Erabaru.net. Istri Zhang Feng menderita kanker lambung yang parah. Dokter mengatakan istrinya harus segera dioperasi, jika tidak akan mengancam nyawanya. Namun, biaya operasi yang tinggi membuat sesak Zhang Feng.

Ia telah menghemat semaksimal mungkin, tetapi uang yang bisa dikumpulkan juga masih jauh dari kata cukup, meski telah berusaha meminjam pada teman dan kerabat dekatnya juga. Zhang Feng benar-benar tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

Zhang Feng menjaga istrinya di sisi tempat tidur, dia benar-benar sedih menatap istrinya yang lemah itu. Tepat pada saat itu, Zhang Feng ingat adik laki-lakinya Zhang Le yang lumayan kaya di kota. Zhang Feng bermaksud meminjam uang pada adiknya itu, tetapi ia selalu merasa bimbang.

Zhang Le adalah adik kandung Zhang Feng, tetapi sudah sepuluh tahun lamanya keduanya tak pernah mengadakan kontak. Sementara orangtua mereka sudah lama meninggal.

Sebagai kakak, Zhang Feng mengambil alih kewajiban keluarga, ia membesarkan adiknya dan membiayai kuliahnya dengan susah payah hingga lulus sarjana.

Namun, setelah lulus, Zhang Le bukannya mencari pekerjaan seperti yang dipikirkan Zhang Feng. Adiknya malah menikah dengan seorang putri dari keluarga berada, dan menjadi menantu keluarga kaya itu.

Zhang Feng sangat marah ketika mendengar kabar itu, dia tidak menyangka adiknya yang dibesarkan dan disekolahkan dengan susah payah menjadi pecundang/hidup bergantung pada perempuan.

Zhang Feng benar-benar sangat kecewa terhadap Zhang Le. Belakangan, ia tidak peduli lagi dengan adiknya. Lalu ia menikah membangun sebuah keluarga sederhana.

Meskipun adiknya datang pada hari pernikahannya dan memberi Rp 100 juta, tetapi Zhang Feng tidak mau menerima pemberian adiknya itu, dan mengancam akan memutuskan hubungan saudara dengan Zhang Le, adiknya.

Berawal dari sinilah keduanya pun putus dan tak pernah berhubungan lagi hingga sepuluh tahun lamanya.

Sudah bertahun-tahun lamanya tak bertemu, pasti ada jarak di antara kedua bersaudara itu. Meskipun Zhang Feng khawatir adiknya akan bersikap dingin atau bahkan menutup pintu rapat-rapat untuk tidak menemuinya, tapi ia tak bisa membiarkan istrinya pergi begitu saja hanya karena demi harga diri. Akhirnya, Zhang Feng nekat menemui adiknya untuk meminjam uang.

Zhang Feng duduk diam dalam kereta yang membawanya ke kota sambil merenung. Akhirnya dia tiba di rumah adiknya, dan saat mengetuk pintu, kebetulan Zhang Le adiknya yang membukakan pintu.

Ketika melihat kakaknya, Zhang le seketika menyambutnya dengan gembira dan mengajaknya masuk ke rumah. Ketika Zhang Feng masuk, ia melihat adik iparnya memandangnya dengan masam, Zhang Feng sadar dia adalah tamu yang tak diundang, dia pun segera mengatakan maksud kedatangannya.
  
Namun, tak disangka muka adiknya seketika berubah mendengar maksud kedatangan kakaknya, dan berkata kepadanya: “Kak, sekali pinjam kau langsung minta Rp 100 juta, aku tidak punya uang tunai sebanyak itu di rumah. Begini saja, kakak datang lagi nanti saat aku punya uang seperti yang kakak minta ? “

Zhang Feng tahu adiknya tidak mau meminjamkan uang padanya, jadi dia pun langsung bangkit dari duduknya dan ingin pulang.

Namun adiknya kemudian berkata,: “Kak kenapa buru-buru, aku punya banyak barang yang tak kupakai. Aku tahu kakak miskin, mungkin barang-barang ini berguna untuk kakak di rumah!”

Zhang Le berjalan ke kamarnya, kemudian keluar lagi sambil menenteng sesuatu seperti kantong sampah dan diberikan kepada kakaknya.

Zhang Feng merasa harga dirinya seperti diinjak-injak, dan ingin marah, tetapi dia berusaha bersabar dan menahan gejolak emosinya yang hampir meledak. Dia bergegas pergi dengan kesal sambil menenteng kantong sampah berisi barang barang bekas dari adiknya.

Sesampainya di rumah, Zhang Feng memandangi anaknya yang masih kecil dan istrinya yang terbaring sakit.

Terbayang kata-kata adiknya, dia pun tak bisa menahan emosinya lagi langsung membanting kantong dari adiknya itu hingga barang-barang dari dalamnya pun jatuh berceceran.

Di antara barang-barang yang berceceran itu, Zhang Feng seperti melihat sebuah amplop, ia membukanya dan termangu seketika saat melihat sebuah kartu ATM dan sepucuk surat di dalamnya, surat itu berbunyi :


“Kak, ada Rp 100 juta dalam kartu ini yang aku siapkan pada saat kakak menikah ketika itu, namun, kakak menolaknya, tapi aku terus menyimpannya. Kata sandinya adalah hari ulang tahun kakak, gunakanlah uang itu untuk mengobati kakak ipar!

“Aku harap kakak jangan ambil hati dengan ucapanku di rumah tadi, sebenarnya ucapanku itu aku tujukan untuk istriku. Sudah bertahun-tahun lamanya, aku tahu kakak selalu menyalahkan aku karena menjadi menantu keluarga berada, tapi aku juga tak berdaya kak, karena sejak lulus sarjana tidak kudapatkan pekerjaan yang baik.

“Jika tidak punya pekerjaan yang bagus, ini berarti aku akan sulit bagiku kelak untuk bisa memiliki rumah, mobil, dan istri. Sehubungan dengan itu, aku tahu kakak pasti akan membantuku lagi, namun, kakak telah banyak berkorban untukku, dan aku tak ingin menunda kebahagiaan kakak sendiri, jadi aku terpaksa menjalani hidupku seperti itu. Kak, jika kakak memaafkan aku, nanti kalau ada waktu kita ngobrol ya!”

Zhang Feng yang selalu tegar itu pun tak kuasa menahan linangan air matanya lagi setelah membaca isu surat adiknya. Ternyata apa yang dliakukan adiknya itu semua hanya demi dirinya. Zhang Feng mengirim pesan pendek kepada adiknya : “Persaudaraan seumur hidup yang tak pernah pudar !”(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular