam kebudayaan zaman dulu tidak terhindarkan ada barang rongsokan pula, tetapi mereka selamanya tidak pernah menjadi arus utama dari kebudayaan Tiongkok, juga belum terbentuk menjadi fenomena kebudayaan yang umum, tetapi PKT dengan sengaja menyebut beberapa detail kecil dalam masyarakat zaman dulu sebagai tubuh utama dari kebudayaan tradisional dan sekaligus menyerangnya.

Dalam refleksi kebudayaan abad ke-20, ada orang yang menganggap penyebab “sifat dasar rendahan” orang Tiongkok bersumber dari kebudayaan tradisional Tiongkok, pemahaman ini sendiri sudah termakan jebakan roh jahat, sesungguhnya PKT-lah pelaku utama yang menyebabkan dan memperbesar kekurangan ini!

Orang Tiongkok sama sekali tidak cacat secara bawaan, atau penuh dengan “sifat dasar rendahan”; justru sebaliknya, di dalam sejarah Tiongkok, para warga dan keturunan dari Dewata itu telah menciptakan peradaban yang maha megah, Tiongkok adalah negeri etika dan keadilan yang dikagumi dunia.

Cacat dalam perilaku orang Tiongkok modern adalah hasil dari telah dicampakkannya kebudayaan warisan Dewata, sedangkan setelah PKT merebut kekuasaan, dengan sengaja memperkuat kekurangan-kekurangan tersebut dan dengan tanpa batas memperkuat sifat keiblisan manusia, sehingga semakin membuat moralitas orang Tiongkok merosot dengan cepatnya.

Setelah partai komunis menimbulkan bencana kalpa yang tak pernah ada sebelumnya terhadap kebudayaan Tiongkok, kembali ke tradisi merupakan satu-satunya jalan untuk kebangunan rohani bangsa Tionghoa dan membangun kembali masyarakat.

Kutukan jahat PKT secara kontinu selama beberapa dekade terhadap leluhur dan tradisi, agar beberapa generasi berikut sama sekali tidak tahu-menahu dan penuh kebencian terhadap tradisi, maka sebuah jalan harapan ini pun telah ditutup rapat. (SAN/WHS/asr)

Bersambung

Serial Tujuan Terakhir Komunisme sebelumnya, silakan diklik untuk membacanya : 

Editorial“Sembilan Komentar”: Tujuan Terakhir Komunisme

Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat  Kebudayaan Warisan Dewata (1)

Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat Kebudayaan Warisan Dewata (2)

 
 
 
 
 

Share

Video Popular