Oleh Fan Yu, Epoch Times

Erabaru.net. Investasi yang bertanggung jawab secara sosial telah mendapatkan daya tarik dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya, produk yang berkinerja buruk diabaikan oleh investor paling serius, telah menjadi alasan utama untuk investasi yang masuk akal dan pembeda antara manajer portofolio.

Ada pertumbuhan investasi yang nyata di perusahaan yang berdampak positif dalam hal masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Pada 2018, aset sebesar 12 triliun dolar Amerika Serikat yang dikelola secara profesional mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola sesuai dengan kriteria mereka, menurut laporan 2018 yang dikeluarkan oleh Forum untuk Investasi Berkelanjutan dan Bertanggung Jawab, yang mewakili 25 persen dari semua uang yang dikelola secara profesional di aset Amerika Serikat, dan pertumbuhan 38 persen sejak 2016.

Terlepas dari keunggulan lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam konstruksi portofolio, investasi lingkungan, sosial, dan tata kelola sebagian besar masih terbatas pada perusahaan Amerika Serikat. Dengan kata lain, hanya perusahaan Amerika Serikat yang dinilai berdasarkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Fakta bahwa lingkungan, sosial, dan tata kelola hanya berlaku untuk perusahaan Amerika Serikat — dibandingkan dengan rekan mereka di seluruh dunia, yang bersaing di pasar global yang sama untuk pelanggan dan pasar keuangan global yang sama untuk modal — semakin memprihatinkan.

Standar ganda ini adalah paling mengerikan saat membahas investasi di Tiongkok. Tiongkok adalah ekonomi terbesar kedua di dunia, dan ingin dipandang sebagai mitra setara dalam negosiasi yang sedang berlangsung menuju kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat. Perusahaan teknologi, seperti Huawei, berupaya untuk memiliki tingkat yang sama ketika memberikan layanan kepada pemerintah global, dan, secara umum, Beijing percaya bahwa pasar sahamnya adalah transparan, likuid, dan bergengsi seperti pasar saham di Hong Kong, Singapura, dan Tokyo.

Namun, saat datang untuk berinvestasi di perusahaan Tiongkok, investor asing tiba-tiba tidak menghiraukan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola. Manajer investasi dan penyedia indeks berkeinginan untuk terjun ke pasar Tiongkok, dengan mengabaikan lensa yang pragmatis dan skeptis (dan dengan kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola, yang dianggap etis) yang mereka gunakan untuk menilai saham lain.

Paling-paling, terjadi ketidakjujuran ​​— kemungkinan terburuk, sepertinya ada pengaruh politik Tiongkok di tempat kerja.

Pertumbuhan lingkungan, sosial, dan tata kelola yang jelas

Secara pasti, lingkungan, sosial, dan tata kelola adalah sangat luas — untuk mengukur seberapa “baik” sebuah perusahaan di luar kinerja keuangan. Seluruh industri dapat ditendang keluar, seperti yang terlibat dalam penjualan tembakau dan alkohol, atau membuat senjata dan amunisi. Hal ini dapat berlaku untuk dampak lingkungan perusahaan — apakah produknya membantu atau merusak lingkungan, apa jejak karbon perusahaan, atau apakah menghasilkan limbah beracun, dan bagaimana cara mengurangi dampaknya?

Hal ini juga dapat diterapkan pada tata kelola dan perilaku perusahaan seperti etika, transparansi, gaji eksekutif, keragaman dalam budaya dan pemikiran, struktur kepemilikan, dan apakah menunjukkan perilaku anti-persaingan.

“Kami melihat perpindahan kekayaan dari baby boomer (generasi yang lahir pada tahun 1946-1964) ke generasi milenium, yang lebih tertarik pada tanggung jawab sosial,” kata Mamadou-Abou Sarr, kepala investasi berkelanjutan di Northern Trust Asset Management, yang mengelola total aset senilai 1,1 triliun dolar Amerika Serikat, kepada majalah Barron baru-baru ini.

“Generasi muda menuntut opsi lingkungan, sosial, dan tata kelola,” kata Mamadou-Abou Sarr.

Hal ini adalah benar bagi siapa pun yang akrab dengan perkembangan terkini dalam industri manajemen aset. Lingkungan, sosial, dan tata kelola tidak lagi merupakan sektor yang berkinerja buruk; malah  menjadi yang terdepan dan utama dalam memilih saham. Di masa lalu, ada sedikit dorongan bagi perusahaan dan CEO untuk menghormati dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola, tetapi kini, investor berhak mengungkapkan pendapat dan memilih dengan modal yang dimilikinya.

Dan secara umum, ini merupakan perkembangan yang positif.
Mamadou-Abou Sarr mengatakan bahwa penyaringan lingkungan, sosial, dan tata kelola dari Northern Trust Asset Management memperhatikan adanya tanda bahaya dalam tata kelola Volkswagen Group AG, yang menghentikan kucuran dana kepada Volkswagen Group AG sebelum skandal emisinya terungkap. Yang memungkinkan sebagian besar kliennya terhindar dari penurunan sekitar 23 persen yang diderita saham Volkswagen sesudahnya.

Saham-A Tiongkok Tidak Dapat Diabaikan

Itulah contoh di mana lingkungan, sosial, dan tata kelola bekerja dan pemilih saham Northern Trust Asset Management harus diberi tepuk tangan. Namun upaya itu harus diperluas.

Miliaran modal akan mengalir ke Tiongkok. Penyedia indeks global MSCI (Morgan Stanley capital International) baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan alokasi saham-A Tiongkok di indeks pasar global dan negara-negara berkembang pada akhir tahun 2019. Penyedia indeks lainnya, Russell FTSE, juga meningkatkan paparan terhadap saham Tiongkok dalam indeks-indeksnya.

Ini berarti banyak dana pasif dan dana yang diperdagangkan di bursa akan ditetapkan untuk pembelian otomatis saham A Tiongkok pada tahun 2019, yang akan membanjiri perusahaan dan pasar saham di Tiongkok dengan modal asing baru.

Ini adalah waktu untuk melakukan diskusi lingkungan, sosial, dan tata kelola yang serius sehubungan dengan perusahaan Tiongkok.

Saham-A terbesar Tiongkok yang terdaftar adalah perusahaan milik negara Tiongkok seperti Bank of China, PetroChina, dan Sinopec. Perusahaan besar milik negara seperti ini dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok dan digunakan oleh keluarga pejabat Partai Komunis Tiongkok sebagai celengan untuk mendanai gaya hidup dan kekayaan politik mereka yang dinamis.

Bahkan perusahaan swasta, seperti Alibaba dan Baidu yang terkenal, secara tidak langsung dikendalikan atau dipengaruhi oleh Partai Komunis Tiongkok. Anggota Partai Komunis Tiongkok secara resmi menjabat sebagai dewan pengurus, dan anggota Partai Komunis Tiongkok menduduki jabatan di sebagian besar bisnis bukan milik pemerintah di Tiongkok. Beberapa perusahaan, seperti Hangzhou Hikvision Digital Technology, secara langsung terlibat dalam administrasi wilayah kepolisian Partai Komunis Tiongkok di Xinjiang, tempat Muslim Uyghur dipenjara secara massal di kamp konsentrasi, sementara perusahaan lain seperti AVIC International Holdings adalah anak perusahaan dari perusahaan milik negara Tiongkok yang mengembangkan persenjataan untuk Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

“Perusahaan besar milik swasta di Tiongkok lebih cenderung mirip perusahaan milik negara Tiongkok, karena dalam beberapa tahun terakhir telah banyak melakukan bisnis dari Partai Komunis Tiongkok, Liga Pemuda Komunis dan bahkan komite inspeksi disiplin,” tulis kolumnis China South Morning Post bernama Zhang Lin, surat kabar yang berbasis di Hong Kong, dalam kolom tajuk rencana bulan November 2018.

Bahkan statistik Partai Komunis Tiongkok sendiri melaporkan bahwa 68 persen perusahaan yang bukan milik negara Tiongkok, dan 70 persen perusahaan yang didanai asing telah menjalankan bisnis Partai Komunis Tiongkok pada tahun 2016.

Undang-Undang Intelijen Nasional tahun 2017 mewajibkan setiap organisasi di Tiongkok dan warga negara Tiongkok untuk membantu dan bekerja sama dengan upaya intelijen nasional Tiongkok. Mengingat luasnya definisi “intelijen nasional,” jelas bahwa semua perusahaan besar atau kecil, swasta atau milik pemerintah, pada akhirnya harus mengabulkan permintaan Partai Komunis Tiongkok bila  diminta.

Merinci semua cara di mana Partai Komunis Tiongkok gagal memenuhi sebagian besar faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola berada di luar cakupan artikel ini. Cukuplah untuk mengatakan bahwa  daftarnya panjang.

Beijing juga telah menetapkan sistem pengawasan paling komprehensif di dunia untuk melacak setiap gerakan setiap warga negaranya. Hal ini terwujud dalam “skor warga” yang menilai setiap warga negaranya dan menentukan jenis layanan apa yang dapat diakses oleh warga negaranya itu.

Sementara itu, Partai Komunis Tiongkok — sebagai pengingat, sebuah entitas yang berupaya mengendalikan dan memengaruhi semua bisnis Tiongkok — telah melakukan kekejaman hak asasi manusia seperti memenjarakan dan menyiksa jutaan Muslim Uyghur, Kristen Bawah Tanah, dan praktisi Falun Dafa.

Hal ini bukan untuk secara paksa menenun faktor sosial ke dalam keputusan investasi dan pengembalian finansial. Tetapi karena lingkungan, sosial, dan tata kelola semakin terkenal, kita tidak dapat berprasangka dalam penerapannya. Dan seperti contoh yang ditunjukkan oleh Volkswagen Group AG, investor yang melakukan uji tuntas lingkungan, sosial, dan tata kelola yang jujur ​​dapat diberi penghargaan.

Dalam lingkungan investasi saat ini, investor tidak dapat menyerah pada kemunafikan — menganut kebaikan lingkungan, sosial, dan tata kelola di satu sisi, namun sama sekali mengabaikannya ketika berinvestasi di Tiongkok. (Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular