oleh Xiao Jing

Nota kesepakatan tentang proyek One Belt One Road (OBOR) yang ditandatangani antara Tiongkok dengan Italia telah menimbulkan kekhawatiran Amerika Serikat.

AS pernah memberitahu pemerintah Italia untuk tidak mendukung “proyek terapung” komunis Tiongkok itu. Beberapa hari yang lalu, seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa pemerintah Italia telah menghapus seluruh konten masalah teknis dan komunikasi dalam perjanjian OBOR.

The New York Times melaporkan pada 19 Maret lalu bahwa ambisi global komunis Tiongkok semakin memicu kewaspadaan negara Barat. Amerika Serikat menganggap inisiatip OBOR Tiongkok sebagai potensi ancaman terhadap ekonomi dan militer. Sedangkan negara-negara anggota Uni Eropa seperti Prancis dan Jerman juga keberatan dengan proyek OBOR.

Gedung Putih telah mendesak pemerintah Italia untuk menghindari penggunaan teknologi jaringan 5G Huawei. AS memperingatkan pemerintah Tiongkok dapat menggunakan perangkat (Huawei) untuk mengganggu dan diam-diam memantau jaringan komunikasi. Jika tetap membeli peralatan Huawei, maka AS tidak akan membagikan informasi intelijen yang sensitif kepada Italia.

Laporan mengutip ucapan sumber yang memahami masalah ini mengatakan bahwa Italia telah menghapus semua konten mengenai hal teknis dan komunikasi dari perjanjian OBOR.

Pada Kamis (21/3/2019), Xi Jinping tiba di Roma, Italia. Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dalam seminar kebijakan luar negeri yang diadakan pada 8 Maret lalu telah mengkonfirmasikan bahwa Italia bermaksud menandatangani nota kesepahaman dengan komunis Tiongkok untuk bergabung dalam proyek OBOR Beijing.

Giuseppe Conte mengungkapkan bahwa ia juga bermaksud untuk mengunjungi Beijing pada bulan April mendatang. Kunjungan ini dalam rangka berpartisipasi dalam forum tingkat tinggi kerjasama internasional OBOR kedua.

Menanggapi ucapan Giuseppe Conte, Garrett Marquis, juru bicara Keamanan Nasional Gedung Putih melalui pesan Twitter pada 9 Maret menyebutkan bahwa Italia adalah salah satu tujuan ekonomi dan investasi utama dunia, tetapi pemerintah Italia tidak perlu mendukung “proyek terapung” milik komunis Tiongkok.

Sebelumnya, Garrett Marquis mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Financial Times bahwa partisipasi dalam pembangunan infrastruktur OBOR akan merusak citra internasional Italia.

Bahkan, internal pemerintahan juga terjadi perdebatan sengit bergabungnya Italia dengan inisiatif OBOR Tiongkok. Wakil Menlu Italia Guglielmo Picchi pada 6 Maret lalu mengatakan bahwa, sekarang bukan saatnya bagi Italia untuk menandatangani MOU mengenai rencana pembangunan infrastruktur OBOR dengan komunis Tiongkok.

Lucio Caracciolo, kepala majalah geopolitik terkenal Italia ‘Limes’ berpendapat bahwa penandatanganan MOU untuk kerjasama OBOR antara Roma dengan komunis Tiongkok sama sekali tidak mempertimbangkan risiko geopolitik. Apalagi, tidak bernegosiasi terlebih dahulu dengan mitra Barat. Sikap ini, bagi Lucio adalah meremehkan kekhawatiran dunia luar tentang ambisi global komunis Tiongkok.

Menurut Lucio, dikhawatirkan langkah Roma pada akhirnya akan menyebabkan dua sisi ketidaknyamanan Italia, yaitu, tidak memperoleh manfaat nyata dari proyek OBOR. Sedangkan Amerika Serikat akan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan karena Italia dan Tiongkok “berjalan terlalu dekat.”

Uni Eropa makin waspada terhadap komunis Tiongkok, Huawei menemui banyak hambatan

Eropa saat ini merupakan pasar terbesar di luar Tiongkok bagi Huawei. Namun, karena Amerika Serikat mendesak sekutunya untuk tidak menggunakan produk Huawei. Ini setelah diperingatkan bahwa perangkat ini dapat menyebabkan agen intelijen negara komunis itu terlibat dalam kegiatan spionase. Maka beberapa negara Barat sudah mempertimbangkan untuk membatasi masuknya Huawei ke pasar konstruksi jaringan 5G di negara mereka.

Akhir-akhir ini, Uni Eropa menjadi lebih peduli terhadap risiko mata-mata Huawei. Komisi Eropa sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan larangan praktis terhadap peralatan jaringan 5G Huawei.

Pada 12 Maret lalu Uni Eropa mengeluarkan sebuah laporan tentang ‘Prospek Strategis Eropa – Tiongkok’ yang bernada cukup tegas. Dilaporkan bahwa Uni Eropa telah menyesuaikan kembali strategi UE – Tiongkok dengan sikap yang keras.

Beberapa analis percaya bahwa ini menunjukkan sikap Uni Eropa terhadap komunis Tiongkok yang telah diubah dari statusnya ‘mitra dagang terbesar’ yang sudah berjalan bertahun-tahun, menjadi negara perlu diwaspadai dan lebih defensif terhadapnya.

Media Jerman ‘Handelsblatt’ bulan lalu melaporkan bahwa perusahaan telekomunikasi utama Jerman, Deutsche Telekom dan Telefonica Jerman, sedang mempersiapkan kemungkinan untuk tidak menyertakan Huawei dalam pembangunan infrastruktur jaringan 5G Jerman.

Menurut laporan itu, pemerintah federal Jerman percaya bahwa perusahaan operator Jerman akan secara sukarela menghindari penggunaan teknologi 5G Huawei karena tekanan politik dan risiko keamanan saat ini.

Badan intelijen Norwegia dan Layanan Keamanan Polisi (Politiets sikkerhetstjeneste-PST), pada awal Februari lalu mengeluarkan laporan tahunan mengenai penilaian ancaman di negara itu. Intelijen Norwegia mengutuk komunis Tiongkok mencuri rahasia negara itu dan menyerukan pemerintah untuk mewaspadai Huawei.

Pada 18 Januari lalu, Dinas Perkeretaapian Denmark ‘Banedanmark’ yang berada di bawah Kementerian Transportasi Denmark telah membatalkan kontrak kerja sama pemasangan jaringan dengan mitra terbesar Huawei di Denmark ‘NetNordic.’ Alasannya,  karena keamanan siber. Padahal kontrak yang pekerjaannya akan berlangsung selama 6 tahun ini baru saja ditandatangani pada bulan Nopember tahun lalu.

Pada 14 Januari lalu, Badan Keamanan Nasional Polandia menangkap Wang Weijing, seorang direktur senior perusahaan Huawei di Polandia karena dicurigai melakukan kegiatan spionase.  Kejadian ini telah memperburuk kekhawatiran global bahwa Huawei dapat digunakan sebagai alat spionase global oleh komunis Tiongkok. (Sin/asr)

Video rekomendasi : 

Share

Video Popular