Oleh Ivan Pentchoukov

Presiden Donald Trump mengkritik General Motors pada 18 Maret 2019 lalu atas rencana perusahaan untuk menutup pabrik di Lordstown, Ohio, AS.

Selain desakan sebelumnya agar perusahaan pembuat mobil itu membuat pabrik Lordstown tetap terbuka atau menjualnya agar tetap beroperasi, presiden mendesak GM harus mempertimbangkan dengan menutup “pabrik di Tiongkok atau Meksiko.” Pada kedua negara ini, GM melakukan investasi besar-besaran sebelum Trump menjabat.

“General Motors dan UAW akan memulai ‘pembicaraan’ pada September/Oktober,” tulis Trump di Twitter, merujuk pada serikat Pekerja Auto, yang sedang bernegosiasi dengan GM.

“Kenapa tunggu, mulai [pembicaraan] sekarang! Saya ingin pekerjaan tetap di AS dan ingin Lordstown (Ohio), di salah satu ekonomi terbaik dalam sejarah kami, dibuka atau dijual ke perusahaan yang akan membukanya dengan cepat!” lanjut presiden.

“Semua perusahaan mobil kembali ke AS. Begitu juga yang lainnya. Kita sekarang memiliki Ekonomi terbaik di Dunia, yang membuat iri semua. Dapatkan pabrik besar dan indah di Ohio sekarang,” tulis Trump.

GM mengeluarkan pernyataan pada 17 Maret 2019, mengatakan bahwa masa depan fasilitas Lordstown akan diselesaikan antara GM dan United Automobile Workers (UAW). Pembuat mobil itu mengatakan memiliki “peluang yang tersedia untuk hampir semua karyawan yang terkena dampak” di pabrik yang mungkin ditutup.

Pernyataan 17 Maret perusahaan mengikuti kritik Trump pada malam yang sama. Presiden mengatakan di Twitter bahwa ia telah berbicara dengan Chief Executive GM Mary Barra tentang rencana penutupan situs Ohio, meskipun ekonomi sedang “booming.”

Desakan presiden dengan Barra mengikuti dorongan awalnya agar perusahaan bertindak “cepat” untuk menjaga pabrik tetap terbuka atau mencari pemilik baru. Trump menunjukkan bahwa Toyota berinvestasi miliaran di Amerika Serikat sementara ekonomi berjalan baik.

“HARUS BERTINDAK CEPAT,” tulis Trump di Twitter. “Waktu adalah esensi!”

Barra berada dalam daftar kandidat potensial untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden untuk Hillary Clinton, menurut email yang diretas dari kursi kampanye Clinton John Podesta dan dirilis oleh WikiLeaks . Tidak jelas apakah dia tertarik dengan rencana tersebut.

United Auto Workers mendukung Clinton untuk menjadi presiden pada tahun 2016, mengabaikan Trump setelah ia menyarankan para pembuat mobil untuk melakukan tawar-menawar dengan serikat pekerja. Serikat pekerja adalah salah satu yang terkaya di Amerika Serikat, dengan lebih dari 1 juta anggota pekerja aktif dan pensiunan.

Pabrik GM di Lordstown telah memangkas dua dari tiga shift produksi sejak 2017, yang menghilangkan 3.000 pekerjaan, membuat penurunan penjualan mobil compact yang mendukung mobil SUV. Pada November 2018, perusahaan mengumumkan rencana penutupan Lordstown dan empat pabrik lainnya, dan pemberhentian 15.000 pekerja.

Pabrik menghentikan produksi pada 6 Maret lalu. Pabrik ini adalah yang pertama dari lima pabrik GM yang dijadwalkan ditutup tahun ini. Lordstown menganggur ketika perusahaan menentukan masa depannya. Dampaknya, 1.500 pekerjaan raib.

GM mencatat, lebih dari 400 karyawan Lordstown telah menerima tawaran di lokasi GM lainnya. Pihak GM menegaskan kembali bahwa pekerjaan tersedia di pabrik perakitan lain bagi siapa pun yang mau pindah ke negara bagian lain.

Kompleks perakitan Lordstown telah memproduksi lebih dari 16 juta kendaraan sejak dibuka pada tahun 1966, termasuk hampir 2 juta mobil Chevrolet Cruze sejak 2010.

Serikat pekerja dipandang sebagai salah satu penyebab utama hilangnya pekerjaan manufaktur di Amerika Serikat sebelum Trump berkuasa. Sementara serikat awalnya membantu menengahi kesepakatan antara pekerja dan pemilik, sebagian besar akhirnya disusupi dan dikooptasi oleh elemen sayap kiri dan komunis.

Di bawah premis meningkatkan kondisi kerja, serikat pekerja telah menaikkan biaya produksi. Sebuah studi oleh Heritage Foundation menunjukkan bahwa biaya tenaga kerja yang dikenakan oleh serikat pekerja telah mempersulit pembuat mobil Amerika untuk bersaing dengan merek Jepang.

“Serikat pekerja berfungsi sebagai kartel tenaga kerja, membatasi jumlah pekerja di perusahaan atau industri untuk menaikkan upah pekerja yang tersisa,” tulis James Sherk, seorang peneliti di Heritage Foundation, dalam ringkasan penelitian.

“Seiring waktu, serikat pekerja menghancurkan pekerjaan di perusahaan yang mereka kelola dan memiliki efek yang sama pada investasi bisnis seperti halnya kenaikan 33 persen pajak penghasilan badan,” tambahnya. (asr)

Reuters berkontribusi pada laporan ini.

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular