Erabaru.net. Ada seorang nenek tetangga sebelah, sepuluh tahun yang lalu, usianya 58 tahun.

Nenek Wang orangnya ramah dan lembut, siapa pun orang desa yang punya hajatan, nenek Wang selalu datang membantu. Karena nenekku sudah meninggal, jadi dia aku anggap seperti nenekku sendiri.

Nenek Wang memiliki 4 anak, dua laki-laki dan 2 perempuan. Tiga anaknya sudah menikah. Dan salah satu putranya yang sudah menikah memiliki anak. Sementara putra satunya lagi belum menikah, dia terlihat seperti anak yang bodoh, saat itu dia bekerja di pabrik batu bara.

Mungkin ada yang berpikir hidup nenek Wang sangat nyaman dan bahagia, punya banyak cucu. Tapi orang-orang tidak tahu bahwa anak-anak nenek Wang tidak ada satu pun yang berbakti kepadanya.

Misalnya kedua anak perempuannya, mereka jarang pulang menjenguk nenek Wang sejak menikah. Karena tinggal di kota besar, dan takut dihina oleh mertua mereka. Kedua anak perempuannya itu juga melarang nenek Wang menemui mereka di kota.

Apalagi putra sulung nenek Wang,  putra sulungnya ini menikah dengan seorang istri yang pintar tapi sombong, tidak hanya menghina keluarganya yang miskin, tetapi juga selalu menggerutu nenek Wang jorok. Awalnya selalu mengirim uang untuk nenek Wang secara rutin setiap bulan, tapi belakangan tidak lagi.

Nenek Wang sadar keluarganya miskin, dan tahu dengan kondisi putranya. Jadi, dia tidak bertanya apa-apa lagi. Dia menghidupi dirinya dan kedua cucu serta satu putranya yang bodoh dengan pekerjaan sambilan dari penduduk desa.

Daguo, putra nenek Wang yang bodoh ini sebenarnya tidaklah bodoh, hanya saja orangnya sangat lugu, jujur dan polos, dan pekerja keras. Tetapi karena karakternya ini, sehingga sering dibilang bodoh, termasuk kakak ipar perempuannya.

Daguo sebenarnya bukan anak kandung nenek Wang. Daguo adalah anak yang dipungutnya saat nenek Wang masih muda dulu. Karena iba melihat anak itu, nenek Wang kemudian mengadopsinya.

Awalnya, anak-anak nenek Wang tidak setuju nenek Wang mengadopsi anak itu, tetapi nenek Wang bersikeras dengan keputusannya dan meminta anak-anaknya agar bersikap baik pada Daguo, anak angkatnya.

Pada suatu hari, nenek Wang menangis, menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga dengan baik anak bodohnya itu. Daguo, anaknya yang lugu itu , telah pergi entah kemana

Bukan main cemas dan paniknya nenek Wang, dia mencari-cari di pelosok desa, bertanya pada tetangga, namun nihil, Daguo raib entah kemana …

Demikianlah waktu pun berlalu dengan cepat, selama sepuluh tahun sejak hilangnya Daguo, nenek Wang selalu menangis setiap mengingat putranya yang lugu itu.

Dia berpikir tidak akan pernah bisa lagi melihat Daguo. Hingga suatu hari, sebuah mobil sedan berhenti di depan pintu rumahnya.

Kebetulan Nenek Wang ada di rumah hari itu. Ketika melihat orang yang keluar dari mobil itu, nenek Wang pun seketika menangis.

Dia mengenalinya, pria paruh baya di depannya dengan setelan jas itu bukankah Daguo, putranya yang hilang selama bertahun-tahun itu ?

Daguo berlutut di hadapan nenek Wang dan membiarkan air mata nenek Wang membasahi pipinya.

Daguo mengambil sepotong handuk putih yang sudah usang dan nenek Wang kembali menangis ketika melihat handuk itu.

Ternyata sepuluh tahun silam itu, Daguo sendiri menyadari bahwa sakitnya akan menghabiskan banyak uang. Jadi, agar tidak menyusahkan nenek Wang, Daguo pun pergi dari rumah.

Dia mengemis untuk bertahan hidup, kemudian bekerja serabutan. Belakangan, dia ke kota dan bertemu dengan seseorang yang membantunya bekerja di sebuah pabrik.

Karena keuletannya dalam bekerja, kemudian dia membangun kariernya dan menjadi kontraktor kecil.

Dan handuk kecil itu, adalah pemberian nenek Wang untuknya menyeka keringat saat dia bekerja di pabrik batu bara ketika itu.(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular