- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Donald Trump Klaim Kelompok Teroris ISIS Akan Mati

Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan Kelompok Teroris ISIS akan segera mati. Sambil memegang peta di tangannya, Trump berkata pada 20 Maret 2019 waktu AS bahwa hanya ada ratusan pejuang ISIS yang tersisa.

“Kami menyisakan 200 orang di sana (Suriah), dan 200 orang di tempat lain di dekat Israel,” ujar Trump.

Dia menunjukkan peta yang pernah ditunjukkan pada kampanye Pemilihan Presiden, pada November 2016. Peta yang menunjukkan bahwa sebagian besar Irak dan Suriah dikendalikan oleh kelompok teroris.

“Ketika saya mengambil alih, (kawasan) itu berantakan,” kata Trump kepada wartawan di Washington.

Dia kemudian menunjukkan sebuah peta terbaru. Peta yang menunjukkan hampir tidak ada wilayah yang dikendalikan oleh ISIS.

“Tidak ada yang merah,” kata Trump.

“Ada titik kecil yang akan hilang malam ini. Ini baru keluar 20 menit yang lalu. Begitulah caranya,” sambung Trump.

Pada bulan Desember 2018, Trump mengumumkan akan menarik ribuan tentara Amerika dari Afghanistan dan Suriah. Akhir bulan lalu, Trump meminta negara-negara Eropa untuk mengambil kembali para pejuang ISIS yang telah ditangkap. Dia menambahkan bahwa mereka harus diadili.

“Amerika Serikat meminta Inggris, Prancis, Jerman, dan sekutu Eropa lainnya untuk mengambil kembali lebih dari 800 pejuang ISIS yang kami tangkap di Suriah dan mengadili mereka. Kekhalifahan siap untuk jatuh. Alternatifnya bukan yang baik karena kita akan dipaksa untuk melepaskannya,” tulis Trump.

Trump mengatakan bahwa sudah waktunya bagi negara-negara Eropa untuk melangkah dan melakukan pekerjaan yang mereka mampu lakukan. Kami menarik kembali (militer) setelah 100 persen kemenangan terhadap kekhalifahan.

Letnan Jenderal Paul LaCamera, jenderal tertinggi AS di Irak dan Suriah, mengatakan tidak jelas apa yang akan terjadi pada para pejuang ISIS yang ditangkap hidup-hidup tersebut.

“Sekarang inilah tantangan sebenarnya: jika Anda bergabung dengan ISIS, Anda menyerahkan paspor Anda, Anda menyerahkan kartu identitas Anda, Anda menyerahkan akta kelahiran Anda dan itu dihancurkan dan Anda dikeluarkan kartu ISIS. Jadi pertanyaan sebenarnya adalah, bukan hanya para tahanan, apa yang akan kita lakukan dengan orang-orang tanpa kewarganegaraan ini?” Kata LaCamera kepada wartawan.

“Ini bukan hanya tahanan. Mereka yang telah dipindahkan oleh ISIS atau tidak memiliki identitas. Bagaimana kita akan menghadapinya? Anda tahu, akankah Irak mengambilnya? Dan lagi, jika Anda seorang pengungsi, Anda tidak dapat memaksa mereka kembali, bukan?” Tambah LaCamera.

Menurut Reuters, dalam pembaruan pada 20 Maret, operasi untuk mengambil kantong ISIS terakhir di Suriah timur tampak hampir berakhir pada hari Rabu (20/3/2019).

Wartawan Reuters yang memantau Baghouz dari sebuah bukit di tepi sungai Efrat di perbatasan Irak mengatakan daerah itu sangat tenang. Milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) tengah menyisir terowongan dan ranjau darat, menurut seorang pejabat SDF.

SDF pada hari Selasa menemukan sebuah perkemahan di mana para jihadis telah memasang benteng pertahanan terakhir yang sangat kecil. Mereka mendorong para pejuang yang akan bertempur sampai mati itu ke sebuah tanah lapang di tepi sungai Efrat.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drain, yang negaranya telah berpartisipasi dalam operasi militer berharap pengumuman tentang ‘kekalahan teritorial terakhir ISIS’ akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan.

Tidak ada pembaruan dari SDF pada hari Rabu, tentang nasib para militan yang tersisa ini. Sekelompok perempuan dan anak-anak terlihat dievakuasi dari daerah Baghouz.

Reuters mencatat bahwa beberapa pejuang ISIS tetap bersembunyi di gurun pasir di Suriah tengah. Sebagian lainnya telah bergerak di bawah tanah, di kota-kota Irak untuk melakukan kampanye pemberontak untuk menggoyahkan pemerintah.

Selama dua bulan terakhir, sekitar 60.000 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, mengungsi dari menyusutnya wilayah ISIS, menurut SDF. Mantan penduduk ISIS mengatakan kepada Reuters, bahwa kebanyakan dari mereka adalah keluarga Muslim Sunni Arab Irak. Mereka menyeberang ke Suriah ketika melarikan diri dari balas dendam oleh milisi Muslim Syiah, yang didukung Iran, yang telah membanjiri kota-kota mereka.

SDF mengatakan bahwa di antara warga sipil yang melarikan diri adalah beberapa korban ISIS. Seperti wanita yang diperbudak dari komunitas agama Yazidi di Irak.

SDF memperkirakan sedikitnya 5.000 pejuang ISIS memilih menyerah hidup-hidup. Dalam beberapa hari terakhir, ketika daerah kantong ISIS menyusut, SDF mengatakan ratusan dari mereka mulai menyerah, atau ditangkap ketika mencoba melarikan diri.

Sebagian besar wanita dan anak-anak yang ditahan dipindahkan ke kamp-kamp pengungsian di timur laut Suriah. Para milisi dibawa ke penjara keamanan, tetapi SDF telah mendesak negara-negara asing untuk mengambil kembali warganya. Situasi yang menyebabkan dilema bagi beberapa negara Barat, yang menganggap mereka sebagai ancaman. Mereka berpotensi melakukan serangan terorisme di masa depan. (JACK PHILLIPS dan Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak Juga :