Joan Delaney – The Epoch Times

Catatan editor: The Epoch Times menerbitkan sejumlah artikel yang mengungkap penggunaan penyiksaan oleh rezim Tiongkok terhadap kelompok-kelompok yang menjadi targetnya, dan penderitaan serta bahaya yang ditimbulkannya bagi mereka yang menjadi sasarannya.

Seorang dokter dengan Komite Palang Merah Internasional yang telah mengunjungi banyak pusat penahanan di seluruh dunia mengatakan penyiksaan psikologis dapat memiliki efek yang sangat ekstrim.

“Penyiksaan selama interogasi sering kali mencakup metode yang tidak secara fisik menyerang tubuh atau menyebabkan rasa sakit fisik yang sebenarnya – namun memerlukan rasa sakit dan penderitaan psikologis yang parah dan sangat mengganggu indera dan kepribadian,” tulis Dr. Hernan Reyes dalam sebuah artikel berjudul “Bekas Luka Paling Buruk di Pikiran : Siksaan Psikologis. “

Menurut Amnesty International, kurang tidur dan pengurungan adalah dua metode penyiksaan psikologis yang biasa digunakan di Tiongkok. Meski demikian, masih banyak lagi termasuk ancaman terhadap anggota keluarga, periode introgasi yang ekstrim dan menanamkan rasa takut.

Sejumlah target praktek ini termasuk mereka yang berasal dari etnis minoritas Tibet dan Uighur yang dituduh “separatisme,” pengacara hak asasi manusia, pembangkang politik, pengikut Falun Dafa, aktivis demokrasi, dan anggota gereja bawah tanah.

Komunis Tiongkok memiliki sistem pusat pendidikan ulang yang besar, yang biasa disebut pusat pencucian otak. Mungkin pusat semacam itu terbesar — yang telah digambarkan sebagai kamp konsentrasi oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia — adalah yang ada di wilayah Xinjiang, di mana setidaknya satu juta etnis Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan.

BACA JUGA : Kejahatan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya : Pembunuhan Massal yang Didalangi Negara Terhadap Tahanan Hati Nurani di Tiongkok untuk Organ Tubuh Mereka

Mereka menjadi target sasaran indoktrinasi psikologis, termasuk dipaksa untuk menghadiri pelajaran pendidikan ulang politik dan menyanyikan lagu-lagu patriotik partai komunis.

Menurut laporan Independent, umat Islam telah dipaksa untuk mencela Islam dan bersumpah setia kepada Partai Komunis Tiongkok.

John Pomfret dan Philip P. Pan dari Washington Post pernah memberikan laporan tentang bagaimana penyiksaan mental dan fisik digabungkan dalam upaya untuk mematahkan praktisi Falun Gong.  Korban yang ditargetkan jadi sasaran melalui proses ini menggambarkan dengan “pembunuhan spiritual.”

Audiensi Komisi Eksekutif AS-Tiongkok pada Juli lalu diberitahu bahwa para tahanan sering ditahan di ruang isolasi tanpa makanan dan air dan dilarang tidur.  Sasaran kerap diinterogasi tentang praktik keagamaan mereka dan tentang melakukan perjalanan ke luar negeri.

Sebuah laporan oleh Kampanye Internasional untuk Tibet menemukan bahwa tingkat kekerasan yang diarahkan pada tahanan politik Tibet seringkali ekstrem. Hingga mengakibatkan warga Tibet dibiarkan tidak hanya dengan cedera fisik permanen tetapi trauma psikologis yang serius.

Praktisi Falun Dafa ditampilkan di kamp kerja Masanjia menonton video yang dimaksudkan untuk “mendidik kembali” mereka selama tur propaganda yang diatur oleh otoritas kamp pada 22 Mei 2001. (Foto AP / John Leicester via The Epochtimes)

Sebuah laporan tahun 2018 oleh Pusat Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Tibet menemukan bahwa sejak 2012, para biksu dan biksuni diusir dari berbagai kuil.  Mereka dipaksa mengikuti pusat-pusat pendidikan ulang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan tanpa akses ke proses hukum yang wajar.

BACA JUGA : Sadisnya Penyiksaan Psikiatri Rezim Komunis dan Dampak Penderitaan Mengerikan yang Tak Terucapkan

Selama bertahun-tahun, umat Kristen di Tiongkok menghadapi tekanan psikologis yang berkelanjutan secara keseluruhan karena otoritas menangkap para pendeta, menutup gereja dan jemaat, membakar Alkitab, dan mencopot salib dari gereja.

Pada perkembangan terakhir, Mission Network News melaporkan bahwa ada rencana yang sedang berlangsung untuk menulis ulang bagian-bagian Alkitab agar lebih kompatibel dengan ideologi negara.

Menurut The Christian Post, pihak berwenang menekan hingga 20.000 gereja rumah bawah tanah agar tutup atau bergabung dengan gereja yang disetujui partai komunis ketika Beijing berusaha untuk memperketat kontrol atas kelompok-kelompok agama.

BACA JUGA : Lebih dari 100 Metode Penyiksaan Sadis yang Digunakan di Penjara Komunis Tiongkok

Penggunaan pusat pencucian otak untuk memenjarakan pengikut Falun Dafa sangat luas di Tiongkok.

Menurut pengamat hak asasi manusia, sejak rezim Komunis Tiongkok mengumumkan pada 2013 bahwa mereka menghapuskan sistem kamp kerja paksa, pusat pencucian otak telah menjadi fasilitas utama untuk menganiaya praktisi Falun Dafa.

Di pusat-pusat ini, penganutnya mengalami pelecehan dan ancaman verbal yang konstan serta penyiksaan secara fisik.

Mereka juga sering dicekok atau disuntik dengan obat-obatan yang merusak sistem saraf untuk mencoba memaksa mereka melepaskan keyakinan mereka. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular