Erabaru.net. Cinta itu memang unik, anak-anak muda yang dimabuk asmara terkadang lupa diri oleh yang namanya “cinta”, kemudian kehilangan kendali diri dan bahkan menyakiti orang-orang yang sangat dekat dengan mereka.

Namaku A Xiu, tinggal bersama ayah sejak kecil, dia adalah sesosok ayah sekaligus ibu bagiku, sehingga hubunganku sangat dekat dengan ayah. Bahkan sejak kecil, aku telah memikirkan kelak jika menikah harus mencari sosok pria seperti ayah.

Ibuku sudah meninggal puluhan tahun yang lalu, dan ayahku tidak pernah menikah lagi sejak kepergian ibuku. Di atas meja di samping tempat tidurnya, masih tersimpan foto pernikahan mereka. Aku tahu ayahku sangat mencintai ibu.

Di usiaku yang ke -19 ketika itu, aku menjalin cinta dengan seorang pria dari luar daerah. Orangnya baik dan gagah juga humoris. Setiap hari, selalu menghiburku dengan canda ceria yang lucu. Dan aku merasa sepertinya telah menemukan sesosok pria seperti ayah dalam dirinya.

Tak lama kemudian aku mengenalkan pacarku pada ayah. Ayah bertanya padanya apa rencananya di masa depan bersamaku. Dia tampak terbata-bata tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Kemudian, ayah saya memberi tahu banyak padanya tentang kehidupan. Setelah pulang, dia menjadi kesal dan marah padaku. Dia bilang ayahku kolot dan ketinggalan zaman.

Karena sangat mencintainya, dan dibawa pengaruhnya, perlahan-lahan aku lebih cenderung memihaknya dalam masalah cinta. Bahkan kemudian dia memintaku menikah dengannya di luar daerah, dan tanpa pikir panjang aku pun setuju dengan usulnya.

Ketika ayah mengetahuinya, dia sangat tidak setuju. Dia mengancam tidak akan mengakuiku sebagai anaknya jika aku nekat pergi dengannya.

Ayah bilang pacarku itu tidak benar-benar tulus terhadapku, memintaku harus berpikir jernih. Hingga akhirnya, aku pun putus dengan pacarku, bukan karena pacarku, tapi aku dikurung tidak boleh keluar oleh ayahku.

Setelah putus, hubunganku dengan ayah berubah drastis. Aku mulai membencinya, karena aku merasa dia telah menghancurkan cintaku.

Dua tahun kemudian, ayah membawa seorang pria bernama A Wei, anak dari keluarga penolongnya, dan memintaku jalan bersamanya.

A Wei terlihat sangat pemalu, dia selalu menunduk saat bertatapan denganku, sampai-sampai mukanya juga memerah. Aku tidak suka tipe pria seperti itu, bahkan dia adalah pemuda bisu! Aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan ayah, mengapa menyuruhku menikah dengan sosok pria bisu?

Namun, ayah tetap memilih A Wei, memaksaku menikah dengannya, bahkan mengatakan bahwa A Wei adalah pria yang paling cocok untukku. Aku pikir ayah hanya ingin membalas budi, jadi memaksaku menikah dengannya sebagai bentuk balas budinya! Bagaimanapun, ayah juga tidak peduli dengan kebahagiaanku!

Pada malam pernikahan itu, aku kabur dari rumah. Aku sudah sekali merasa kecewa saat putus dengan pacarku dulu. Kali ini, aku tidak boleh terlihat lemah lagi. Aku tidak ingin hidup dalam kendali ayah!

Empat tahun lamanya aku kabur dari rumah sejak malam pernikahan itu, dan selama empat tahun itu, aku tidak pernah menghubungi ayah juga tidak pernah pulang ke rumah.

Aku menjalani hidupku yang getir di luar sana. Perlahan-lahan wawasanku juga bertambah seiring dengan kedewasaanku, dan rasa benci terhadap ayahku juga tidak terlalu dalam lagi.

Malam itu aku bermimpi tentang ayah lagi, dalam mimpi itu, ayah memanggilku pulang, dan saat bangun, bantalku tampak basah oleh air mataku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, keesokan paginya aku naik pesawat pertama untuk pulang.

Perasaanku tak menentu sesampainya di kampung halaman, empat tahun tahun lamanya aku tak pernah menginjakkan kakiku lagi di kampung halamanku. Aku merasa asing sekaligus akrab melihat suasana kampung kelahiranku.

Tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, entah apakah ayah baik-baik saja selama ini, apakah keluarga di rumah baik-baik saja? Perasaanku berkecamuk tak menentu.

Halaman rumahku tampak sunyi, dan terlihat sangat bersih dengan deretan bunga-bunga yang tak pernah kulihat sebelumnya. Perasaanku agak lega setelah melihat suasana itu, setidaknya tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, dan masih ada orang di rumah.

Aku melihat pintu rumah tidak tertutup rapat, dan terdengar suara seorang pria yang terasa asing : “Ayah, apakah airnya panas? Beri tahu aku yah kalau panas, aku akan menambahkan air dingin.”

Perlahan aku mendorong pintu, dan pemandangan di depanku membuatku menangis seketika. Ternyata A Wei, pria bisu yang kutingalkan di malam pernikahanku itu sedang mencuci kaki ayahku.

Aku melihat air mata ayah berlinang sambil berkata : “A Wei, ayah minta maaf. Waktu itu, ayah memang bermaksud menikahkan putriku dengan kamu untuk membalas budi kebaikan ayahmu. Tapi siapa sangka, takdir berkata lain. Selama empat tahun ini kamu yang selalu merawat ayah yang lumpuh, ayah benar-benar minta maaf… “

Aku bersandar di sisi pintu dan terisak menahan tangis. Ternyata ayahku dan ayah A Wei adalah teman seperjuangan semasa muda. Ayah A Wei mengorbankan dirinya demi menyelamatkan ayah ketika melaksanakan sebuah misi ketika itu. A Wei yang mengetahui hal itu merasa sangat terpukul dan tidak bisa menerimanya, hingga akhirnya ia menjadi bisu.

Delapan belas tahun kemudian, ayah kehilangan dompetnya di jalan, kebetulan A Wei yang menemukan dompet itu, dan berdiri di sana menunggu orang yang merasa kehilangan dompet itu kembali ke tempat itu.

Saat itu, ayah merasa sangat familiar dengan sosok pemuda di depannya, tak lama kemudian baru ingat A Wei adalah putra dari kawan seperjuangannya. Setelah itu, ayah membawa A Wei pulang.

Ayah tahu persis A Wei adalah sosok pria yang baik dan dapat dipercaya, karena itulah ayah memintaku menikah dengannya.

Setelah aku kabur dari malam pernikahan itu, ayah marah-marah dan jatuh stroke saking emosinya ketika itu. Pada saat itu, tidak ada anggota keluarga lain di rumah. A Wei yang cemas dan panik, juga tidak bisa berbicara itu berusaha keras untuk berteriak, dan siapa sangka, mungkin karena saking paniknya, tiba-tiba saja dia bisa berteriak “Tolong”, dan sejak itu dia pun tidak bisu lagi.

Selama empat tahun terakhir ini A Wei lah yang merawat dan mengurus dengan tulus semua kebutuhan ayahnya. Ya Tuhan! Aku benar-benar anak durhaka, selama ini A Wei yang melakukan semua kewajibanku sebagai seorang anak mengurus ayah….

Berpikir sampai di situ, aku menutup mulutku sambil menahan tangis yang tak kuasa kubendung lagi. Aku telah menyia-nyiakan sesosok pria baik seperti A Wei, dan salah memahami maksud baik ayah ketika itu.

Aku benar-benar bodoh! Sekarang aku pulang, dan tidak tahu apakah A Wei masih bisa menerima diriku yang sekarang merasa sangat menyesal, dan apakah ayah akan memaafkan aku ?

Cinta kasih ayah bagaikan gunung, lika-liku hidup yang mereka alami jauh lebih banyak daripada kita, anak-anaknya, lebih banyak memahami daripada kita, dan lebih akurat dalam menilai seseorang daripada kita.

Mungkin ada kalanya cara penyampaian mereka membuat kamu merasa kesal, tetapi yang pasti orangtua kita tidak akan pernah menyakiti kita, anaknya!(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular