oleh Li Yun

Operasi pengawasan komunis Tiongkok terhadap rakyatnya telah diperluas sampai ke institusi pendidikan di seluruh daratan Tiongkok. Survei media AS menemukan adanya fungsi yang lebih mengerikan daripada perangkat ‘Eye in the sky’.

Komunis Tiongkok telah menggunakan “borgol elektronik” ini untuk mengumpulkan data kehidupan sehari-hari para siswa dalam skala besar. Ini  merupakan pelanggaran serius terhadap privasi siswa.

Pada awal bulan Maret, SMP Guangya, sebuah sekolah yang bergengsi di Porvinsi Guangdong, Tiongkok, membeli 3.500 buah gelang pintar secara online untuk dikenakan kepada para siswanya. Namun, ditemukan oleh dunia luar bahwa gelang pintar yang dibeli sekolahan ini tidak berbeda dengan gelang pintar yang dikenakan kepada para tahanan ringan/tahanan luar demi memudahkan pemantauan oleh pihak berwenang.

Gelang pintar ini tidak hanya memiliki fungsi pemantauan posisi GPS, merekam detak jantung siswa dan berjalan, tetapi juga mengunggah data yang direkam ke platform cloud milik sekolah. Inisiatif sekolah ini telah menimbulkan kontroversi para siswa dan orangtua, termasuk kebutuhan untuk mengumpulkan data, keamanan, dan pelanggaran serius terhadap privasi siswa.

Survei Radio Free Asia menemukan bahwa SMP Guangya mengharuskan siswa mengenakan gelang pintar itu hanyalah bagian kecil dari sebuag gunung es. Di kota Beijing, Guangzhou dan Zhejiang, siswa siswi sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah menengah kejuruan dan universitas di sana diwajibkan untuk mengenakan gelang pintar. Pemasoknya adalah sejumlah perusahaan teknologi di Daratan.

Salah satu perusahaan teknologi yang bernama ‘Ruijie’ memperkenalkan lewat internet kasus-kasus sukses menggunakan gelang pintar, termasuk Sekolah Menengah Guangzhou Zhenguang yang sudah berusia lebih dari 100 tahun dan Sekolah Dasar No. 1 Nangong di Provinsi Hebei, dan lainnya.

Gelang pintar yang disebutkan di atastersedia di pasar, seperti di platform Taobao dan platform online lainnya, harganya berkisar antara RMB. 200 hingga 1.000 RMB.

Namun, menurut situs web perusahaan teknologi yang relevan bahwa gelang pintar yang dibeli oleh sekolah, dilengkapi dengan build-in sensor.  Stasiun pangkalan jaringan yang dibangun di sekolah, sehingga memiliki fungsi yang berlipat ganda untuk mengimbangi “sistem berjalan” sekolahan.

Misalnya, dapat secara akurat memantau masuk keluarnya siswa ke atau dari kampus, memberikan statistik kehadiran siswa, merekam data olahraga, data tidur dan lain-lain. Bahkan berlaku sebagai absensi kelas, memantau dan mencatat jumlah mengangkat tangan siswa, frekuensi detak jantung. Ini termasuk mengirim peringatan kepada pihak sekolah dalam waktu hitungan detik.

Namun, tidak sedikit sekolah menggunakan data yang relevan untuk memberikan penilaian soal penghargaan dan hukuman, yang menunjukkan bahwa itu bukan statistik tunggal.

Pemantauan yang lebih mengerikan dibanding dengan perangkat ‘Eye in the sky’

Pakar Networking, Zhou Shuguang mengatakan bahwa teknologi gelang pintar telah kian matang dalam beberapa tahun terakhir. Hingga semakin banyak sekolah yang menggunakannya.

Melalui gelang untuk mencatat posisi siswa, rute perjalanan, detak jantung dan kondisi tidur, siswa termonitor selama 24 jam sehari. Data ini dapat sepenuhnya digunakan untuk memulihkan seluruh aktivitas harian siswa, tidak ada privasi sama sekali, semua aktivitas terpantau.

Menurut Zhou Shuguang, penggunaan gelang pintar untuk memantau siswa lebih akurat  dibandingkan dengan pemantauan lewat jaringan kamera atau pemantauan catatan obrolan online. Alat ini merupakan alat pemantauan yang bertingkat lebih tinggi daripada perangkat ‘Eye in the sky’.

Pihak sekolah dapat mengikuti jumlah gerakan gelang, atau detak jantung, atau posisi rumah, untuk mengembalikan adegan (replay) aktivitas siswa. Pemantauan berupa ke mana saja siswa yang bersangkutan pergi, naik tangga sampai beberapa lantai, apa saja yang dimakan. Hal yang bisa dipantau lainnya adalah apa saja latihan olahraganya an kondisi fisik siswa. Bahkan privasi siswa di dalam kamar tidur hingga di toilet pun dapat dipantau.

Zhou Shuguang menggambarkannya sebagai pemantauan komprehensif siswa yang lebih mengerikan daripada perangkat pengenalan wajah dan pemantauan dari ‘Eye in the sky’.

Dia mengatakan bahwa pengawasan melalui jaringan dan pemantauan lewat kamera di ‘Eye in the sky’, dan pemantauan pengenalan wajah sudah cukup mengerikan, ditambah lagi dengan  pemantauan siswa yang komprehensif seperti itu. Sungguh-sungguh sangat mengerikan, Tidak perlu menyerahkan begitu banyak data untuk pihak sekolah atau untuk pemerintah.

Selain fungsi yang disebutkan di atas, “Sistem Manajemen Perilaku Kelas Cerdas” yang digunakan oleh Sekolah Menengah No. 11 Kota Hangzhou, Tiongkok tahun lalu memanfaatkan teknologi pengenalan wajah untuk menganalisis perilaku siswa dalam kelas.

Pemasok sistem ini juga memasok perangkat sistem pemantauan yang sedang dipakai di “kamp pendidikan ulang’  Xinjiang, buatan ‘Hangzhou Hikvision Digital Technology Co., Ltd.’ perusahaan tersebut yang telah mendapat perhatian internasional.

Jika melihat dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan komunis Tiongkok, ditemukan bahwa sebuah rencana pemantauan rakyat secarah menyeluruh bisa jadi melatarbelakangi tindakan ini.

Menurut ‘Rencana Lima Tahun Ketiga Belas untuk Pengembangan Pendidikan Nasional Rencana Lima Tahun ke-13’ yang dikeluarkan oleh Dewan Negara Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 2017.

Sangat jelas diusulkan bahwa untuk mempercepat pembangunan dan berbagi data besar pendidikan secara terbuka, yaitu, untuk secara komprehensif memanfaatkan teknologi seperti platform cloud, big data, kecerdasan buatan untuk membangun “kampus digital” serta “kampus cerdas”, membangun jaringan nirkabel dengan cakupan menyeluruh, termasuk sekolah-sekolah yang berada di tempat terpencil di pegunungan dan di pedesaan.

Selain itu, menurut ‘Pedoman untuk Pembangunan Pendidikan Cerdas di Sekolah Dasar dan Menengah’ yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Provinsi Guangdong, disebutkan bahwa penggunaan ponsel pintar, dilengkapi alat sensor yang dapat dipakai untuk menghubungi kampus.

Ada juga perusahaan teknologi yang mendistribusikan gelang pintar ke sekolah-sekolah pedesaan dan anak-anak tertinggal secara cuma-cuma.

Menurut Dokumen Interpretasi dari ‘Standar Kampus Digital untuk Sekolah Dasar dan Menengah (Percobaan)’ yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan tahun lalu,  disebutkan ada 351 sekolah SD dan SMP di setiap propinsi telah ditunjuk untuk masuk dalam batch pertama proyek pilot pelaksaan “kampus digital” dan “kampus pintar”.

Setelah data dianalisis, tidak hanya siswa dan sekolah, pihak pemasok dan pengguna lainnya dapat memperoleh data yang relevan.

Hal ini membuat orang berpikir, apa tujuan di baliknya ?

Wang Songlian, seorang peneliti senior di Human Rights Watch Asia menilai pihak sekolah menghendaki siswa menggunakan model operasi gelang pintar sejalan dengan  pemikiran kontrol pemerintah Tiongkok serta memperluas pengontrolan sampai ke dalam kampus cukup mengkhawatirkan.

Sesungguhnya cara pemantauan semacam ini telah melanggar prinsip HAM. Siswa daratan Tiongkok terpaksa bak menjadi daging di atas talenan yang menanti diolah menjadi apapun. (Sin/asr)

Share

Video Popular