oleh Wu Ying

Pesawat Boeing 737 Max 8 telah mengalami 2 kali kecelakaan fatal dalam 5 bulan, tidak hanya merenggut 346 nyawa yang berharga, tetapi juga memaksa perusahaan Boeing untuk menghentikan penggunaan pesawat tipe baru tersebut di seluruh dunia.

Boeing juga menangguhkan pengiriman pesawat jenis ini kepada maskapai penerbangan yang memesan, perusahaan ini kini jatuh ke dalam krisis kredibilitas global. Apa masalahnya dengan pesawat 737 Max ? Rincian lebih lanjut terungkap sebagai berikut :

Bulan Oktober tahun lalu, sebuah pesawat 737 Max 8 milik maskapai Lion Air jatuh ke Laut Jawa setelah 11 menit mengudara dan merengut 189 nyawa penumpang dan krunya.

Pada 10 Maret tahun ini, pesawat jenis sama yang dimiliki maskapai Ethiopia, Ethiopian Airlines juga jatuh setelah 6 menit lepas landas dari Bandara Addis Ababa Bole International Airport menuju Nairobi, Seluruh 157 orang yang berada dalam pesawat meninggal dunia.

Setelah lebih dari 40 negara memutuskan untuk membumikan untuk sementara waktu pesawat jenis ini, Presiden Trump dan Federal Aviation Administration (FAA) pada 13 Maret mengumumkan kepada seluruh maskapai di dunia yang memiliki Boeing 737 Max tipe 8 dan 9 untuk membumikan pesawat jenis ini.

Pada hari yang sama, sebelum AS mengeluarkan pengumuman, pemerintah Kanada saat memutuskan untuk menghentikan penerbangan pesawat tersebut mengatakan bahwa kedua kecelakaan yang menimpa Max 8 ini sangat mirip, yakni pilot tidak dapat mengendalikan pesawat setelah lepas landas.

Pesawat Boeing 737 MAX memasuki jajaran penerbangan komersial pada tahun 2017. Seluruhnya memiliki 4 model, termasuk 737 MAX 7 yang yang berbadan pendek, 737 MAX 8 standar, 737 MAX 9 yang berbadan panjang, dan 737 MAX 10 yang berbadan lebih panjang.

Boeing tidak memberi tahu pilot 737 Max untuk menambahkan sistem MCAS baru

Jurnal Politik AS yang terkenal ‘Foreign Policy’ melaporkan, beberapa orang pilot dan pakar penerbangan menyebutkan bahwa beberapa pilot tidak terbiasa dengan mengoperasikan  Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pesawat jenis Max. Hal ini bisa jadi merupakan salah satu alasan kecelakaan.

Logo Boeing di gedung kantor pusat perusahaan di Chicago, AS pada 28 November 2006. (Scott Olson / Getty Images)

Dennis Tajer, juru bicara Asosiasi Perhimpunan Pilot atas nama pilot Amerika mengatakan kepada ‘Foreign Policy’ bahwa Boeing tidak memberikan informasi tentang MCAS sampai penerbangan Lion Air jatuh tahun lalu.

Dennis Tajer yang juga seorang pilot Boeing 737 mengatakan bahwa dalam pertemuan beberapa hari setelah Thanksgiving tahun lalu, seorang pejabat Boeing mengatakan bahwa mereka memilih untuk tidak mengungkapkan MCAS dengan alasan takut membebani tugas dalam penerbangan pilot (banyak yang harus dikerjakan).

“Kami memberi tahu perwakilan Boeing itu, Biar kita kewalahan ?!?”, kata Tajer.

Dennis Tajer mengatakan, dalam pertemuan itu, pilot berpikir bahwa penyebab jatuhnya Lion Air itu mungkin terkait dengan sensor dan menyatakan keprihatinan. Pada saat itu, respons yang diberikan Boeing adalah : “Kami harus menyelidiki, kami berharap penyelidikan dapat diselesaikan dalam beberapa bulan ke depan”.

FAA juga khawatir dengan fungsi MCAS, minta Boeing perbaiki dan informasikan kepada pilot

FAA dalam laporan tentang kelaikan penerbangan yang berkesinambungan yang dikeluarkan pada 11 Maret menyebutkan, pihaknya telah meminta kepada Boeing untuk memperbaiki MCAS sebelum bulan April.

Perbaikan yang diminta FAA kebanyakan menyangkut sistem kontrol penerbangan (flight control system enhancements), demi mengurangi ketergantungan pada daya ingat pilot saat mengontrol penerbangan, termasuk MCAS.

Tewolde Gebremariam, CEO Ethipian Airlines saat berwawancara dengan Wall Street Journal menolak untuk mengungkapkan rincian kecelakaan itu. Dia hanya mengatakan bahwa sebelum kecelakaan itu pilot pesawat telah memberi tahu stasiun darat Bandara Internasional Addis Ababa, bahwa pesawatnya mengalami masalah kontrol penerbangan dan meminta untuk kembali ke bandara.

Ahli : Informasi MCAS “tertanam” dalam manual Boeing 737 Max

Peter Goelz, mantan direktur pelaksana Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (National Transportation Safety Board) mengatakan kepada ‘Foreign Policy’ bahwa FAA khawatir dengan MCAS yang dipasang pada Boeing Max dan berharap kepada perusahaan Boeing untuk  memastikan bahwa setiap pilot dapat memahami logika sistem kerjanya dan cara menghadapi gangguan ketika muncul kesalahan.

“Ketika Boeing memperkenalkan 737 Max yang baru, mereka tidak secara khusus menyoroti informasi MCAS dalam manual dan instruksi pengoperasiannya”, kata Peter Goelz.

Peter Goelz mengatakan, informasi MCAS pada awalnya “tertanam” dalam manual, dan FAA secara khusus meminta Boeing untuk membiarkan pilot benar-benar memahami cara pengoperasiannya”

Pilot asal AS sendiri tidak menguasai MCAS

Ia menambahkan bahwa banyak pilot, termasuk beberapa pilot asal Amerika Serikat, tidak menguasai MCAS sampai tragedi jatuhnya Lion Air bulan Oktober tahun lalu, belum lagi para pilot di negara-negara yang kurang berkembang.

Musim gugur tahun lalu, Kepala Asosiasi Pilot Southwest Airlines, Jon Weaks memberitahu ‘Seattle Times’ bahwa para penerbang Southwest Airlines juga gelap terhadap MCAS, padahal maskapai tersebut paling banyak memiliki pesawat Boeing 737 Max.

Boeing 737-8 MAX

Investigasi awal : Pilot Lion Air 26 kali “melawan” MCAS

Boeing 737 Max memulai penerbangan komersialnya pada tahun 2017, tetapi baru 1.5 tahun berselang, Lion Air jatuh di Laut Jawa, dan penyelidikan sampai sekarang belum selesai.

Beberapa pakar penerbangan percaya bahwa sistem MCAS akan beroperasi tanpa sepengetahuan pilot setelah beberapa saat pesawat mengudara, seperti hidung pesawat dikebawahkan untuk mengurangi sudut serang (Angle of Attack). Dalam kondisi seperti itu, pilot akan secara manual menaikkan hidung pesawat, dan tanpa sadar ia akan mematikan MCAS atau sama sekali tidak tahu bahwa MCAS bisa dimatikan.

‘Foreign Policy’ melaporkan, kapten pilot Ethiopian Airlines telah mengantongi 8.000 jam terbang, co-pilot hanya 200 jam  yang jauh di bawah syarat standar penerbangan di negara Eropa.

Menurut penyelidikan awal, dari kotak hitam Lion Air yang jatuh tahun lalu itu diketahui bahwa pilot pesawat mengalami “pergulatan” hebat dengan perangkat pada 10 menit setelah pesawat take off, melawan sistem kontrol penerbangan MCAS yang akhirnya kehilangan kendali dan jatuh ke Laut Jawa. Sebelum kecelakaan itu, hidung pesawat sampai 26 kali ditekan ke bawah.

Dominic Gates, seorang wartawan senior kedirgantaraan dari ‘Seattle Times’ mengatakan : “Meskipun pilot Lion Air terus berusaha untuk menaikkan hidung pesawat saat diturunkan oleh sistem, namun hal yang aneh adalah mengapa pilot tidak terpikir untuk melakukan hal yang biasa mereka temukan, yakni mematikan sistem kontrol itu”.

Perusahaan Boeing : Akan mengembangkan perangkat lunak yang lebih aman

Chaz Bickers, juru bicara perusahaan Boeing pada 11 Maret menyebutkan dalam sebuah surat pernyataan yang diberikan kepada ‘Foreign Policy’ bahwa, sejak insiden kecelakaan Lion Air, perusahaan terus melakukan pengembangan perangkat lunak kontrol penerbangan untuk jenis 737 MAX. Untuk membuat sistem yang lebih aman bagi pesawat terbang komersial.

Tertulis dalam pernyataan itu, perusahaan Boeing telah bekerja sama dengan FAA untuk mengembangkan, merencanakan dan meningkatkan kemampuan perangkat lunak dan akan dipasang dalam armada 737 MAX dalam beberapa minggu mendatang.

Pengembangan yang dilakukan Boeing termasuk mengurangi kontrol pesawat secara otomatis oleh perangkat lunak dan meningkatkan kemampuan pilot untuk melakukan penyesuaian cepat ketika terjadi situasi darurat.

Media politik ‘Politico’ mengutip data FAA melaporkan bahwa pilot AS telah mengeluhkan masalah kontrol Boeing 737 Max 8 setidaknya 5 kali dalam beberapa bulan terakhir, yang tampaknya semua melibatkan sistem MCAS.

737 Max bukanlah model yang diunggulkan oleh Boeing

Beberapa ahli menunjukkan bahwa satu dekade yang lalu Boeing pernah ingin mengembangkan model baru untuk menggantikan model 737 yang lama, tetapi terpaksa kembali ke jalan lama dan memproduksi pesawat seri 737 Max untuk bersaing dengan Airbus Prancis A320neos.

Pada tahun 2011, Airbus berhasil memasuki pasar AS dan membujuk American Airlines untuk memesan 260 unit A320neos.

Apakah Boeing memajukan posisi mesin 737 Max ke depan ?

Boeing menggunakan mesin yang lebih baru untuk pesawat jenis 737 Max, dan menempatkan mesin dalam posisi lebih ke depan guna meningkatkan kapasitas pendakian pesawat. Namun, itu relatif menyebabkan masalah yaitu hidung pesawat menukik terlalu jauh yang membuat  pesawat kehilangan kecepatan setelah lepas landas.

Para ahli mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah ini, Boeing telah menciptakan MCAS, sebuah sistem yang secara otomatis menstabilkan pesawat.

Ahli : MCAS akan beroperasi secara otomatis pada ketinggian 1000 kaki

Para ahli mengatakan bahwa ketika Boeing mempromosikan mesin baru 737 Max, ia tidak memberi tahu pilot bahwa pesawat itu sudah ditambahi sistem MCAS.

Dennis Tajer mengatakan, biasanya risiko tertinggi adalah saat pesawat lepas landas. Karena ketika pesawat naik sekitar 1.000 kaki (sekitar 305 meter) di udara, jika perangkat lunak menganggap hidung pesawat terangkat terlalu tinggi, sistem MCAS akan otomatis bekerja dengan menekan hidung ke bawah. Ini yang membuat pilot jadi kalang kabut.

“Tindakan MCAS ini akan mengganggu konsentrasi pilot. Pilot tentu tidak tahu bahwa sistem akan tiba-tiba menekan turun hidung pesawat dalam 10 detik, dan secara spontan pilot akan berjuang melawannya,” kata Tajer.

Ia juga mengatakan bahwa pilot Amerika telah mengeluh bahwa MCAS hanya bergantung pada satu sensor tetapi bukan beberapa sensor. (Sin/asr)

Share

Video Popular