Erabaru.net. Alan adalah seorang pemuda tanggung dari desa. Karena ayahnya sudah meninggal saat dia masih kecil, sementara ibunya adalah seorang petani dengan sedikit gangguan keterbelakangan mental, sehingga hari-hari yang dilalui keluarganya sangat memprihatinkan.

Karena hanya sekolah sampai tingkat SMP, Alan bekerja sambil belajar teknik di pabrik yang berada di desanya.

Ketika melamar kerja di pabrik, awalnya pabrik menolaknya, karena Alan terlihat masih kecil, tetapi tampaknya sang bos smpatik kepadaya setelah melihat latar belakang Alan, akhirnya sang bos mengesampingkan syarat usia pekerja dan menerimanya bekerja di pabrik.

Lingkungan pabrik tidak terlalu besar, Alan juga sangat rajin dalam bekerja. Saat tidak ada pekerjaan, dia selalu kesana kemari membatu karyawan senior, dan hanya dalam waktu dua tahun, Alan telah menjadi teknisi yang handal di pabrik. Melihat itu, bosnya sangat senang, dan dua tiga kali menaikkan gajinya dalam waktu yang singkat.

Bosnya sangat baik pada Alan. Meski tidak pintar dalam bicara, tapi Alan sadar akan kebaikan bosnya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah bekerja lebih keras.

Ilustrasi.

Pagi itu, Alan tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari tetangganya, mengatakan bahwa ibunya kejang lagi dan sudah tidak sadarkan diri.

Uang hasil kerja kerasnya dalam dua tahun terakhir hampir selalu digunakan untuk biaya pengobatan ibunya. Tidak sedikit memang, tapi tidak ada simpanan karena semua uangnya dihabiskan untuk pengobatan ibunya.

Karena mendesak, Alan pun menjadi gelisah dan panik, kemudian ke kantor bosnya dan dengan terpaksa mengajukan pinjaman uang pada bosnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, bosnya lansgsung transfer Rp 60 juta ke rekening Alan, kemudian menyuruh Alan segera membawa ibunya ke rumah sakit.

Sebelum pergi, Alan bermaksud membuat surat pinjaman utang, tapi bosnya menolaknya, tetapi Alan merasa tidak baik pinjam uang tanpa surat pernyataan, akhirnya dia membuat sendiri surat pernyataan utangnya.

Ilustrasi.

Alan membawa ibunya ke rumah sakit di kota. Namun, ibunya tak tertolong. Sementara itu, karena terburu-buru, Alan ditabrak mobil hingga terlempar dan dilindas lagi oleh mobil lain yang melaju kencang.

Alan baru siuman setelah setengah bulan lamanya dirawat rumah sakit, namun, ia kehilangan satu lengannya. Bukan main pilunya Alan mengetahui dirinya seperti itu dan tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidupnya pada hari-hari mendatang.

Dia juga sadar bosnya pasti tidak mau menerimanya lagi kerja di pabrik dalam kondisi seperti itu. Dan dengan keadaannya sekarang, hatinya juga tidak tenang karena masih menyisakan utang pada bosnya. Setelah sembuh, dia membawa barang-barangnya menumpang pada sepupu jauhnya.

Ilustrasi.

Tak terasa tiga tahun pun berlalu, berkat keuletannya, Alan berhasil melatih sebelah lengannya dan bekerja di lokasi konstruksi, bahkan telah dipromosikan sebagai supervisor lapangan karena ketrampilan kerja dan kecerdasan otaknya.

Alan juga telah mengumpulkan uang Rp 60 juta yang akan dia pakai untuk membayar utangnya kepada mantan bosnya.

Alan memanfaatkan perayaan Tahun Baru berkunjung ke rumah bosnya sambil membawa dua dus buah-buahan.

Sebelumnya Alan tidak menelepon bosnya bahwa ia akan berkunjung ke rumahnya. Pertama ia ingin memberi kejutan pada bosnya dan meminta maaf karena ia pergi begitu saja tanpa pamit ketika itu dan selama beberapa tahun juga tidak pernah menghubunginya.

Namun, Alan tidak menyangka, ketika istri bosnya menyambut kedatangannya, ia menceritakan bahwa suaminya telah meninggal karena serangan jantung.

Alan terpaku seketika saat mendengar cerita istri almarhum bosnya itu. setelah menenangkan diri sejenak, Alan menyerahkan uang dan surat hutang kepada istri bosnya.

Tapi istri mantan bosnya itu menolaknya, dia mengatakan bahwa mendiang suaminya tidak pernah berpikir untuk meminta Alan membayar utangnya.

Lalu istri bosnya memperlihatkan video yang dia rekam tanpa sengaja saat mendiang suaminya merobek surat utang yang Alan buat.

Ilustrasi.

Istri mantan bosnya mengatakan, waktu mempekerjakan Alan juga karena saat melihat Alan ketika itu, mendiang suaminya seakan melihat dirinya sendiri semasa muda.

Melihat Alan bekerja apa pun selalu dengan tulus dan serius, dan membiarkannya bekerja sambil belajar teknik mesin dan dia bahkan merasa jauh lebih bahagia daripada keuntungan yang diperolehnya sendiri.

Alan terharu mendengar cerita nyonya rumah sosok mendiang bosnya. Alan dengan tulus mengatakan kepada istri mantan bosnya bahwa tanpa suaminya, dia juga tidak akan bisa berdiri di sini sekarang.

Alan berkata kepada istri mantan bosnya, bahwa dia bersedia mengabdi padanya melanjutkan pekerjaannya di pabrik sampai akhir hayat dan merawatnya. Mendengar perkataan Alan, istri mantan bosnya itu seketika memeluknya dan menangis haru.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular