Erabaru.net. Dianrong, salah satu pemberi pinjaman peer-to-peer terbesar di Tiongkok, memberhentikan staf dan menutup toko. Perusahaan Dianrong menyalahkan rejim Tiongkok atas masalah perusahaannya dan mengatakan tidak adanya kebijakan yang jelas terbukti menjadi beban berat.

“Beberapa orang bertanya-tanya mengapa pertumbuhan Dianrong melambat dalam dua tahun terakhir. Hal itu bukanlah karena kami tidak mau atau tidak dapat tumbuh. Hal itu karena kami diberitahu untuk tidak tumbuh,” kata Guo Yuhang, pendiri Dianrong dalam memo internal yang dilihat oleh Reuters.

“Sementara industri telah berkembang dengan cepat ke skala besar dan kompleks selama bertahun-tahun, arahan peraturan terus berubah dan berbagai daerah memiliki aturan yang berbeda,” kata Guo Yuhang, dalam kritik terhadap pembuatan kebijakan di Tiongkok yang langka terjadi.

Dianrong menutup 60 dari 90 toko offline dan memberhentikan sekitar 2.000 karyawan, demikian laporan Reuters pada awal Maret 2019.

Perusahaan Dianrong yang berbasis di Shanghai ini didirikan bersama oleh Soul Htite, yang juga berada di belakang pemberi pinjaman online yaitu LendingClub Corp. di Amerika Serikat, dan didukung oleh dana pemerintah Singapura yaitu GIC Pte Ltd. dan Standard Chartered Private Equity.

Tindakan keras Beijing selama beberapa tahun terhadap praktik pemberian pinjaman berisiko dan leverage yang berlebihan telah menyebabkan gelombang peer-to-peer runtuh dan memicu protes para investor yang marah yang kehilangan tabungan mereka.

Risiko “badak abu-abu”, atau ancaman yang sangat jelas namun terabaikan, terus meningkat, termasuk risiko dari keuangan internet seperti pemberi pinjaman peer-to-peer, seorang pejabat bank sentral menulis dalam publikasi resmi pada 18 Maret 2019.

Industri ini dapat menghadapi gelombang pengawasan peraturan yang baru setelah beberapa perusahaan teknologi keuangan dikecam oleh CCTV (China Central Tele Vision) yang dikelola pemerintah selama acara TV dalam rangka hari hak konsumen tahunan di Tiongkok pada hari Jumat.

Dianrong, yang berkembang pesat pada tahun 2017-2018 dalam lingkungan peraturan yang longgar, harus menurun pada paruh kedua tahun 2018, kata Guo Yuhang dalam memo itu.

Ia menambahkan bahwa banyak bisnis yang sangat menjanjikan yang dikembangkan oleh Dianrong sebagai bagian dari ekspansi agresifnya telah berubah menjadi “beban berat dengan biaya tinggi yang tak tertahankan” bagi perusahaan Dianrong saat peraturan tiba-tiba diperketat.

Volume transaksi luar biasa perusahaan Dianrong telah menyusut menjadi 10 miliar yuan (1,49 miliar dolar Amerika Serikat) dari puncaknya sebesar 14 miliar yuan, kata Guo Yuhang. Beberapa karyawan tidak dibayar selama dua bulan, kata Guo Yuhang.

Bank sentral Tiongkok belum menanggapi permintaan faks yang dikirim untuk meminta komentar.

Pada awal bulan Maret 2019, Bank sentral Tiongkok mengatakan bahwa secara bertahap akan membentuk sistem aturan untuk mengatur teknologi keuangan dan menumbuhkan kondisi yang kondusif untuk pengembangan industri.

“Kami berharap para regulator dapat memberikan jadwal yang jelas dan pasti kepada industri, dan memberikan panduan serta harapan bagi perusahaan yang tetap tunduk pada kepatuhan,” kata Guo Yuhang dalam memo itu.

“Situasi industri menunjukkan bahwa aturan satu ukuran untuk semua situasi pasti akan mengekang bisnis yang inovatif.”

Guo Yuhang tidak berkomentar lebih lanjut ketika dihubungi oleh Reuters.

Foto: Protes peer-to-peer di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok pada tanggal1 Oktober 2018 (The Epoch Times)

Korban Penipuan Pinjaman Peer-to-Peer

Sejak bulan April 2018, ribuan platform keuangan online peer-to-peer di Tiongkok telah hancur, yang menghancurkan industri dan menyebabkan jutaan investor dalam kehancuran keuangan.

Banyak dari warga negara biasa ini, yang berinvestasi karena janji-janji pengembalian dua digit, melihat tabungan hidup mereka musnah. Dan dalam upaya untuk mengajukan banding kasus mereka ke pemerintah pusat, yang memungkinkan platform untuk tumbuh dengan sedikit pengawasan, mereka telah berulang kali dibungkam.

Perusahaan pemberi pinjaman peer-to-peer yaitu Yindou Net Peer to Peer bangkrut pada tanggal 18 Juli 2018 saat terjadi gangguan peer-to-peer baru-baru ini di Tiongkok. CEO  Yindou Net Peer to Peer telah pergi meninggalkan Tiongkok. Perusahaan Yindou Net Peer to Peer kemudian mengumumkan bahwa tidak ada satu pun utang dari 4,4 miliar yuan (sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat) yang akan dilunasi. Banyak dari sekitar 20.000 investor yang diperkirakan kehilangan tabungan hidup mereka.

Protes terhadap Yindou Net Peer to Peer pecah di Beijing, Shanghai, Zhengzhou, dan kota-kota lain di Tiongkok, tetapi dengan cepat ditekan oleh pasukan keamanan publik setempat.

Pada 17 Oktober 2018, ratusan korban berkumpul di Beijing untuk menggelar protes yang lebih besar dengan harapan menarik perhatian dan simpati dari otoritas pusat. Sebaliknya, 50 dari mereka ditangkap.

Oleh Shu Zhang. The Epoch Times berkontribusi pada laporan ini. (Vv)

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular